MINGGU X SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 4 Agustus 2021
Renungan Pagi
KJ. 367 : 1 – Berdoa
CARI AMAN
Kejadian 12 : 10 – 20
Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau (ay. 13)
Memiliki teman suka ‘cari aman’ memang menjengkelkan. Selalu ingin diajak jalan ke manapun dan makan-makan, namun ketika diminta ‘patungan’ membayar makanan tersebut, tidak mau. Terpikir untuk menjauhi teman seperti itu, tetapi rasa kasihan terhadapnya justru lebih besar, karena tidak ada orang yang mau berteman lagi dengan dirinya. Serba salah jadinya.
Di dalam bacaan Alkitab pagi ini, Abram berupaya cari aman dari bencana kelaparan yang sedang melanda tanah Kanaan. Ia mengungsi ke Mesir. Abram sadar, bahwa tindakan ini pun akan membuat hidupnya terancam, karena Sarai (isterinya) dikatakan sangat cantik dan pasti akan diambil oleh Firaun. Abram Kembali cari aman dengan meminta Sarai berbohong dan mengaku seba-gai adiknya. Maksudnya, agar ia dibiarkan hidup dan diperlakukan baik oleh orang Mesir. Benar saja. Sarai dibawa ke istana Firaun. Abram lalu disambut serta diperlakukan dengan baik; diberi segala harta benda, tetapi kemudian Tuhan menghukum Firaun dan seisi istana. Lalu Sarai dikembalikan kepada Abram. Mereka disuruh meninggalkan Mesir.
Dipanggil untuk berada dalam arak-arakkan karya keselamatan Allah, bukan berarti kita sudah sempurna. Contohnya, Abram. Ia memiliki banyak kekurangan, namun Allah tetap menolong dan memakainya. Hal ini bukan berarti Allah kompromi dengan kesalahan Abram, melainkan Allah memberi kesempatan agar Abram belajar untuk menjadi pribadi yang lebih siap melakukan apa yang seturut dengan kehendak-Nya.
Allah tidak menyukai orang yang selalu ingin cari aman. Ia justru menginginkan orang-orang yang bertanggung-jawab, yang mau bertindak dengan apa yang ada pada dirinya, bukan hanya mengandalkan/ bersembunyi di belakang orang lain. Mari saudaraku dihari ini kita berkomitmen untuk melakukan apa yang seharusnya kita dapat lakukan. Jangan cari aman apalagi membahayakan orang lain untuk keselamatan kita.
KJ. 367 : 6
Doa : (Tuhan, tolong ajar kami menjadi pribadi yang bertanggung-jawab dan tidak merugikan orang lain)
MINGGU X SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 4 Agustus 2021
Renungan Malam
KJ. 337 : 1 – Berdoa
MENGALAH BUKAN BERARTI KALAH
Kejadian 13 : 1 – 18
Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat (ay. 8)
Dalam olahraga lompat jauh, aturan yang harus diperhatikan adalah panjang tempat pendaratan pelompat minimal 10 meter dan panjang lintasan awalan 45 meter. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seorang pelompat jauh ingin mendapatkan hasil lompatan maksimal, maka ia harus mundur dengan jarak yang jauh pula agar ia memiliki awalan yang cukup untuk mendapatkan daya lompat maksimal.
Perselisihan yang terjadi antara para gembala Abram dan para gembala Lot dapat saja meluas menjadi perselisihan antara pa-man dan keponakan. Tetapi dengan bijaksana Abram segera berupaya untuk menyelesaikan perselisihan tersebut dengan memberikan kesempatan kepada Lot untuk memilih dahulu mana daerah yang ia inginkan. Lot tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk memilih daerah yang subur dan banyak airnya. Ia akhirnya memilih seluruh lembah Yordan dan menyisakan daerah yang kurang subur dan kurang airnya bagi pamannya.
Abram tidak protes. Ia terlihat mengalah kepada Lot, tetapi sebenarnya ia tetap percaya bahwa Allah pasti tidak akan membiarkan dirinya dan seluruh ternaknya akan kekurangan makanan dan minuman. Terbukti ketika Lot sudah pergi, Allah memberikan seluruh negeri yang Abram pandangi itu untuk menjadi miliknya dan keturunannya kelak. Jikalau Allah telah memberikannya pastilah Ia akan mencukupkan segala sesuatu-nya. Rupanya Abram mengalah bukan untuk kalah, melainkan ia mendapatkan berkat Allah.
Dalam kehidupan bersama di NKRI ini, ada saja hal-hal yang kita rasakan tidak adil. Belajar dari Abram dan prinsip dalam olahraga lompat jauh maka terkadang kita harus “mundur” dan “mengalah”. Hal tersebut dilakukan bukan untuk mempertonton-kan kelemahan, namun membiarkan Allah bekerja dengan cara-Nya melalui kita untuk memberikan berkat bagi kita dan sesama.
KJ. 337 : 3
Doa : (Dengan kebijaksanaan-Mu, Tuhan, kami belajar mengalah untuk menyaksikan berkat-Mu dinyatakan dalam diri kami dan bagi sesama)
