HARI MINGGU XIX SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 9 Oktober 2021

Renungan Pagi

KJ. 457 : 1 – Berdoa

TIDAK GOYAH MENGHADAPI DAKWAAN

Kisah Para Rasul 24 : 1 – 21

Namun biarlah orang-orang yang hadir di sini sekarang menyatakan kejahatan apakah yang mereka dapati, ketika aku dihadapkan di Mahkamah Agung (ay. 20)

Orang yang sangat membenci kita tidak akan berarti, jika belum melihat kita binasa. Segala upaya dan cara dilakukan, agar dapat menjadikan kita terhukum. Hal ini pernah dialami oleh BTP. Para pembencinya berupaya mencari cara untuk memenjarakan. Mereka menggunakan sentimen agama; menuduh BTP sebagai penista agama, sehingga layak dihukum. BTP telah bersaksi; membela diri, tetapi ia akhirnya dipenjara. Keadilan tidak berpihak kepadanya. Ia menjalani masa hukumannya dengan rela. Ia menyerahkan semua orang yang mendakwanya kepada Tuhan. BTP sudah bebas dan kembali berkarya.

Lima hari sesudah Paulus tiba di Kaisarea, Imam Besar dan beberapa tua tua didampingi seorang pengacara pun tiba. Sidang diadakan. Paulus dihadapkan dan pengacara mereka mengemu-kakan dakwaan. Paulus disebut penyakit sampar, pengacau orang Yahudi, tokoh sekte Nasrani dan penista Bait Allah. Semua orang Yahudi membenarkan dakwaan tersebut. Mereka telah menghukumnya menurut hukum Yahudi, tetapi diselamatkan oleh kepala pasukan, Lisias. Wali negeri Felix tidak mau mendengar sepihak. Ia memberi kesempatan bagi Paulus membela diri. Paulus mengulang apa yang pernah dikatakannya, bahwa ia tidak pernah bertengkar; tak melakukan huru hara di Bait Allah atau di mana pun di Yerusalem. Ia hanya berbakti kepada Allah. Ia penganut jalan Allah, percaya kepada Hukum Taurat dan Kitab para Nabi, berpengharapan akan kebangkitan orang mati, serta hidup dengan hati nurani yang murni. Dengan berani Paulus menantang Imam Besar dan tua-tua membuktikan kesalahannya di hadapan wali negeri.

Jika Allah bersama kita, maka dalam keadaan ditantang, kuasa-Nya memberi keberanian bagi kita untuk menyatakan pembelaan. Oleh karena itu, jangan mau dibungkamkan oleh kebencian manusia siapa pun. Kalau benar, katakan benar.

KJ. 457 : 3, 4

Doa : (Ya Allah, mohon berilah kami kuasa-Mu, agar berani menyatakan yang benar sekalipun menghadapi kebencian dari orang lain)

HARI MINGGU XIX SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 9 Oktober 2021

Renungan Malam

GB. 269 : 1,2 – Berdoa

TETAP BERSAKSI, MESKI DIPENJARA

Kisah Para Rasul 24 : 22 – 27

Lalu ia menyuruh perwira itu tetap menahan Paulus, tetapi dengan tahanan ringan, dan tidak boleh mencegah sahabat-sahabatnya melayani dia (ay. 23)

Keadailan terkadang tidak berpihak kepada orang-orang kecil atau kelompok kecil di dalam masyarakat. Para penegak hukum dan penjaga keadilan memiliki agenda tersembunyi, sehingga bisa menunda persidangann atau menjatuhkan keputusan yang cenderung menciderai rasa keadilan.

Felix telah mendengar dakwaan pengacara Imam Besar Ananias; juga pembelaan Paulus. Tidak ada bukti kesalahan Paulus yang membuatnya harus terus ditahan. Menurut hukum Romawi, mestinya Felix memutuskan Paulus bebas, namun Felix tidak melakukannya. Ia bahkan justru menghentikan siding tanpa keputusan. Alasannya, ia masih buutuh keterangan dari kepla pasukan, Lisias. Padahal semua hal telah disampaikan Lisias di dalam suratnya. Paulus tetap ditahan dengan tahanan ringan, sehingga orang-orang Kristen di Kaisarea bisa mengunjunginya.

Apa sesungguhnya agenda tersembunyi Felix? Ada beberapa kemungkinan. Pertama, Felix tidak ingin menyakiti hati Imam Besar, Majelis Agama dan orang-orang Yahudi. Hal itu berbahaya bagi kedudukannya. Konflik mereka dengan Paulus dibiarkan tetap terbuka. Kedua, sebagai seorang yang tahu tentang Jalan Tuhan, Felix dan isterinya ingin mengetahui lebih dalam tentang kepercayaan kepada Yesus Kristus. Ketiga, Felix berharap mendapat imabalan dari Paulus. Karena itu ia selalu memanggil Paulus untuk bercakap dengannya. Dua tahun Felix menggangtung perkara itu sampai ia digantikan oleh Perkius Festus. Paulus tetap dipenjara oleh Festus demi simpati orang Yahudi.

Meski di penjara, Paulus tetap memberitakan tentang Yesus Kristus kepada Felix dan isterinya serta semua orang istana. Ia mengajar tentang kebenaran, penguasaan diri dan penghakiman terakhir. Ia berharap Felix bertobat dan melakukan yang baik dan benar. Biarlah kita juga seperti Paulus. Meski dalam keadaan susah, kita tetap memberiatakan Injil Yesus Kristus.

GB. 269 : 3, 4

Doa:  (Tuhan, mohon berilah kuasa-Mu, agar kami tetap memberitakan Injil dengan setia, walau susah)

Scroll to Top