MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 3 Oktober 2020
Renungan Pagi
GB. 71 : 1 – Berdoa
DENGAN NAMA TUHAN SEMESTA ALAM
1 Samuel 17 : 40 – 47
“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lambing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu” (ay. 45)
Saat berhadapan dengan Goliat, Daud dihina karena dia masih muda. Bukan hanya dihina, Goliat juga merasa terhina karena Daud yang tidak selevel dengannya harus menjadi lawan. Goliat sampai berkata, “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?”
Bukan hanya Goliat yang memandang Daud sebelah mata, tetapi juga Saul. la sempat meremehkan Daud, karena usianya yang masih muda. Menurut Saul, Daud tidak mungkin bisa melawan Goliat (ay. 33). Walau demikian, Saul tetap membangun komunikasi dan memberi kesempatan bagi Daud.
Jika Goliat dan Saul meremehkan kemampuan Daud, tidak demikian dengan Isai, ayah Daud. la justru melatih keterampilan Daud sejak dia masih kecil. Isai memberi kepercayaan kepada Daud untuk menggembalakan domba (ay. 15). Tugas itu membuat Daud mempunya keahlian untuk melawan para binatang buas yang menjadi ancaman bagi domba-dombanya. Dengan pengalaman itu, Daud terbentuk menjadi seorang pemberani.
Hinaan Goliat tidak menyurutkan semangat Daud. la percaya pada kemampuan dirinya dan kepada Tuhan sebagai panglima perang. Daud yakin, bahwa kehebatan Goliat tidak bisa tertandingi dengan kuasa Tuhan. Semua orang bisa saja melihat Goliat berada di atas angin. Semua pasukan Saul boleh saja takut melihat Goliat. Akan tetapi, Daud percaya Allah Israel jauh lebih besar dari Goliat.
Usia dan pengalaman seseorang kadangkala menjadi tolok ukur untuk menilai kompetensinya. Daud dihina dan diremehkan karena usia muda, bentuk fisik yang kecil serta tidak adanya pengalaman. Pandangan keliru itu, dibuktikan Daud dengan sebuah keberanian dan kepercayaan diri. Dalam relasi sosial, kita tidak bisa memeIihara pandangan atau anggapan, bahwa orang muda tak mampu melakukan apa-apa. Buktinya, di gereja juga di masyarakat, makin banyak anak muda yang berkarya.
GB. 71 : 2, 3
Doa : (Ya Tuhan, firman-Mu terus mendorong untuk selalu menghargai anak-anak muda. Mohon kuatkan dan teguhkanlah iman mereka yang masih muda, agar rajin mengembangkan kompetensi diri)
MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
Sabtu, 3 Oktober 2020
Renungan Malam
GB. 261 : 1 – Berdoa
KEMENANGAN DAUD, KEMENANGAN TUHAN
1 Samuel 17 : 48 – 58
“Demikianlah Daud mongalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan” (ay. 50)
Saat melihat Goliat maju, Daud berlari (BIS: dengan cepat Daud berlari) menuju barisan musuh. la tidak menunggu dengan pasif, melainkan bergerak dengan cepat ke barisan lawan. Daud berusaha menjadi yang pertama memberi serangan, agar musuh tidak punya peluang untuk menyerang dia. Berbekal alat perang yang sederhana, pengalaman melawan Singa dan beruang, alhasil Daud mengalahkan Goliat. Kekalahan Goliat adalah kekalahan bangsa Filistin. Kemenangan Daud adalah kemenangan bangsa Israel.
Kemenangan Daud menjadi satu tanda penting bagi Israel, bahwa Tuhan itu hidup dan berkarya. la berkarya lewat perbuatan tangan-Nya, termasuk melalui Daud yang sempat diremehkan karena masih muda. Kemenangan Daud adalah kemenangan Tuhan yang telah melatih dia berperang secara non-formal, yakni lewat pengalaman menjadi seorang gembala domba.
Pada zaman Daud, perang sangat identik dengan alatnya. Alat perang yang lengkap mutlak digunakan saat berperang. Semakin canggih alatnya, semakin besar peluang untuk menang. Namun demikian kisah Daud memberikan perspektif yang berbeda. Alat perang, bahkan yang sebenarnya tidak bisa dikategorikan sebagai peralatan peperangan, yaitu umban dan batu, justru dapat dipakai untuk berperang, karena Tuhan berkenan memakai benda itu.
Saat ini, kita tidak berhadapan dengan perang seperti yang dihadapi Daud. Namun demikian, kita sedang berperang di tengah medan kehidupan. Kita berjuang untuk bisa berkarya dengan optimal. Dalam banyak hal, parameter karya kita diukur dengan kecanggihan alat. Makin canggih dan lengkap alatnya, semakin berhasil. Sabda malam ini mengingatkan kita bahwa kompetensi seseorang tidak ditentukan oleh kecanggihan sebuah alat. Berkarya secara optimal dengan kompetensi yang mumpuni tidak ditentukan Oleh peralatan canggih, melainkan oleh Tuhan dan karena kegigihan kita untuk terus berlatih. Mari semakin gigih berkarya dengan keyakinan Tuhan selalu beserta kita.
GB. 261 : 2
Doa : (Tuhan Yesus, terima kasih untuk beragam kompetensi yang Engkau beri. Tolong kami untuk terus mengembangkannya agar menjadi berkat bagi dunia)
