MINGGU VI SESUDAH PENTAKOSTA
Selasa, 6 Juli 2021

Renungan Pagi

KJ. 355 : 1 – Berdoa

JADIKAN ALLAH PUSAT DOA (2)

Matius 6 : 7 – 8

Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah (ay. 7a)

“Orang tersebut doanya bagus sekali ya, bahasanya indah dan isinya panjang” atau “Singkat sekali kata-kata orang itu ketika berdoa!” Apakah kita pernah tanpa sadar mengeluarkan pernyataan seperti di atas sebagai usaha untuk menilai doa yang diungkapkan oleh orang-orang di sekitar? Sebagai orang percaya seringkali kecenderungan yang terjadi kita mudah memberikan penilaian terhadap doa yang didengar. Situasi inilah yang kadang kala mem buat doa dijadikan sebagai ajang untuk menunjukkan kepandaian dalam berkata-kata. Lalu akhirnya fokus doa teralihkan, bukan kepada Tuhan lagi melainkan diri sendiri.

Tuhan Yesus mengingatkan, agar setiap orang percaya jangan bertele-tele dalam berdoa. Hal itu karena realitanya banyak orang menyangka dengan banyaknya perkataan dalam berdoa; maka doa-nya pasti akan dikabulkan. Padahal yang terpenting dalam berdoa bukanlah panjangnya kata maupun indahnya kalimat yang dikatakan, melainkan ketulusan hati untuk membangun dialog dengan Tuhan sebagai pusat doa. Karena Tuhan Sang Sumber berkat sudah mengetahui terlebih dahulu apa yang kita perlukan sebelum meminta. Ingatlah, bahwa yang Tuhan mau hanya ketulusan diri kita untuk membangun dialog yang intens, ibarat seperti anak yang berbicara kepada Bapanya. Dalam ketulusan itulah akan nyata benar, bahwa kita senantiasa menjadikan Tuhan sebagai pusat doa.

Mari kita mengarahkan diri hanya kepada Tuhan sebagai pusat doa ketika kita berdoa. Caranya: 1) Mulailah setiap doa dengan perkataan yang memuliakan Tuhan, sebagai wujud kesadaran bahwa Dia adalah sumber Kehidupan dan berkat; 2) Mohonlah pengampunan atas dosa yang telah dilakukan, sebagai wujud nyata kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang tidak sempurna di hadapan Tuhan; 3) Nyatakanlah pergumulan ataupun permohonan dengan terus terang kepada Tuhan; dan 4) Akhiri doa dengan penyerahan diri bahwa kehendak Tuhan yang terbaik dalam kehidupan kita; serta 5) Tutuplah doa dengan kembali memuliakan Tuhan.

KJ. 452 : 3,4

Doa : (Mohon bimbinglah kami, agar mampu untuk membangun doa secara benar di hadapan-Mu, ya Tuhan)

MINGGU VI SESUDAH PENTAKOSTA
Selasa, 6 Juli 2021

Renungan Malam

KJ. 364 : 1 – Berdoa

MULIAKAN TUHAN DALAM DOAMU

Matius 6 : 9

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu (ay. 9)

Doa merupakan sarana bagi setiap orang percaya berdialog dengan Tuhan. Dalam doa, setiap orang percaya dapat mencu-rahkan isi hatinya kepada Tuhan. Namun demikian, meskipun dalam berdoa kita dapat mencurahkan ataupun menyampaikan isi hati kepada Tuhan, sudahkah doa kita itu senantiasa memuliakan Tuhan? Atau ternyata doa kita isinya tentang berbagai permo-honan keinginan diri saja yang disampaikan kepada Tuhan?

Hari ini, kita belajar dari bagian pembukaan Doa Bapa Kami. “Bapa kami yang di Surga, dikuduskanlah nama-Mu”. Ini merupakan bagian dari sapaan awal Doa Bapa Kami yang mau mengajak kita menyadari, bahwa Tuhan Sang Pemilik kehidupan manusia merupakan penguasa Kerajaan Surga dan Maha Kudus.

Melalui bagian ini Tuhan Yesus hendak mengingatkan setiap orang percaya tentang doa yang benar. Ketika orang percaya menyadari, bahwa doa merupakan sarana untuk dirinya berdialog dengan Tuhan, maka setiap doanya harus dimulai dengan sapaan awal yang berisi pernyataan memuliakan Dia Yang Maha Kudus. Pernyataan memuliakan Tuhan di awal doa ini hendak menunjuk-kan secara jelas, bahwa kita sungguh-sungguh sedang berdialog dengan Dia menurut cara yang benar. Hal tersebut ibarat kita membuka percakapan dengan salam atau pernyataan hormat kepada orang tua, ketika ada keperluan dengan mereka, sebelum menyampaikan suatu maksud. Begitu juga kepada Tuhan dalam doa. Kita harus memulai dengan sapaan awal yang menunjukkan sikap hormat kepada Tuhan.

Sapaan awal ini hendak menunjukkan pribadi kita sebagai orang percaya yang senantiasa menghormati Tuhan. Tuhan Pemilik Kuasa di surga dan segalanya. Jadi jangan berpikir dapat memerintah Tuhan sebagai alat untuk memenuhi keinginan pribadi kita. Sudahkah kita memuliakan dan menghormati Tuhan dalam setiap doa yang dinaikkan kepada-Nya?

KJ. 452 : 5,6

Doa : (Tuhan Yesus, tolong ajari kami senantiasa memuliakan dan menghormati-Mu dalam setiap doa kepada-Mu)

Scroll to Top