HARI MINGGU VI PRAPASKAH
Minggu, 6 Maret 2022
Renungan Pagi
KJ. 400 : 1 – Berdoa
KUDUSLAH KAMU, SEBAB AKU KUDUS
lmamat 19 : 1 – 4
“Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. (ay.2)
Kitab lmamat berisi peraturan-peraturan yang diberikan Tuhan kepada umat-Nya melalui Musa di gunung Sinai. Hukum-hukum tersebut berhubungan dengan ibadah dan upacara keagamaan umat Tuhan, serta hal-hal lain dalam hubungan dengan Allah. Dengan hukum-hukum itu diharapkan Israel dibimbing untuk hidup dalam kekudusan. Landasannya: karena Allah yang memilih dan memanggil mereka adalah kudus (ay.2).
Kekudusan merupakan inti hukum moral orang Israel, tapi juga orang Kristen (I Ptr.1:15,16). Dengan demikian, hidup kudus sebagai panggilan hidup, harus menjadi identitas kehidupan Kristen. Kekudusan Allah harus tercermin melalui kehidupan umat. Dengan berbuat seperti itu, maka hidup kita akan menjadi berkat. Karena itu, bacaan ini mengungkapkan kekudusan yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata dalam hubungan dengan Allah dan sesama, antara Iain: menghormati ayah dan ibu, memelihara hari Sabat dan tidak menyembah berhala.
Menghormati ayah-ibu, karena mereka yang melahirkan, merawat dan memelihara anak-anaknya. Memelihara Sabat (“hari Minggu”): umat beribadah kepada Allah dan beristirahat. Tidak menyembah berhala, karena hal itu adalah kekejian bagi Tuhan. Inilah yang Tuhan kehendaki dalam mewujudkan hidup kudus.
Sebagai manusia berdosa, pasti kita tidak mampu mewujudkannya. Namun oleh karya-Nya yang telah menyelamatkan dan menguduskan hidup kita, kita dimampukan untuk itu. Karena proses menjadi kudus bukan oleh kemampuan kita, tapi anugerah Allah bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.
Hidup yang dikuduskan bukanlah sesuatu yang final, tapi merupakan suatu perjuangan terus menerus sepanjang kehidupan. Kekudusan kita adalah “kekudusan yang terus menjadi”, menuju kesempurnaan dalam tuntunan dan kekuatan Roh Allah. Hidup kudus adalah hidup yang diberkati.
KJ. 400 : 3
Doa : (Mampukan kami ya Tuhan untuk hidup dalam kekudusan-Mu)
HARI MINGGU VI PRAPASKAH
Minggu, 6 Maret 2022
Renungan Malam
KJ. 364 : 1 – Berdoa
KORBAN YANG BERKENAN KEPADA TUHAN
Imamat 19 : 5 – 8
Apabila kamu mempersembahkan korban keselamatan kepada TUHAN, kamu harus mempersembahkannya sedemikian, hingga TUHAN berkenan akan kamu (ay.5)
Korban keselamatan adalah korban sukarela sebagai wujud syukur atas kebaikan Allah menghapus dosa umat. Dengan korban ini, memulihkan kembali persekutuan antara Allah dan manusia. Karena itu, korban yang dipersem bahkan hendaknya berkenan kepada Allah, yakni korban yang tidak bercela. Walaupun korban keselamatan itu korban sukarela, ia harus dipersembahkan sesuai peraturan yang telah ditetapkan Allah, dan bukan menurut keinginan manusia. Persembahan itu harus dipersem bahkan dengan benar dan kerelaan hati. Korban yang dipersembahkan itu harus Iangsung dimakan, karena hanya bisa ditunda sampai besoknya. Hari ketiga korban sudah tidak Iayak dimakan, karena itu harus dibakar. Siapa memakannya pada hari ketiga, melanggar kekudusan Allah. Karena itu, mendapat hukuman Tuhan.
Kristus rela mati dengan mempersembahkan hidup-Nya menjadi korban yang terbaik, demi keselamatan kita dan dunia. Pengorbanan-Nya di salib memulihkan persekutuan Allah dan manusia. Pemulihan persekutuan ini melayakkan manusia dapat menghampiri takhta anugerah-Nya sebagai orang yang telah diampuni-Nya. Kita dilayakkan menerima rakhmat-Nya, karena hidup kita telah dikuduskan-Nya. Maka, sepatutnya kita mempersem bahkan yang terbaik sebagai persembahan syukur kepadaNya, yakni seluruh hidup kita, hanya untuk kemuliaan-Nya.
Sudahkah kita mempersembahkan persembahan yang terbaik dan berkenan bagi Tuhan? Persembahan itu kita berikan bukan karena kelayakkan atau kebaikan kita, tapi sebagai wujud syukur atas kasih karunia Allah yang telah mengampuni dosa kita, sebab siapakah kita yang dikasihi-Nya dan karena itu menerima pengampunan-Nya? Nilai persembahan kita tidak ditentukan oleh besarjumlah persembahan yang kita berikan kepada-Nya, tapi saat kita mempersembahkan seluruh hidup kita yang adalah milik-Nya dengan benar dan kerelaan hati sesuai kehendak-Nya (Rm.12:1)
KJ. 367 : 4
Doa : (Terimalah ya Tuhan hidup kami sebagai persembahan yang berkenan kepada-Mu)
