HARI MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 31 Oktober 2021
HUT GPIB/HUT REFORMASI
Renungan Pagi
GB. 240 : 1 – Berdoa
DI DALAM KASIH
Wahyu 2 : 1 – 7
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula (ay. 4)
Sebagai sebuah konstelasi kasihmu yang sosial, semula (ay.4) GPIB telah melahirkan beragam gagasan, pemimpin dan agenda. Karena itu terbentuklah suatu konstruksi kultur yang khas. Semua itu terekam dalam catatan sejarah. Krisis, dekadensi, kebangkitan, dan bertumbuh merupakan proses alamiah. Dari laboraturium kehidupan demikian, GPIB menjadi dirinya terkini. Ia akan terus berada dalam proses menjadi (process of being).
Ada nada kecewa yang tersirat dalam perikop bacaan kita. Jemaat di Efesus terperosok ke dalam kubangan dekadensi. Melalui firman-Nya, Tuhan berkata tegas tentang dua hal. Pertama keteguhan, ketabahan, dan kasih mereka di masa lalu. Kedua, seruan pertobatan. Degradasi semacam ini merupakan bagian dari proses of being dalam kehidupan berjemaat. Masalahnya berakar pada manusia. Tuhan mengatakan, “Namun demikian, Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan
Peter Drucker, seorang edukator dan penulis Austria kelahiran Amerika pernah menulis demikian: “Kepemimpinan adalah mengangkat visi seseorang ke tingkat yang paling tinggi, menaikkan performa seseorang ke standar yang lebih tinggi, pembangunan kepribadian yang melampaui keterbatasan keterbatasan normalnya”. Tak ayal lagi dekadensi merupakan sebuah persoalan kepemimpinan. Karena itu pertobatan adalah jalan untuk bermetamorfosis. Bertobat dalam konteks bacaan kita adalah kembali ke jantung kehidupan berjemaat yaitu ‘kasih’. Di dalam kasih, lapisan-lapisan keras ego melunak dan cair. Biarlah di dalam kasih sejarah kepemimpinan di GPIB menjadi rekaman upaya berkesinambungan untuk mengangkat mereka yang dipimpin ke dalam keberhasilan-keberhasilan tertinggi. Dirgahayu GPIB. Denyut nadi kasihmu akan membawa jemaat terbang tinggi merobek awan menuju puncak-puncak mulia.
GB. 240 : 2,3
Doa : (Tuhan Yesus, tolong kami untuk tetap setia dan mengasihi-Mu. Mohon mampukan kami, ya Kristus untuk terus berkarya dengan penuh semangat dan dedikasi dalam bimbingan kuasa Roh Kudus)
HARI MINGGU XXIII SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 31 Oktober 2021
HUT GPIB/HUT REFORMASI
Renungan Malam
GB. 64 : 1,2 – Berdoa
KADO KEHIDUPAN
Wahyu 2 : 8 – 11
Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!” (ay. 10)
Penderitaan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sakit dan nestapa adalah bagian dari kehidupan. Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, kita yakin bahwa penderitaan merupakan salah satu tanda pemuridan. Tidak ada proses pemuridan tanpa getir; dan lara-kenestapaan adalah bagian dari proses hidup menjadi seorang murid Kristus (Boyle, SJ: 2017). Karena itu Tuhan Yesus berkata siapapun yang hendak mengikut-Nya harus bersedia menyangkal diri dan memikul salib (Luk 9:23).
Ayat 9 firman dalam perikop bacaan kita menyebut bahwa Tuhan mengetahui penderitaan dan kemiskinan kita. Allah tahu benar masalah dan derita kita. Alangkah sungguh melegakan dan menguatkan ketika DIA Sang Alfa dan Omega, yang memahami benar penderitaan kita mengatakan “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!” (Ayat 10). Firman-Nya tentu memberi kelegaan dan ketabahan sebab Tuhan mengerti alasan, tujuan dan ujung dari penderitaan kita, yaitu suatu karunia berupa mahkota kehidupan. Allah mengelola kepedihan dan kesakitan kita untuk menjadikan kita kuat, teguh dan tangguh maksimal.
Tuhan menghendaki kita mengubah cara memaknai penderitaan. Sehingga kita melakoninya tidak dengan ketakutan melainkan ketabahan dan pengharapan. Allah ingin kita memandang penderitaan dengan cara pandang Nya yaitu seperti Rasul Petrus katakan kita harus bersukacita karena semua itu bermuara pada kemuliaan-Nya yang akan nyata bagi kita (1 Pet 4:13). Fyodor Dostoyevsky (1821-1881) seorang novelis Rusia menulis demikian Kepedihan dan penderitaan senantiasa tak terelakkan dalam penemuan kelimpahan kecerdasan dan kedalaman hati. Ya, sesungguhnya penderitaan adalah kado bagi kehidupan. Suatu pemberian surga nan indah namun terbungkus dalam kemasan yang tidak menarik bahkan menggentarkan (Boyle. SJ:2017).
GB. 70 : 1,3
Doa : (Tuhan aku memilih untuk bersukacita dalam penderitaan sebab kemuliaan-Mu akan nyata diujung semua nestapa)
