MINGGU IX SESUDAH PENTAKOSTA
Selasa, 4 Agustus 2020
Renungan Pagi
KJ. 424 : 1 – Berdoa
BERTOLONG-TOLONGANLAH
3 Yohanes 1 : 5 – 8
… “jikalau engkau menolong mereka… dengan suatu cara yang berkenan kepada Allah” (ay.6b)
Dunia dan bangsa Indonesia sedang bergumul dengan wabah virus corona atau covid-19. Tidak sedikit orang mengalami dampak dari virus tersebut. Di tengah upaya penanganan yang terus dilakukan oleh pemerintah, kita bersyukur karena tidak sedikit orang, kelompok-kelompok masyarakat atau Iembaga sosial termasuk gereja membantu melalui pemberian sembako, uang atau Alat Pelindung Diri kepada mereka yang terdampak dan bekerja di garda terdepan. Bantuan tersebut seperti oasis di padang gurun yang gersang dan panas.
Membantu atau menolong secara tidak langsung berkontribusi bagi kehidupan dan kelangsungan suatu perjuangan. Hal ini juga yang diangkat oleh Yohanes menyikapi apa yang dilakukan Gayus terhadap para pekabar lnjil. Para pekabar lnjil tersebut merasa sangat terbantu dengan perbuatan yang dilakukan Gayus yaitu menerima mereka tinggal di rumahnya dan menjamu mereka. Padahal Gayus sama tidak mengenal mereka. Alasan dari perbuatan Gayus adalah karena ia seorang yang percaya kepada Kristus dan hidup dalam kebenaran. Iman mendorong Gayus menolong dan hal tersebut ia lakukan dengan penuh kasih. Sikap inilah yang dimaksud Yohanes dengan mengatakan : “engkau menolong mereka ….. dengan cara yang berkenan kepada Allah”. Tidak itu saja, Gayus telah mengambil bagian dalam pekerjaan memberitakan lnjil Kristus.
Dengan didasari iman dan kasih, gereja diarahkan senantiasa tanpa lelah menunjang pekerjaan pemberitaan lnjil dengan cara menolong sesama secara nyata. Paulus menegaskan : “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Gal. 6:2).
KJ. 424 : 2,3
Doa : (Jadikan hidup kami saluran berkat melalui kesediaan menolong sesama)
MINGGU IX SESUDAH PENTAKOSTA
Selasa, 4 Agustus 2020
Renungan Malam
KJ. 249 : 1,2 – Berdoa
BATU SANDUNGAN
3 Yohanes 1 : 9 – 10
… “sebab ia meleter melontarkan kata-kata kasar terhadap kami.” (ay.10)
Sejak awal gereja dalam melaksanakan panggilan dan pengutusan sering diperhadapkan dengan masalah dan tantangan. Tidak jarang masalah atau tantangan itu bertujuan untuk menghambat pertumbuhan atau pelayanan gereja. Umumnya masalah dan tantangan yang dialami gereja itu datang dari luar. Sekalipun demikian tidak jarang hambatan itu justru datang dari dalam. Disadari atau tidak hal tersebut pasti menjadi batu sandungan bagi pembangunan tubuh Kristus.
Kenyataan ini yang dihadapi oleh rasul Yohanes. Yohanes begitu gusar melihat perbuatan salah seorang warga jemaat yaitu Diotrefes. Diotrefes tidak mau mengakui Yohanes dan melontarkan kata-kata kasar kepadanya. Bahkan ia tidak mau menerima siapa saja yang ada hubungannya dengan Yohanes. Menghasut agar orang-orang lain tidak menerima para pekabar Injil bahkan mengancam mengucilkan orang-orang yang menerima para pekabar injil tersebut dari jemaat. Sikap dan tindakan Diotrefes jelas tidak sesuai dengan panggilannya sebagai orang percaya. Tindakan dan kata-kata kasarnya telah menjadi batu sandungan dalam pekerjaan pekabaran Injil. Karena itu Yohanes ingin bertemu dan meminta pertanggung jawaban Diotrefes tentang perbuatan dan perkataannya.
Diotrefes adalah contoh buruk bagi gereja dalam panggilannya membangun tubuh Kristus. Setiap orang percaya dalam hidup persekutuan seharusnya tidak mengeluarkan kata-kata kasar bahkan mengancam saudaranya. Karena perbuatan itu pasti menjadi batu sandungan bagi sesamanya untuk datang kepada Tuhan. Seharusnya kita menjadi jalan atau alat bagi pemberitaan Injil dan bagi sesama untuk bertemu dengan Tuhan Yesus dan mengalami keselamatan-Nya.
KJ. 249 : 3
Doa : (Tuhan mampukan kami untuk tidak berlaku dan berkata kasar)
