MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 9 Oktober 2020

Renungan Pagi

KJ. 446 : 1 – Berdoa

SETIA SAMPAI AKHIR

Kisah Para Rasul 20 : 22 – 24

Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku… (ay. 24)

Menyelesaikan setiap tugas sampai akhir merupakan impian setiap orang. Ada kepuasan diri, jika dapat menyelesaikan dengan baik setiap tugas yang diberikan. Namun demikian, harapan untuk menyelesaikan tugas sampai akhir, kadang bisa tidak tercapai. Mengapa? Karena banyak faktor yang membuat diri tidak mampu melanjutkan tugas tersebut sampai akhir. Tugas berhenti atau stop di tengah jalan.
 
Paulus berkerinduan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan Tuhan Yesus kepadanya. Paulus ingin mencapai garis akhir dalam menyelesaikan tugas pelayanannya. Paulus tidak gentar dan takut walau nyawa menjadi taruhannya. Paulus justru takut, jika dia tidak dapat menyelesaikan tugas pelayanan yang diberikan oleh Tuhan Yesus dalam memberitakan Injil (ay.24).
 
Tekad dan impian Paulus menjadi semangat dalam dirinya untuk setia dan tekun menjalankan tugas panggilannya. Semangat inilah yang membuat Paulus mampu melewati setiap persoalan dan tantangan pelayanan. Paulus tidak kendor dan lemah. Semangat untuk menyelesaikan tugas sampai garis akhir membuat Paulus semakin teguh dan tegar. Tidak ada istilah menyerah.
 
Tekad yang menjadi semangat Paulus hendaklah menjadi teladan bagi kita. Tak ada tugas yang tidak mempunyai risiko. Namun demikian dengan tekad dan semangat, kita dapat bertahan menghadapi setiap tantangan dan risiko. Melewati setiap risiko dan tantangan akan membuat kita mencapai “garis akhir”. Menyelesaikan setiap tugas dengan baik memberikan sukacita besar. Semua keletihan melewati risiko dan tantangan akan lenyap, ketika tugas diselesaikan sampai akhir dengan baik. Pagi ini milikilah tekad untuk menyelesaikan setiap tugas sampai akhir, apa pun risiko dan tantangannya. Berdoalah kepada Tuhan Yesus untuk menopang dan menyertai.

KJ. 446 : 4

Doa : (Ya Tuhan, mohon mampukan kami untuk setia sampai melaksanakan setiap tugas dan tanggung-jawab yang Engkau percayakan)

MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 9 Oktober 2020

Renungan Malam

KJ. 357 : 1, 2 – Berdoa

BERTANGGUNG-JAWAB MELANJUTKAN PELAYANAN

Kisah Para Rasul 20 : 25 – 28

Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pemilik untuk menggembalakan jemaat Allah… (ay. 28)

Paulus merasa sudah waktunya untuk meninggalkan dan menyerahkan tugas pelayanannya kepada penerusnya di Efesus. Hal ini disampaikan Paulus dalam kata perpisahan dengan para penatua dari Efesus di Meletus. Paulus berpesan, agar mereka menjaga diri dan melanjutkan tugas pemeliharaan jemaat (kawanan domba Tuhan) dalam persekutuan yang telah dibangun. Para penatua harus menjadi penilik jemaat yang bertanggung-jawab menggembalakan jemaat Allah di Efesus. Jemaat yang ditebus Allah dengan darah anak-Nya sendiri (ay.28).
 
Tugas melanjutkan menjaga dan memelihara jemaat menjadi tugas yang serius. Paulus tidak ingin jemaat yang telah dibangun menjadi terbengkalai karena tidak dijaga maupun digembalakan dengan benar dan baik. Perlu perhatian dan penanganan yang serius dari setiap penatua selaku penilik jemaat.
 
Panggilan pelayanan juga diberikan kepada kita. Ada tugas pelayanan yang menjadi tanggung-jawab kita. Panggilan pelayanan tidak hanya dalam persekutuan jemaat. Panggilan pelayanan ada dalam lingkup keluarga. Mereka merupakan bagian dari persekutuan keluarga Allah. Ayah, ibu dan anak-anak merupakan keluarga yang Allah anugerahkan. Keluarga ini perlu dijaga dan dipelihara, karena menjadi modal bagi pertumbuhan persekutuan jemaat-Nya. Selaku kepala keluarga maupun orangtua, kita wajib menjadi teladan bagi setiap anggota keluarga. Teladan yang memberikan contoh baik. Teladan yang memelihara iman setiap anggota keluarga. Teladan yang menjadikan keluarga tempat pembentukan karakter. Keluarga sebagai pusat kegiatan setiap anggotanya dalam menjalankan hidup sehari-hari. Keluarga menjadi tempat pertemuan dan curahan kasih sayang bagi seisi rumah. Keluarga seperti ini akan menjadi pengikat dan perangkai kaum kerabat yang lain dalam persekutuan. Dengan demikian terbangun persekutuan yang kuat karena dimulai dari setiap keluarga.

KJ. 357 : 3, 4

Doa : (Bapa, mohon mampukan kami untuk bertanggung-jawab meneruskan tugas pelayanan dan kesaksian ini) 

Scroll to Top