MINGGU IV SESUDAH EPIFANI
Senin, 31 Januari 2022
Renungan Pagi
KJ. 62 : 1 – Berdoa
MENILAI KEMBALI PELAYANAN
Lukas 10 : 17 – 20
Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga (ay. 20)
Keberhasilan pelayanan tidak cukup dinilai hanya dalam satu kali kegiatan, tapi berkali-kali ketika pelayanan itu dikerjakan sungguh-sungguh. Diperhadapkan pada gumul juang tidak mudah. Para pelayan Tuhan sering kali putar otak menghadapi situasi-situasi yang sulit. Duduk bersama dalam rapat saja sering kurang nyambung untuk mengambil keputusan yang tepat dan sesuai, diskusi di whatsapp grup suka salah tanggap. Belum lagi urusan keluarga yang juga perlu diperhatikan para pelayan.
Dalam bacaan kita, diceritakan ketika 70 murid kembali dengan gembira. Mereka menganggap pelayanan mereka sudah sukses. Yesus mengarahkan pada kesukaan dan kesenangan yang lebih hakiki yakni nama para murid terdaftar di surga. Sukacita yang hakiki adalah karena keselamatan yang Allah hadirkan dan berikan melalui Yesus Kristus. Sebab keberhasilan di dalam pelayanan adalah pengabdian total pada kebenaran Firman Allah dan bagi kita di GPIB pada tata gereja dan peraturan juga keteta an Gerejawi. Mari maknai pelayanan seperti yang Kristus kehendaki.
Banyak orang suka mengeluh tentang peraturan-peraturan. Padahal peraturan dibuat untuk mengarahkan kita pada kebaikan, contoh yang dimasyarakat tentang Lockdown, PPKM, Peduli Lindungi untuk kebaikan dan kesehatan kita bersama. Lalu ada waktu-waktu tertentu untuk dievaluasi, dinilai, dipilih untuk dijalankan. Di GPIB mulai dari tingkat jemaat, MUPEL, sampai Sinodal selalu ada evaluasi mingguan, triwulan, lalu pertahun dan lima tahun. Kita semua terpanggil untuk melakukan yang terbaik dan jangan berpuas diri dengan pencapaian yang di depan mata, tetapi ada hal-hal menasar secara spiritual, kiranya nama dan karya layan kita terdaftar di sorga.
Selaku pelayan Tuhan dalam fungsi masing-masing, pertama-tama kita menaklukan ego kita, membuka diri bagi Roh Kudus. Kedua membangun kerja sama yang baik dengan semua orang dalam tuntunan kasih Kristus. Ketiga bersedia menilai kembali, pelayanan yang dikerjakan kalau berhasil bukan menjadi kesombongan, kalau gagal bukan berarti tidak ada kesempatan, melakukan pembaharuan kalau salah jangan gengsi untuk mohon maaf. Kristus yang penuh kasih dan pengampunan itu memperhatikan proses pelayanan setiap kita, Yesus juga memperdulikan keluarga orang percaya.
GB. 62 : 5
Doa : (Bapa tolong kami menemukan sukacita hakiki dalam pelayanan)
MINGGU IV SESUDAH EPIFANI
Senin, 31 Januari 2022
Renungan Malam
GB. 44 : 1 – Berdoa
KESETIAAN MENGIKUT YESUS
Lukas 12 : 35 – 40
Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala (ay. 35)
Arah pekerjaan pelayanan, sebagai pengikut Kristus bukan hanya di dunia kini dan di sini saja. Pekerjaan pelayanan juga mengarah pada pertanggungjawaban, ketika Sang Pemilik Pelayanan meminta pertanggungjawaban. Itulah yang diingatkan Yesus melalui bacaan Firman hari ini.
Yesus menggambarkan hamba yang harus siap sedia, agar ketika tuannya kembali, maka berbahagialah hamba tersebut, karena kedapatan tengah melakukan tugasnya. Tanda kesiapan dan kesigapannya tampak dari pinggang tetap berikat. Kita ketahui, pakaian di sana adalah jubah panjang. Jika diikat, maka memudahkan untuk bergerak dan bekerja. Selain itu ditandai juga dengan pelita tetap menyala. Kita pahami pelita dipergunakan, karena zaman dahulu belum ada listrik, maka alat penerang adalah pelita, sumbunya harus tetap diberi minyak supaya tetap menyala. Nah karena waktu Sang Pemilik Pelayanan datang tidak diketahui, maka para hamba mau tidak mau, suka atau tidak, harus siap sedia.
Pelayanan adalah sesuatu yang akrab dalam keseharian kita. Pelayanan tidak selalu dalam jabatan di Gereja atau di masyarakat. Contoh: para ibu rumah tangga yang melayani suami dan anakanak dengan menyiapkan sarapan misalnya, adalah juga pribadi yang sedang melakukan pelayanan. Para ayah sambil menuju ke kantor melayani anak-anak dengan mengantar ke sekolah. Anak-anak melayani dengan haI-hal kecil dan simpel, seperti mengangkat piring kotor dan gelas mereka ke dapur.
Yesus menghendaki, setiap pribadi orang percaya, memiliki kesetiaan, kesiapan dan kesigapan menjalani kehendak-Nya. Saudaraku, waktu kita peneguhan sidi kita mengakui iman menjadi pengikut Yesus pribadi kita terikat, dengan pengakuan itu dan ikhrar itu kita nyatakan di hadapan Allah dan jemaat-Nya. Kiranya itu semua tetap kita pertahankan sampai pada akhirnya. Karena itu, marilah kita tetap berbuat sesuatu yang terbaik dalam melayani.
GB. 44 : 3
Doa : (Bantulah kami Bapa, melakukan pelayanan dengan setia)
