MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 1 Oktober 2021
Hari Lanjut Usia Internasional
Renungan Pagi
KJ. 250a : 1,2 – Berdoa
HARI KESAKTIAN PANCASILA
Ulangan 23 : 15 – 16
Janganlah kauserahkan kepada tuannya seorang budak yang melarikan diri dari tuannya kepadamu… (ay. 15)
Pasca terbunuhnya tujuh jenderal TNI oleh PKI 56 tahun yang lalu, terjadilah pergolakan di masyarakat Indonesia. Di beberapa daerah, setiap orang memiliki potensi untuk membunuh sesamanya yang berbeda pandangan politik, apakah secara langsung atau menyerahkan sesamanya itu untuk dihakimi massa. Dapat dibayangkan betapa sulitnya mencari tempat perlindungan karena tidak ada orang yang dapat dipercaya. Bagaimana dengan gereja pada saat itu? Dalam buku berjudul “Memori-memori Terlarang Perempuan Korban dan Penyintas Tragedi ’65 di Nusa Tenggara Timur” (2012), Pdt. DR. Merry Kolimon dan kawan-kawan menggambarkan bahwa gereja saat itu berada pada posisi yang tidak berdaya untuk mencegah, terlebih menghentikan kebrutalan yang terjadi, bahkan ikut menjadi hakim bagi umatnya sendiri di bawah tekanan pemerintah. Seandainya, gereja cukup kuat berpegang pada ayat ini saja, gereja seharusnya berani membuka dirinya untuk menjadi perlindungan bagi setiap insan yang berjuang menyelamatkan nyawanya.
Hari ini kita memperingati Kesaktian Pancasila. Sehubungan dengan peristiwa G30S/PKI, Pancasila dianggap sebagai jawaban yang menyelamatkan dan memulihkan bangsa ini karena kelima silanya –jika diberlakukan– menjamin perlindungan bagi seluruh warga negara Indonesia. Karena itu, sejalan dengan semangat bangsa, gereja seharusnya tampil sebagai teladan, bagaimana kita seharusnya berperan sebagai pelindung bagi sesama.
Belajar dari sejarah bangsa, di mana gereja ada di dalamnya, baiklah kita memahami bahwa menolak untuk melindungi orang yang berusaha menyelamatkan nyawa karena ‘takut’ akan risiko yang akan kita terima hanya akan memperburuk keadaan. Orang itu tidak terselamatkan dan kita dirundung rasa bersalah, entah sampai kapan. Sebaliknya, jika kita berani ambil risiko untuk menyelamatkan nyawa orang lain, setidaknya, kita menunjukkan patriotisme di hadapan Tuhan.
KJ. 250a : 3,4
Doa : (Ya Tuhan, mohon karuniakan kami keberanian untuk melindungi nyawa sesama yang terancam)
MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 1 Oktober 2021
Hari Lanjut Usia Internasional
Renungan Malam
KJ. 335 : 1,2 – Berdoa
HARI LANJUT USIA INTERNATIONAL
Ulangan 23 : 19 – 20
Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan. … –supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala usahamu… (ay. 19-20)
Membungakan uang adalah bisnis yang tidak terlalu melelahkan tetapi dapat menambah kekayaan. Tidak hanya di Indonesia, bisnis model ini pun berlaku di Israel dengan ketetapan dan peraturan yang tegas dari TUHAN, yaitu tidak boleh membungakan uang atau bahan makanan atau apapun kepada saudara sendiri. Dengan kata lain, dalam berbisnis, orang diizinkan untuk mengambil keuntungan dari orang lain asal bukan dari saudara sendiri.
Bicara soal bagaimana kita seharusnya memperlakukan saudara, tidak terlepas dari peran orang tua. Orang tua adalah tokoh dalam setiap keluarga (besar) yang selalu berusaha mengutuhkan keluarga maupun keturunannya dengan berbagai petuah. Yang diinginkan setiap orang tua adalah supaya keturunannya dapat hidup rukun, saling mengasihi dan menopang satu sama lain. Salah satu pesan orang tua adalah jangan mengambil keuntungan dari saudara sendiri, terlebih jika saudara kita itu sedang dalam keadaan membutuhkan. Sayangnya, pesan ini tidak berlaku dalam dunia bisnis.
Dalam bisnis ada ungkapan: uang tidak kenal saudara (dan tak beragama). Artinya dalam mengelola uang, tidak ada kompromi antar anggota keluarga sekalipun karena setiap orang dapat menyalah-gunakan uang itu sehingga merugi. Pada kenyataannya, ungkapan ini ada benarnya tetapi dalam terang firman Tuhan, yang usahanya dibuat TUHAN berhasil adalah yang tidak mengambil keuntungan dari saudaranya sendiri.
Peraturan ini dibuat bukan karena TUHAN sedang menyusun kiat sukses berbisnis melainkan memelihara hubungan yang semestinya antar saudara sekeluarga atau bahkan sebangsa. Uang atau segala sesuatu yang dibungakan adalah upaya untuk meningkatkan perekonomian tetapi melalui nasihat orang tua, TUHAN mengajarkan kita bahwa membantu keluarga (yang membutuhkan) jauh lebih diberkati daripada mengambil keuntungan dari keadaannya.
KJ. 335 : 3
Doa : (Ya Tuhan, mohon mampukan kami membahagiakan orang tua dengan menjaga kerukunan di antara keluarga besar)
