MINGGU ADVEN I
Senin, 30 November 2020

Renungan Pagi

GB. 115 : 1 – Berdoa

KEPEMIMPINAN YANG TIDAK MENJADI SEBAB BATU SANDUNGAN

2 Korintus 6 : 1 – 10

“Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela.” (ay. 3)

Harga sebuah pelayanan itu sesungguhnya sangat mahal. Sebab itu menyangkut masa sekarang dan yang akan datang dari para pelayan maupun mereka yang menerima pelayanan. Paulus dan rekan sepelayanannya menyadari arti penting pelayanan. Karena itu, ia sangat menjaga agar tidak ada hal yang menyebabkan mereka yang menerima pelayanan secara langsung maupun tidak langsung tersandung dengan niat, cara atau metode yang digunakan dalam melayani.
 
“Noktah merah” (noda) pada pelayanan, seperti ungkapan yang sama tentang “ragi dalam adonan” menekankan bahwa pelayanan tidak dapat dilakukan secara “arbitrer” (sesuka pelayan). la harus dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa arti penting pelayanan mengandung risiko besar jika keliru diterapkan. Paulus menyebut hal ini sebagai “cela dan batu sandungan”.
 
Terkadang, bahkan menjadi kenyataan yang “pasti” dijumpai bahwa pelayanan tidak senantiasa mudah. Pelayanan selalu dirintangi oleh “lusinan” tantangan, khususnya bagi pelayan itu sendiri! Mari belajar dari jenis tantangan Paulus dan rekannya (ay 3-10). Sebagai pelayan Allah, itu tidak menjamin bahwa pelayan akan kebal atau bebas dari tantangan (Zero Obstacle). Kita mengenal semboyan Paulus, “Mati adalah keuntungan, hidup adalah Kristus”. Semboyan inilah yang mengukuhkan kemantapan prinsip dalam pelayanan Paulus.
 
Dari Paulus kita jadi mengenal, bahwa medan pelayanan itu rasanya seperti permen “nano-nano” (asam, asin, manis). Ada duka, juga tawa. Tampak mati, namun hidup. Sakit di dalam, senyum di luar. Dimaki, namun tetap dipercayakan pelayanan. Oh, masih banyak lagi asam getirnya pelayanan. Di sinilah letaknya pelayan Allah. Dalam kelemahan pelayan dan pelayanan “kuasa Allah bekerja secara sempurna” untuk membuat karya layan itu bertumbuh dan berhasil. Pelayan yang adalah pemimpin, ditantang membangun prinsip dan sikap melayani dalam medan yang penuh dera, namun tidak “jera”.

GB. 115 : 2

Doa : (Bapa mohon, teguhkanlah senantiasa semangat berpelayanan hamba-hamba-Mu, agar senantiasa memandang dan merasakan, bahwa panggilan pelayanan-Mu adalah jalan hidup utama)

MINGGU ADVEN I
Senin, 30 November 2020

Renungan Malam

KJ. 443 : 1 – Berdoa

BERI HATI SEPENUHNYA UNTUK PELAYANAN

2 Korintus 6 : 11 – 7 : 1

“…marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani…” (7:1)

Persoalan Korintus adalah adanya ketidakseimbangan dalam merespons kerinduan dan penerimaan antara Paulus, jemaat dan pihak Iain. Paulus mengatakan, bahwa dia dan rekan-rekan sepelayanannya datang dengan “sepenuh hati”, namun jemaat menanggapi dengan “setengah hati”. Sementara bagian lain dari hati jemaat terbuka dan menerima keberadaan pihak lain, yang berbeda, bahkan sesungguhnya bertentangan dengan apa yang kemudian diberikan atau diberitakan oleh Paulus.
 
Pesan bacaan kita adalah pentingnya menjaga “jarak”, memahami lingkungan tempat tinggal, pergaulan yang tidak memiliki kesamaan pandangan atau keyakinan. Hal ini tidak dimaksudkan agar jemaat menarik diri dari lingkungan tempat tinggal atau pergaulan. Jika demikian, maka tentu tidak akan ada lagi lingkungan yang bebas dari orang yang “belum percaya”. Hal yang dimaksudkan ialah Jemaat perlu menerima sepenuhnya kepercayaan yang diajarkan serta memberi tempat dalam hati hanya bagi Kristus dan tidak untuk yang lain. Sebab terang dan gelap tidak dapat bersatu. Terang harus masuk dalam lingkup kegelapan agar kuasanya bekerja! Perilaku kita harus dapat dilihat berbeda dan terpisah dari mereka yang belum menerima “Kristus”. Jika perilaku kita tidak tampak berbeda, itu bisa jadi karena “hati” kita diisi oleh ketidakmurnian Injil Kristus.
 
Apapun kondisi hati kita saat ini, kerja selanjutnya adalah pemurnian. Kondisi jasmani dan rohani yang tercemar perlu dimurnikan kembali. Pendekatannya adalah mengimani sepenuh-Nya Injil yang diberitakan. Maksudnya, agar kita dapat secara aktif menggunakan Injil Kristus sebagai hal yang mengandung kuasa. Tujuannya guna menolong kita menjadi jemaat yang takut akan Allah. Jangan sampai apa yang dikerjakan Kristus dalam hidup ini, disangka dilakukan oleh pihak di luar Dia (Belial). Orang yang “mendua” atau “mentiga” dalam hidupnya, tidak akan pernah mengenal Kristus sepenuhnya. Hal ini adalah “kemalangan”.

KJ. 443 : 2

Doa : (Ya Allah, Bapa tolong buat hati ini sepenuhnya milik-Mu, sebab sedari awalnya kami telah menjadi bagian yang tidak terpisah dari-Mu)

Scroll to Top