MINGGU II PRAPASKAH
Jumat, 8 April 2022

Renungan Pagi

KJ. 424 : 1 – Berdoa

KESETIAKAWANAN SOSIAL

Obaja 1 : 8 – 14

Janganlah memandang rendah saudaramu pada hari kemalangannya, dan janganlah bersukacita atas keturunan…pada hari kesusahannya. (ay. 12) 

Kesetiakawanan Sosial adalah gerakan yang mengajak orang banyak memiliki kepedulian satu sama lain. Kesetiakawanan Sosial merupakan sikap moral yang mendorong orang lain untuk memiliki kepekaan ketika menghadapi orang lain yang ada di sekitamya untuk merasakan apa yang mereka alami. Dengan kata lain melalui gerakan ini kita juga memiliki rasa simpati dan empati terhadap saudarasaudara kita yang sedang mengalami penderitaan, seperti kelaparan, korban bencana alam, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, hari Kesetiakawanan Sosial selalu diperingati tiap tanggal 20 Desember. Ditetapkannya Hari Kesetiakawanan Sosial, semakin menegaskan bahwa kepeduliaan kita terhadap saudarasaudara kita yang berkekurangan, merupakan sikap moral yang harus dicanangkan. Terlebih Iagi di tengah kondisi pandemi Covid 19 sampai dengan saat ini. Pemerintah pusat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian dalam mengatasi pandemi Covid 19.

Hal yang sama juga pernah disuarakan oleh Obaja sebagai seorang nabi yang diutus oleh Tuhan. Obaja memberi peringatan dan teguran keras melalui nubuatannya terhadap bangsa Edom, yang merupakan saudara dari bangsa Israel. Mereka (bangsa Edom keturunan dari Esau) sama sekali tidak peduli terhadap apa yang dialami bangsa Israel yang dihancurkan oleh bangsa Babelonia. Mereka justru menggunakan kesempatan itu untuk memuaskan diri mereka.

Keteladanan Kristus, yang telah memperlihatkan sikap kepeduliannya terhadap kita, manusia berdosa. Semasa hidupnya Yesus begitu peduli terhadap mereka yang sakit, kaum miskin, anakanak dan lain sebagainya. Sikap ini harus nyata di lingkungan Gereja. Gereja jangan menjadi “benteng” sehingga hanya melihat ke dalam, dan tidak ke luar. Gereja harus memulainya dalam lingkungan gereja, lalu bisa dilanjutkan ke masyarakat. Tingkatkan terus solidaritas kita dengan sesama.

KJ. 424 : 3

Doa : (Ya Tuhan, ajarlah kami hidup bukan untuk diri kami sendiri, tetapi juga untuk orang lain)

MINGGU II PRAPASKAH
Jumat, 8 April 2022

Renungan Malam

KJ. 169 : 1 – Berdoa

KEBENARAN AKHIRNYA SEBAGAI PEMENANG

Obaja 1 : 15 – 16

Sesungguhnya, seperti kamu telah minum di atas gunung-Ku yang kudus, segala bangsapun akan minum dengan tidak henti-hentinya; bahkan mereka minum dengan lahap, dan mereka akan menjadi seakan-akan mereka tidak pernah ada (ay. 16) 

Di dalam kehidupan yang real seperti sekarang ini, banyak sekali terjadi hal-hal yang sulit dipahami. Khususnya mengenai makin maraknya orang berbicara tentang kebohongan. Masa sekarang ini untuk berbicara dan menegakkan kebenaran justru menjadi sesuatu yang Iangka. Bahkan banyak orang merasa takut bicara tentang kebenaran, karena akan mengalami intimidasi berupa ancaman dan sebagainya. Sebagai contoh kasus 1998, ketika terjadi krisis ekonomi; terjadi penjarahan; perkosaan dan sebagainya. Tidak ada satupun pelaku penjarahan atau perkosaan diadili, karena para korban diintimidasi dengan tindak kekerasan.

Pertanyaannya sekarang adalah akankah kebenaran itu sudah tidak bisa Iagi diwujudkan? Sudah tidak adakah orang yang berani berbicara tentang kebenaran? Saat itu atau mungkin bisa saja sekarang ini untuk berbicara kebenaran adalah sesuatu yang Iangka. Sekarang ini orang lebih senang menyampaikan berita bohong atau hoax.

Obaja menyampaikan nubuatan bahwa kebenaran pada akhimya akan ditegakkan ketika Allah sendiri yang datang dan menegakkannya. Semua yang melakukan kejahatan, akan merasakan seperti mereka lakukan terhadap orang lain. Bagi Obaja pada akhimya, Tuhan akan menegakkan kebenaran, dan semua kebohongan dan tindakan kejahatan akan dihancurkan.

Minggu Prapaskah ini mengajarkan kepada kita, bahwa sekalipun Yesus harus menjadi korban oleh mereka yang tidak menyukai kebenaran itu terwujud. Penyaliban adalah bentuk upaya menghancurkan kebenaran. Tetapi akhir semua peristiwa kita mengetahui Yesus menunjukkan kuasa-Nya sebagai Tuhan melalui kebangkitan-Nya. Jadi janganlah takut untuk berjalan, berbicara dalam kebenaran sekalipun harus berhadapan dengan penistaan dan penganiayaan. Sekalipun yang kita Iihat terkesan kebohongan akan berkuasa, tetapi sesungguhnya kebenaran akan terwujud, ketika Sang Kebenaran datang dan menegakkan kebenaran-Nya.

KJ. 169 : 2

Doa : (Ya Tuhan, mampukan kami sebagai saksi-Mu, untuk tetap berbicara kebenaran sekalipun penistaan atau penganiayaan yang kami hadapi)

Scroll to Top