MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 31 Oktober 2020
Renungan Pagi
HUT KE 72 GPIB
KJ. 18 : 1, 2 – Berdoa
TATANAN GEREJA YANG TERUS MENERUS DIPERBARUI
Yehezkiel 11 : 1 – 13
“Oleh sebab itu bernubuatlah melawan mereka, bernubuatlah, hai anak manusia!” (ay. 4)
Ketika seseorang merayakan pertambahan usianya, selalu ada harapan baru. ltu terjadi dalam hidup seseorang ketika ia menjalani hari-hari baru di pertambahan usianya. Nah, kalau Gereja, khususnya GPIB yang berulang tahun maka, apa yang menjadi harapan ditahun ke-72 pelayanannya? Kalau GPIB ingin terus memperbarui tatanan Gerejanya, maka pertanyaannya, “Untuk apa hal itu dilakukan?” Guna menjawab pertanyaan tersebut, GPIB perlu belajar dari pesan Yehezkiel kepada umat Allah di pembuangan.
Yehezkiel menguraikan beberapa kondisi dari umat yang dikembalikan ke tanah pemberian Allah. Umat ini tidak hidup terpisah dari anggota masyarakat yang lain. Namun demikian, mereka tidak boleh bertingkah laku mengikuti gaya hidup masyarakat yang menjadi kekejian bagi Allah (ay.18). Karena itu Allah memberi mereka semangat yang baru dan hati yang mampu merespons maksud dan kehendak-Nya (ay. 19). Dengan demikian, hidup umat didasarkan atas kepatuhan pada ketetapan Allah (ay.20).
Pesan Yehezkiel ini mengingatkan bahwa pembaruan tatanan Gereja tidak boleh bertujuan memisahkan atau menciptakan jarak antara jemaat dan masyarakat di sekitarnya. Pembaruan tatanan harus bertujuan merespons kehendak Allah. Dalam konteks Indonesia, kehendak Allah tidak dapat dipisahkan dari panggilan GPIB untuk hadir dan berkarya bagi bangsa ini. Karena itu di usia ke-72, semua tatanan GPIB tidak boleh menciptakan gereja yang eksklusif, melainkan jemaat yang menghadirkan damai dan sejahtera bagi bangsa Indonesia sebagai bagian dari kehendak Allah.
KJ. 18 : 3, 4
Doa : (Tuhan jadikan kami gereja yang menghadirkan damai sejahtera-Mu)
MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 31 Oktober 2020
Renungan Malam
HUT KE 72 GPIB
KJ. 393 : 1 – Berdoa
KERINDUAN
Yehezkiel 11 : 14 – 25
“Oleh sebab itu katakanlah : Beginilah firman Tuhan ALLAH : Aku akan menghimpunkan kamu dari bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari negeri-negeri di mana kamu berserak, dan Aku akan memberikan kamu tanah Israel” (ay. 17)
Nabi Yehezkiel bernubuat, bahwa Israel akan mengalami hidup diserakkan dalam pembuangan. Peristiwa yang akan terjadi itu adalah konsekuensi dari hidup yang tidak berkenan di hadapan Allah. Israel mengalami banyak kehilangan seperti harta benda, bait Allah dan tanah nenek moyang mereka. Mereka dibuang menjadi orang-orang asing di tanah bangsa Iain. Namun demikian dinubuatkan juga, bahwa Allah akan mengumpulkan mereka yang terserak dari tempat pembuangan.
Perasaan terbuang, juga dibiarkan terlantar menghadirkan rasa sepi dan sendiri. Ditambah lagi himpitan rasa berdosa, karena telah melakukan kesalahan terhadap Allah menghadirkan rasa takut dan ditinggalkan. Tentu Israel merasakan semua itu. Di tanah pembuangan muncul kesadaran tentang apa yang hilang dari hidup mereka. Mereka merindukan mengalami kembali masa-masa indah, merdeka, sejahtera, tenang dan damai, kebersamaan juga persaudaraan yang kuat sebagai sesama bangsa Israel. Mereka rindu identitas mereka yang diwujudkan di tanah yang sudah Allah berikan. Mereka rindu beribadah di Bait ALLAH.
Dalam kehidupan kita yang tidak sempurna ini, ada hal-hal yang perlu dilepas dan dibuang. Karena itu terkadang Allah mengijinkan kita merasakan ‘hidup dalam pembuangan’. Karena di kala menapaki jalan-jalan hidup bagai orang terbuang, seperti ditinggal sendirian, kesepian, dan kehilangan segalanya, kita jadi merindukan kehidupan yang lebih baik, yang berubah, makin tertata, semakin disiplin jasmani dan rohani. Seringkali kita tidak menyadari memiliki semua yang berharga, bernilai, indah, mulia, dan sejahtera, sampai segala hal itu hilang dari kehidupan pribadi. Di saat seperti itulah besarnya kerinduan untuk mengalami kelepasan, keberlimpahan, kebaikan, kasih persahabatan dan persaudaraan hadir. Kerinduan itu adalah jalan pemulihan, jalan pembaruan, jalan menuju Tuhan.
KJ. 393 : 2, 3
Doa : (Tuhan, terima kasih atas segala peristiwa hidup yang Engkau perkenankan terjadi. Mohon ubahlah aku dan bentuklah menjadi lebih baik, baru, dan lebih indah)
