MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 7 Oktober 2020

Renungan Pagi

KJ. 422 : 1 – Berdoa

SALING MENGUATKAN

Kisah Para Rasul 20 : 1 – 6

la menjelajah daerah itu dan dengan banyak nasihat menguatkan hati saudara-saudara di situ. (ay. 2a)

Peristiwa huru-hara yang terjadi di Efesus meninggalkan bekas “Iuka” batin bagi para murid Paulus dan orang percaya. Mereka “shock” dengan teriakan dan ancaman fisik yang dialami dalam peristiwa tersebut. Pengalaman pahit dapat membuat seseorang selalu dibayang-bayangi ketakutan sepanjang hidupnya. Jika tidak segera ditangani berdampak pada depresi yang berkepanjangan.
 
Rasul Paulus melihat dampak dari peristiwa di Efesus tersebut. Paulus memanggil para muridnya dan menguatkan hati mereka. Tidak hanya para muridnya, Paulus juga menguatkan hati orang-orang di daerah Efesus yang mengalami trauma akibat peristiwa itu. Hal ini dilakukan Paulus selama tiga bulan sebelum dia melanjutkan perjalanan pelayanannya. Paulus menguatkan juga memulihkan trauma atau “Iuka” batin mereka, agar tetap memiliki semangat untuk bangkit dalam kehidupan dan keyakinan akan kasih Tuhan.
 
Apakah ada trauma atau “Iuka” batin yang kita alami? Trauma itu mungkin yang terjadi dalam tugas pelayanan, pekerjaan, atapun hubungan dengan sesama di sekitar lingkungan kita. Trauma tersebut harus segera diselesaikan. Jangan dibiarkan terlalu lama, karena akan menjadi Iuka batin yang mendalam. Walaupun sulit namun jika mempunyai keinginan diri yang sungguh dan motivasi yang kuat, maka kita akan dapat pulih dari trauma.
 
Faktor yang sangat penting dalam proses pemulihan trauma adalah dukungan orang-orang di sekitar. Artinya, peranan kita dalam menopang sesama yang mengalami trauma atau “Iuka” batin menjadi sangat dibutuhkan. Jangan menambah beban trauma dari saudara-saudara kita. Jadilah diri yang memulihkan. Pakailah diri kita untuk menguatkan sesama, agar mereka bangkit dari trauma yang dialami. Mari mempunyai satu tekad untuk memulihkan dan menguatkan saudara-saudara kita. Topangan dan dukungan yang diberikan, membuktikan bahwa dalam hidup ini kita harus saling menguatkan satu dengan yang lain. Tuhan memberkati topangan dan dukungan kita bagi sesama.

KJ. 422 : 3

Doa : (Ya Kristus, kami bersyukur bahwa pemulihan terjadi dalam kehidupan yang saling menguatkan)

MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 7 Oktober 2020

Renungan Malam

KJ. 222b : 1 – Berdoa

PERPISAHAN YANG MENGHIBUR

Kisah Para Rasul 20 : 7 – 12

Sementara itu mereka mengantar orang muda itu hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur (ay. 12)

Perpisahan merupakan moment yang mengharukan. Mengapa? ltu karena kemungkinan kita tidak akan bertemu kembali. Kalaupun bertemu mungkin dalam jangka waktu yang lama. Banyak penyebab seseorang harus berpisah; seperti mutasi pekerjaan, pindah tempat tinggal, masa kontrak bekerja telah selesai, dll.
 
Malam menjelang kepergian Paulus ke Miletus, ia mengadakan percakapan dengan saudara-saudaranya di Troas. Ini adalah percakapan perpisahan. Percakapan terjadi cukup lama, sampai tengah malam, bahkan disebutkan sampai fajar menyingsing (ay. 11). Dalam pertemuan dan percakapan tersebut terjadi peristiwa yang mengejutkan. Seorang muda bernama Euthikus yang duduk di jendela terjatuh dari tingkat tiga, karena dia tidak dapat menahan kantuknya. Orang yang berusaha menolong menyatakan, bahwa ia sudah mati. Namun demikian, Paulus menghampiri pemuda yang terjatuh itu. la merebahkan diri ke atasnya dan menyatakan bahwa pemuda itu masih hidup. Setelah melepas Paulus berangkat dengan sukacita, mereka pun mengantar orang muda yang hidup itu ke rumahnya. Lalu mereka semua merasa terhibur.
 
Ada dua hal yang membuat orang banyak tersebut terhibur. Pertama, percakapan yang terjadi dengan Paulus sampai fajar menyingsing membuat mereka dikuatkan dan dihibur, meski pun akan ditinggalkan olehnya. Kedua, peristiwa jatuhnya Euthikus dari lantai tiga yang dikira sudah mati tetapi ternyata menurut Paulusmasih hidup. Hal ini membuktikan adanya kuasa Allah yang bekerja sangat dahsyat dalam diri Paulus sehingga mampu menghidupkan Euthikus yang sudah mati.
 
Kehadiran Paulus yang tidak lama memberikan kesan mendalam. Percakapan dan peristiwa yang terjadi menjadi “kenangan” yang menguatkan dan memotivasi jemaat. Malam ini menjadi pembelajaran penting, bahwa kualitas perjumpaan harus memberikan manfaat bagi setiap orang yang kita jumpai. Biarlah dalam perjumpaan, kita memberikan kesan baik, positif dan bermakna.

KJ. 222b : 5

Doa : (Bapa Surgawi, perpisahan bukan membuat kami menjadi lemah, namun menguatkan untuk terus berkarya demi kemuliaan-Mu)

Scroll to Top