HARI MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 8 November 2020

Renungan Pagi

GB. 190 : 1, 2 – Berdoa

KETELADANAN MUSA : MENJADI GEMBALA DAN PELAYAN YANG TAAT

Imamat 8 : 1 – 30

“Musa melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya…” (ay. 4)

Ada sebuah lagu dalam buku Gita Bakti yang digubah oleh Vikaris GPIB Angkatan 2012 berjudul “KAMU YANG DIPILIH”. Dalam bait 2, sepenggal syair berbunyi “Kamu yang dipanggil, kamu diurapi jadilah pelayan bagi Tuhanmu”. Bagi saya, kalimat ini hendak menegaskan, bahwa sebagai seorang pelayan, yang harus diperhatikan dan dilaksanakan dengan sungguh adalah kehendak dan perintah Tuhan, BUKAN keinginan diri sendiri.
 
Perikop pembacaan hari ini merupakan bagian kisah penahbisan Harun dan anak-anaknya sebagai imam bagi umat Israel. Dalam kisah ini, ada serangkaian proses yang harus diikuti oleh Harun dan anak-anaknya agar mereka layak memangku jabatan selaku imam. Proses itu dipimpin oleh Musa, saudaranya. Perlu diperhatikan, bahwa semua yang la lakukan dalam proses itu dicatat oleh penulis sebagai “Musa melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya” (ay.4). Hal itu diakui oleh Musa dan dicatat oleh penulis dengan kalimat “Inilah firman yang diperintahkan TUHAN untuk dilakukan” (ay. 5). Menjadi catatan penting bagi kita, bahwa semua proses yang dilalui Harun bukan didasarkan pada kehendak Musa, tetapi perintah Tuhan. Di sinilah keteladanan Musa, sebagai gembala dan pelayan Tuhan. Dia menjalankan semua perintah Tuhan dengan taat.
 
Belajar dari perenungan ini, beberapa hal dapat menjadi pelajaran, yaitu :

  1. Sebagai para pelayan di gereja (diaken, penatua, pendeta, pengurus pelkat, dsb), maka ketaatan Musa hendaknya memotivasi kita juga untuk taat pada kehendak Tuhan dan melaksanakannya dengan setia.
  2. Sebagai anak-anak Tuhan, mari hidup dalam ketaatan pada kehendak-Nya agar nama-Nya dimuliakan di dalam dan melalui hidup kita.

Selamat hari Minggu.

GB. 190 : 3, 4

Doa : (Ya sapa di sorga, mohon bimbinglah kami dengan Roh-Mu, agar mencerminkan keteladanan Kristus bagi sesama di dunia) 

HARI MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 8 November 2020

Renungan Malam

KJ. 332 : 1 – Berdoa

MEMBERI DIRI DAN MERASAKAN KEPAHITAN

Imamat 8 : 31 – 36

“… harus kamu memakannya dengan roti yang ada di dalam baku l…” (ay. 31)

Setelah prosesi penahbisan Harun dan anak-anaknya sebagai imam atas Israel usai, Musa masih meminta mereka melakukan tindakan simbolik dengan memasak daging dan memakannya bersama roti yang tidak beragi (ay.26). Sebagai sebuah tindakan simbolik, maka hal itu tidak tinggal sekadar perbuatan, melainkan simbol yang menunjuk pada sebuah makna.
 
Makna dari tindakan makan daging bersama roti tak beragi membawa ingatan kita jauh ke belakang, yaitu pada peristiwa keluarnya Israel dari Mesir. Ingatan ini adalah tentang perjalanan penuh penderitaan bangsa Israel menuju pembebasan yang Allah anugerahkan. Di tengah mendesaknya situasi antara hidup dan mati, Israel keluar meninggalkan Mesir dengan tanpa perbekalan. Di sinilah roti tak beragi menjadi simbol kepahitan Israel, sekaligus sebagai ingatan kolektif bagi siapa saja keturunan Israel, termasuk Harun dan anak-anaknya yang memakannya, untuk mengenang masa lalu itu dengan menghadirkan sikap belarasa di masa kini.
 
Seorang filsuf Prancis yang Calvinis taat, Paul Ricoeur, pernah berkata, “belajar dari jalan penderitaan” (learn comes through suffering, to pathei mathos). Kata-kata ini bermakna dekat pada pengalaman pemanggilan Harun dan anak-anaknya melalui pemberian diri sebagai pelayan dengan pertama-tama turut merasakan kepahitan umat yang akan digembalakannya. Melalui jalan penuh penderitaan itu kita belajar tentang kasih setia Allah yang tak berkesudahan.

KJ. 332 : 2

Doa : (Tuhan Yesus mohon buatlah kami memberi diri dengan berbelarasa pada sesama yang menderita)

Scroll to Top