MINGGU V SESUDAH EPIFANI
Senin, 8 Februari 2021

Renungan Pagi

KJ. 8 : 1 – Berdoa

CARILAH KEBENARAN, MAKA ENGKAU AKAN HIDUP

Lukas 10 : 25 – 28

Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (ay. 28)

Pembenaran diri adalah bentuk tindakan pembelaan diri dengan membenarkan sesuatu meskipun yang dibela itu salah adanya. Pembenaran diri biasanya muncul dalam diri manusia yang egoistis, sehingga tidak cerdas baik secara emosi maupun spiritual. Sementara kebenaran adalah suatu nilai utama dalam kehidupan manusia. Nilai yang didasarkan pada kebenaran yang berhubungan dengan etika, moral, logika, bahkan ajaran agama.
 
Teks ini menceritakan seorang ahli Taurat yang berusaha untuk mencobai Yesus. Ahli Taurat adalah orang yang terhisab dalam mazhab Farisi. Mereka suka menyelidiki dan menafsir Kitab Suci. Mereka juga berpegang pada pelbagai tafsiran dan hukum tambahan selain Taurat Musa. Mereka merasa diri paling benar dan sangat rohani. Mereka sangat meyakini adanya “hidup kekal”, kebangkitan orang mati, dan Mesias yang akan datang untuk membebaskan dari belenggu penjajahan Romawi. Konsep tentang “hidup kekal” seringkali diperdebatkan oleh mazhab Yahudi di zaman Yesus seperti kaum Zaduki. Suatu kaum yang diperkirakan berasal dari keturunan imam besar Zadok yang hidup pada masa raja Daud. Flavius Yosepus ahli sejarah dan penulisa pologetik Yahudi abad pertama menyatakan, bahwa kaum Zaduki menolak konsep kekekalan jiwa, dan ganjaran kekal setelah kematian, karena tidak dimuat secara tegas dalam hukum Taurat Musa.
 
Baik kaum Farisi maupun Saduki sama-sama berusaha untuk membenarkan apa yang mereka percayai. Apakah ahli Taurat dalam teks ini benar-benar mencari kebenaran atau pembenaran diri? Yesus mengetahui maksud hati dari sang ahli Taurat, karena pertanyaannya mengandung motivasi yang tidak murni. Mari melangkah dengan ketulusan dan kejujuran. Carilah kebenaran berdasarkan kasih yang tulus, agar hidup kita dibenarkan Tuhan dan membawa sejahtera bagi sesama.

GB. 226 : 1

Doa: (Ya Kristus, tolonglah kami untuk berjalan dalam kebenaran-Mu)

MINGGU V SESUDAH EPIFANI
Senin, 8 Februari 2021

Renungan Malam

GB. 40 : 1,2 – Berdoa

SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?

Lukas 10 : 29 – 37

“Dan siapakah sesamaku manusia?” (ay. 29b)

Kondisi pandemik yang melanda dunia memungkinkan adanya peluang berbagai kejahatan mewarnai hidup bermasyarakat. Aksi-aksi yang bertujuan merampas barang seseorang maupun satu keluarga dapat berisiko mengancam nyawa seseorang. Apa yang harus dilakukan terhadap korban, bila yang bersangkutan adalah orang asing? Apakah kita hanya mau membantu seseorang karena dia adalah teman, saudara, atau orang yang dikenal? Siapakah yang dimaksud dengan sesama manusia, ketika ahli Taurat itu berbicara tentang hukum Tuhan dalam rangka memperoleh hidup yang kekal? Apa yang diajarkan Kristus melalui perumpamaan tentang seorang Samaria yang murah hati?
 
Istilah “sesama manusia” diterjemahkan dengan kata teman atau kawan atau saudara dalam arti luas, yakni mereka yang sebangsa, bahkan pula orang asing seperti kaum lemah secara sosial dan yang harus mendapatkan perlindungan secara sosial (Imamat 19 :18,34). Ahli Taurat sesungguhnya mengerti tentang siapa sebenarnya sesama manusia, tetapi pertanyaannya hanya untuk membenarkan diri sendiri. Kesempatan ini dipakai Yesus untuk memberikan pengajaran melalui perumpamaan seorang Samaria yang murah hati. Sebuah pengajaran yang menjelaskan tentang sesama manusia baik dalam hal menolong maupun ditolong. Mereka yang melewati korban begal atau rampasan penyamun sesungguhnya adalah kaum rohaniawan yang sehari-hari berada di Bait Tuhan dan memahami Hukum-Nya, namun tidak melaksanakan Firman-Nya secara nyata. Sementara orang Samaria adalah kelompok yang dipandang rendah oleh bangsa Yahudi, karena perkawinan campur. Namun demikian, mereka menunjukan kasih yang tulus dan murni melalui perilaku nyata. Kasih kepada sesama bukan sekadar kata-kata manis tanpa tindakan praktis. Kasih harus tanpa batas dan tidak membeda-bedakan orang. Sudahkah kita menjadi “sesama manusia” dalam mempraktekan kasih Kristus yang rela berkorban?

KJ. 434 : 1,2

Doa: (Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk menjadi sesama manusia yang mewujudkan kasih dengan tulus)

Scroll to Top