MINGGU III PRAPASKAH
Jumat, 1 April 2022
Hari Doa GPIB

Renungan Pagi

KJ. 39 : 1,2 – Berdoa

TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI

Matius 18 : 21 – 22 

“Bukan! Aku barkata kepadamu : Bukan sampai tujuh kali melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali (ay. 22) 

Persoalan pengampunan bukan persoalan matematika, berapa kali atau berapa banyak, tetapi pengampunan menyangkut tingkah laku yang bersumber dari ketulusan hati. Dengan kata lain: tujuh puluh kali tujuh kali adalah berarti pengampunan itu tanpa batas.

Ada rabi yang mengusulkan tiga kali pengampunan sudah cukup. Petrus mengusulkan dalam teks ini tujuh kali, tetapi menurut Yesus tujuh puluh kali tujuh kali yaitu tanpa batas.

Mungkin kita berpendapat: apabila kesalahan yang dibuat sepele tentu pengampunan bisa diberikan, tetapi apabila kesalahan yang dibuat sangat fundamental apakah tetap ada pengampunan? Untuk kesalahan yang besar dan mengerikan berlaku: Forgive but not forget, tetapi apakah pengampunan tanpa batas yang diajarkan Yesus membenarkan pernyataan itu? Jangan sampai dengan sikap seperti itu, kita baru setengah mengampuni, tetapi belum mengampuni sampai tuntas. ltulah sebabnya dalam versi lnjil Lukas (Lukas 17:4-5) murid-murid merasa tidak sanggup melaksanakan ajaran Yesus tentang pengampunan sehingga mereka mengatakan: “Tambahkanlah iman kami”.

Seringkali dipertanyakan: apakah tidak sia-sia kita mengampuni, namun yang bersangkutan tidak pernah bertobat dan berubah? Tentu mengampuni bukan pekerjaan yang mudah, pengampunan menuntut pengorbanan yang besar dari orang yang mengampuni. Bahwa orang yang bersalah tidak berubah, tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak mengampuni. Belajar dari Yesus yang tetap mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya. Dari atas palang tersilang la mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya. Tanpa dendam dan dengan tulus la berdoa serta memohon: Bapa ampunilah salah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Kita tidak bisa sama dengan Yesus, tetapi walaupun sangat sulit, dengan segala kekurangan dan keterbatasan sebagai manusia yang lemah marilah kita belajar meneladani Yesus, untuk tetap mengampuni sambil berdoa: “Tambahkanlah iman kami”.

GB. 68 : 1,2

Doa : (Tuhan tolonglah kami untuk bisa mengampuni, walau berat dan sulit. Oleh sebab itu Tuhan tambahkanlah iman kami)

MINGGU III PRAPASKAH
Jumat, 1 April 2022
Hari Doa GPIB

Renungan Malam

GB. 24 : 2,4 – Berdoa

DIAMPUNI DAN MENGAMPUNI

Matius 18 : 23 – 25 

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya (ay. 23) 

Diampuni itu gampang, tetapi mengampuni itu sulit. Menerima itu gampang tetapi memberi itu sulit. Namun diampuni dan mengampuni atau menerima dan memberi mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak terpisahkan. Orang yang hanya mau diampuni dan tidak mau mengampuni atau hanya mau menerima tetapi tidak mau memberi dikritisi dengan tajam dalam teks ini.

Perbedaan antara raja yang mengampuni dan hamba yang diampuni itu sangat mencolok, seperti siang dan malam. Raja itu mempunyai utang yang besar sepuluh ribu talenta tetapi karena belas kasihan, ia mengampuni hamba yang berhutang itu. Tetapi hamba yang diampuni itu tidak mau mengampuni orang lain yang berhutang tidak terlalu besar kepadanya (ay.28). Raja itu memberi waktu melunaskan hutangnya, tetapi hamba yang berhutang itu tidak mem beri waktu kepada orang yang berhutang kepadanya, orang itu langsung ditangkap dan dipenjarakan. Dengan perkataan Iain hamba itu mau diampuni tetapi menolak untuk mengampuni. Mau menerima tetapi tidak mau memberi.

Bukankah doa yang kita ucapkan setiap minggu adalah: Ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Tetapi pengampunan seringkali hanya terjadi di dalam doa namun tidak terjadi di dalam kenyataan hidup sehai-hari. Pengampunan bukan hanya sekadar doa, tetapi pengampunan harus didemonstrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Namun ketika doa itu diterjemahkan di dalam kehidupan nyata baru terasa bahwa diampuni itu mudah sedangkan mengampuni sulit.

Orang yang mendapatkan pengampunan tetapi tidak mau mengampuni, dihukum oleh raja yang mengampuni itu. Tetapi kalau diteliti dan disimak dengan baik, sebenarnya bukan raja itu yang menghukum namun hamba itulah yang menghukum dirinya sendiri.

KJ. 467 : 1,2 

Doa : (Ampunilah kami akan kesalahan kami ya Bapa, seperti kami juga mengampuni orang lain yang bersalah kepada kami)

Scroll to Top