HARI MINGGU V SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 5 Juli 2020
Renungan Pagi
GB. 241 : 1,2 – Berdoa
SETIAP GENERASI BERBEDA
Hakim-Hakim 2 : 6 – 16
“Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, … (ay. 28)
“Beda generasi beda masa. Beda masa beda tantangan. Beda tantangan beda penanganan”. Setiap generasi, masa, tantangan dan penanganan memiliki ciri dan cara yang berbeda. Perbedaan yang diakibatkan karena pola dan cara pandang kehidupan yang berubah. Dulu orang tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar dirinya. Dengan berkembangnya media elektronik dan komunikasi, maka apa yang terjadi dan dialami di tempat lain sudah sangat cepat diketahui. Mau tidak mau dan sadar tidak sadar, kita merespon atau mengambil bagian di dalamnya dengan komentar yang diberikan atas peristiwa atau kejadian tersebut.
Generasi pada masa kehidupan Yosua, mereka hidup dalam kesetiaan dan ketaatan kepada Allah. Yosua yang mengalami proses bagaimana umat Israel menuju dan memasuki tanah Peljanjian, sungguh mengakui campur tangan Tuhan. Yosua sadar bahwa mereka tidak mampu melalui berbagai macam tantangan dan cobaan kalau bukan karena Tuhan. “Dan bangsa itu beribadah kepada TUHAN sepanjang zaman Yosua…” (ay.7). Namun setelah Yosua meninggal, “bangkitlah angkatan Iain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel” (ay.10). Angkatan ini melakukan yang jahat di mata Tuhan, yaitu beribadah kepada para baal dan meninggalkan Tuhan. Tuhan murka atas angkatan yang baru ini. Penanganan yang dilakukan adalah melalui kehadiran seorang hakim. Walaupun bersifat sementara sepanjang para hakim itu hidup. Mereka kembali meninggalkan Tuhan ketika para hakim tersebut mati.
Di balik setiap kelemahan, pasti ada kekuatan setiap generasi. Kekuatan yang diarahkan ke arah yang baik, maka menjadi moda! yang sangat potensial. Marilah melihat setiap kelemahan sebagal tantangan untuk diarahkan menjadi kekuatan yang baik. Jika setiap generasi saling menopang dengan kekuatan masing-masing, maka kesinambungan antar dan setiap generasi menjadi “mata rantai” kuat dalam menciptakan potensi umat yang handal di dalam kehidupan dan panggilan pelayanan bersama.
GB. 241 : 3
Doa : (Ajarilah kami agar mampu untuk melihat setiap kebaikan dari masing-masing generasi kehidupan yang kami jalani saat ini. Amin)
HARI MINGGU V SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 5 Juli 2020
Renungan Malam
GB. 220 : 1 – Berdoa
HARGAILAH HAMBA TUHAN
Hakim-Hakim 2 : 17 – 23
Tetapi juga para hakim itu tidak mereka hiraukan, … Mereka segera menyimpang dari jalan yang ditempuh oleh nenek moyangnya yang mendengarkan perintah TUHAN; … (ay. 17)
Ketidaktaatan dalam hidup beriman mendatangan konsekuensi serius. Penyembahan berhala telah mengakibatkan tersingkirnya Tuhan dari dalam hati dan pikiran umat-Nya. Perbuatan bangsa Israel yang beribadah kepada Baal dan para Asytoret, dapat disamakan dengan perzinahan secara rohani (2:13). Perzinahan rohani bangsa Israel melambangkan ketidaktaatan yang ekstrem. Mereka tidak hanya mempersembahkan tubuh, jiwa dan roh dalam peribadahan, tetapi juga mempercayai bahwa kesejahteraan hidup bersumber dari berhala. Jika demikian, hidup menjadi sulit dan berat.
Penyembahan berhala jelas bukan perbuatan segelintir orang, melainkan tindakan banyak orang yang sudah menyimpang dari iman kepada Tuhan. Pertobatan menjadi alasan utama mengapa Tuhan menyelamatkan umat dari penindasan para perampok yang menguras harta benda mereka. Tuhan membangkitkan atau menghadirkan seorang hakim (pembebas) sesuai dengan kehendak-Nya.
Seorang hakim ditugaskan untuk menyelamatkan bangsa Israel sehingga bangsa Israel dapat mengalahkan musuhnya dan hidup benar di hadapan Tuhan. Kemenangan mereka adalah karena kuasa Tuhan. Tuhan berkarya Iewat kehadiran dan kepemimpinan hamba-Nya. Saat seorang hakim mati, perilaku mereka segera berubah. Bukan tambah baik, malah tambah jahat. Mereka kembali kepada kebiasaan lama. Bangsa Israel benar-benar membelakangi Tuhan. Umat gagal hidup taat sebab tidak adanya pemimpin rohani.
Ketiadaan pemimpin rohani ternyata membawa dampak mengerikan. Hidup seseorang terputus dengan Tuhan dan bisa melakukan apa saja tanpa ada batasan. Apa jadinya jika dalam keluarga tidak ada pemimpin rohani? Rumah tangga dalam keadaan bermasalah. Kehancuran tinggal tunggu waktu. Apa jadinya persekutuan jika hamba Tuhan kehilangan legitimasi sebab gagal menghadirkan kepemimpinan rohani Iewat firman Tuhan yang berwibawa? Boleh jadi, jemaat kehilangan damai sejahtera dan sukacita penuh. Kepemimpinan rohani dibutuhkan agar kita tidak melenceng dari perintah-Nya.
GB. 220 : 2,3
Doa: (Ajar kami menghormati hamba Tuhan yang mengajarkan kebenaran Firman-Mu dengan kuasa Roh Kudus. Amin)
