MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 1 November 2021

Renungan Pagi

KJ. 446 : 1,3 – Berdoa

THRONOS TOU SATANA

Wahyu 2 : 12 – 13

Aku tahu di mana engkau diam…takhta iblis (ay. 13)

Siapa yang tidak gentar berada di suatu tempat yang disebut ‘takhta iblis’? Bayangkan, betapa luar biasa kegelapan dan ketakutan kita jika berada di tempat yang dimetaforkan demikian. Itulah situasi yang terjadi pada jemaat di Pergamus. Firman menyebut bahwa mereka berada di tempat- yang dalam teks Yunani dikatakan thronos tou satana (ayat 13)- tahta setan. Allah juga mengingatkan jemaat Smirna bahwa Iblis akan melemparkan beberapa dari mereka ke dalam pencobaan dan kesusahan (Wahyu 2:10). Allah melihat betapa kokoh iman jemaat Pergamus. DIA menyaksikan bagaimana kesetiaan dan keteguhan hati mereka berpegang pada nama-Nya.

Alkitab menyebut beberapa nama atau karakter setan, di antaranya: jahat, penggoda, pembohong, bapa segala dusta, penipu, penguasa dunia, belzebul, si jahat dan penuduh. Sepanjang kehidupan orang beriman dan para murid serta jemaat-jemaat Tuhan sepanjang zaman dan di manapun, ada kalanya hidup mereka bagai terperangkap di suatu tempat yang penuh dengan hal-hal jahat, dusta, tipu daya, godaan, cobaan, sakit-penyakit, persekusi, penghinaan dan kesulitan lainnya. Kebencian, fitnah, diskriminasi, pelecehan menghadang bahkan menjegal langkah-langkah mereka. Hidup sungguh berada dalam lembah thronos tou satana.

Kesaksian hidup jemaat Pergamus menegaskan kepada kita bahwa bukan kekuasaan yang sedang menginjak kita, bukan buruk dan jahat tempat kita berada, juga bukan hal-hal jahat dan batu-batu penghakiman yang dilontarkan oleh orang-orang di sekeliling kita, yang menentukan respon dan menjadi siapa diri kita. Melainkan, pada apa dan kepada siapa kita berpegang serta meletakkan kesetiaan. Pemazmur memahami benar hal ini. Dan dengan imannya dia bernyanyi “Sekalipun aku berjalan di dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku” (Mzm 23:4).

KJ. 438 : 1,4

Doa : (Tuhan Yesus, aku ingin selalu setia berpegang pada tangan-Mu yang kudus dan penuh kuasa)

MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 1 November 2021

Renungan Malam

KJ. 26 : 1,4 – Berdoa

LOST IN LIFE

Wahyu 2 : 14 – 15

Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan… (ay. 14)

Meskipun Allah memuji kesetiaan jemaat Pergamus, namun ada sesuatu yang menggelayuti hati-Nya. Allah berkeberatan sebab ada di antara jemaat yang menganut ajaran Bileam dan Nikolaus. Kedua ajaran ini merupakan jalan sesat. Ketersesatan dalam kehidupan beriman dapat tampil dalam berbagai rupa. Ada yang meyakini sesuatu yang keliru, ada yang kehilangan fokus dan orientasi hidup, dan ada pula yang jatuh dalam pikiran-pikiran yang tidak benar, serta ada pula yang berpikir dia yang paling benar. Intinya, kesesatan adalah suatu pilihan yang membuat hati, pikiran, dan tindakan kita berada pada jalan jalan yang membawa manusia menjauh dari kasih karunia Allah Bapa.

Dalam bahasa Inggris dikenal sebuah istilah lost in life. Frasa ini digunakan untuk menggambarkan suatu kehidupan yang tersesat, kehilangan arah, kehilangan makna, tidak mengerti alasan dan tujuan hidup, serta penuh dengan keyakinan dan nilai-nilai kehidupan yang sempit. Lost in life membuat segala tatanan dan pola hidup awut-awutan. Allah sama sekali tak menghendaki kehidupan siapapun berantakan, sebab hal itu akan memporak porandakan relasi cinta kasih manusia dengan diri-Nya. Padahal hanya relasi seperti itu yang membawa hidup pada sukacita ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan. Allah sangat mengerti dampak dari kesesatan bagi hidup manusia. Oleh sebab itu Allah menghendaki pertobatan (ayat 16). “Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera dating kepadamu dan aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini”. Kata dalam teks aslinya metanoeson (= bertobat) meta = melampaui, nous= pikiran) yang berarti transformasi hati dan pikiran. Ada saat kita mengalami lost in life. Allah tidak ingin kita terlunta-lunta dalam lembah kehidupan yang pahit dan tak bermakna. Ketika kita mengalaminya segeralah bangkit dan keluar dari cara berpikir yang lama. Bangun perspektif dan kehidupan baru yang terpusat dan dikuasai oleh kasih Bapa.

KJ. 39 : 1,3

Doa : (Tuhan Yesus, mohon ubahlah dan baruilah hidupku selalu)

Scroll to Top