MINGGU V PRAPASKAH
Rabu, 3 Maret 2021
Renungan Pagi
KJ. 280 : 1 – Berdoa
BAPA YANG MELINDUNGI ANAK-ANAKNYA
1 Tesalonika 2 : 11 – 12
Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang. (ay.11)
Figur seorang bapak yang mengayomi anak-anaknya, bukan hanya menghangatkan persekutuan keluarga, tetapi juga membuat anak nyaman dan tentram. Artinya, bukan bapak yang menakutkan tetapi bapak yang penuh kasih, yang peduli dengan anak-anaknya. Mau tidak mau seorang bapak adalah seorang pemimpin rohani di rumahnya, makanya hidup rohaninya harus lebih kuat dan lebih berkualitas dari seisi keluarga.
Bapak bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan sandang pangan seisi keluarga. Tetapi membangun hidup beriman seisi keluarga. Maaf jika ada bapak-bapak yang suka tebar pesona kanan kiri dengan kelakuan yang tidak mencerminkan dirinya sebagai pemimpin rohani keluarga.
Hidup ini bukan sekarang saja, tetapi menuju kekekalan. Karenanya para bapak hendaknya menghargai tugas tanggung jawab yang dipercayakan Allah. Dengan wibawa dan kesabaran, ia mengarahkan anak-anaknya hidup dalam pola kerajaan Allah. Peran bapak yang penuh wibawa rohani membimbing umat menjalani hidup keseharian yang berpadanan dengan Firman Tuhan. Menurut Alkitab, bapak atau ayah adalah seorang imam di tengah keluarga (Keluaran 19 : 6, Hakim – Hakim 17 : 7, 10a); seorang pemimpin keluarga (l Timotius 3 : 4-5, Efesus 5 : 23a); pencari nafkah bagi keluarga (Kejadian 2 : 15, Kejadian 3 : 19) dan tidak boleh malas (Amsal 20: 13, 6:6, 10: 21b).
Allah memercayakan pelayanan rohani keluarga pada ayah (Efesus 6 : 4) sedangkan bagi warga jemaat kepada para pelayan Tuhan. Memang bukan tugas kita menyelesaikan segala soal dan pergumulan mereka. Tugas kita adalah membawa mereka mengalami perjumpaan dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat. Mari lakukan dengan sungguh-sungguh.
KJ. 280 : 3
Doa : (Tuhan jadikan para ayah memiliki wibawa rohani bagi keluarga)
MINGGU V PRAPASKAH
Rabu, 3 Maret 2021
Renungan Malam
GB. 284 : 1,2 – Berdoa
JEMAAT SEBAGAI KEHORMATAN DAN SUKACITA PELAYAN
1 Tesalonika 2 : 13 – 20
Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi dan memang sungguh-sungguh demikian sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya (ay.13)
Rasul Paulus berani menyimpulkan, bahwa jemaat Tesalonika sungguh hidup dalam firman kebenaran. Hal itu disebabkan oleh penerimaan akan Injil telah mengokohkan iman mereka. Jemaat di Tesalonika belajar dan melihat teladan jemaat Yudea yang tetap setia pada Tuhan Yesus sekalipun menghadapi penderitaan.
Sementara itu jemaat Tesalonika menghadapi tekanan dari orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi tersebut menghambat pemberitaan Injil bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi (Kisah Para Rasul 13 : 45). Mereka telah membunuh Yesus. Namun demikian, kuasa Allah dalam Yesus Kristus tidak bisa dibatasi oleh maut sekalipun. Buktinya Yesus bangkit dari kematian. Artinya, maut tidak bisa menahan ataupun membendung kuasa Yesus.
Jemaat di Tesalonika diarahkan oleh Paulus untuk tetap fokus pada karya Kristus yang menyelamatkan. Mereka (Paulus dan Jemaat Tesalonika) harus tetap terikat dalam persekutuan kasih. Mereka masing-masing hendak melanjutkan karya layan sambil menanti kedatangan Kristus kembali. Rasul Paulus memiliki rasa syukur dan bangga terhadap jemaat Tesalonika, karena tetap setia hidup dalam iman pada Yesus Kristus. Mereka menjadi sukacita serta kehormatan bagi Paulus selaku pelayan Kristus.
Apakah sebagai pelayan Kristus, kita juga bangga terhadap jemaat yang kita layani?
GB. 284 : 3
Doa : (Ya Bapa Maha baik, mohon jadikan kami sebagai pelayan yang bersyukur karena diberi kesempatan melayani-Mu di tengah jemaat)
