MINGGU ADVEN I
Kamis, 3 Desember 2020
Renungan Pagi
KJ. 460 : 1 – Berdoa
PEMIMPIN DAN INFORMASI
Matius 9 : 18 – 26
Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu (ay. 26)
Ada ungkapan Information is Power (informasi adalah kekuatan). Ungkapan ini tentu tidak sepenuhnya benar, sebab hal itu menyangkut jenis informasi apa dan siapa yang mengatakan. Informasi yang benar di tangan yang bertanggungjawab adalah kekuatan. Kepala rumah Ibadat dan perempuan yang diceritakan dalam bacaan ini memahami dengan benar informasi yang diterimanya. Keduanya mengerti siapa Yesus dan apa yang dapat dilakukan-Nya.
Kini, di era ICTs (Information, Communication, and Technologies), informasi begitu padat. Informasi bernilai tinggi bercampur di antara kumpulan berita berkualitas “sampah”. Karena itu sangat mungkin kita memperoleh jenis informasi yang demikian. Pertanyaannya, jenis informasi apa yang memasuki ruang pikir dan meresap masuk ke dalam hati kita? Apakah, berita tentang Tuhan mendominasi genggaman, benak dan hati kita? Kitalah yang tahu kondisi itu.
Apa yang hendak dikatakan melalui renungan ini adalah “perbuatan-perbuatan” baik dari-Nya harusnya menjadi “Headline” atau berita utama yang perlu kita buru dan nikmati. Apa yang Allah lakukan, melalui hamba-hamba-Nya di era di mana panggilan memberitakan “InjiI-Nya” terbentang lebar, bebas hambatan. Kita tahu, bahwa Allah sampai hari ini terus bekerja, tidak pernah berhenti, dan ada di setiap waktu, tempat serta sarana. Artinya, ada karya-karya-Nya yang dapat terus kita kabarkan.
Kita tidak “harus” menyusuri lorong-lorong rumah sakit untuk menemukan dan memberitakan mereka yang disembuhkan-Nya. Setiap waktu kita dapat menyampaikan sesuatu yang baik, sekalipun satu kalimat. Menguatkan mereka yang “sakit” secara mental. Mengabarkan mereka yang membutuhkan pertolongan.
“Asal mereka jamah saja informasi (Injil-Nya), maka akan ada yang memperoleh kesembuhan”. Jangan remehkan satu kata atau sebuah kalimat dari-Nya. Sebab, kata atau kalimat tersebut dapat menyembuhkan seseorang (baca Yes 55:11). Kabarkanlah semua “kebaikan-Nya”, dan Iihat apa yang terjadi!
KJ. 460 : 2
Doa : (Ya Tuhan Yesus, kami percaya setiap firman-Mu yang dibaca, diimani dan dilakukan memberi kesembuhan untuk semua penyakit)
MINGGU ADVEN I
Kamis, 3 Desember 2020
Renungan Malam
KJ. 54 : 1, 2 – Berdoa
STRATEGI ITU PENTING
Matius 9 : 27 – 31
Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini (ay. 30)
Masih ingat perkataan Yesus ketika ibu-Nya meminta berbuat sesuatu atas masalah kekurangan anggur saat pernikahan di Kana? Yesus menjawab, “Saat-Ku belum tiba” (Yoh 2:4). Begitu juga ingatkah kita atas hikmat Salomo yang berkata. “Segala sesuatu ada waktunya” (Pkh. Psl. 3). Dua pernyataan tersebut menggarisbawahi, bahwa segala sesuatu yang baik memiliki waktunya sendiri.
Kedua orang buta yang dimelekkan matanya mendapatkan pesan yang sama. Belum waktunya mereka menyampaikan kabar kesembuhan yang dialami dan siapa yang berkarya di balik pemulihan tersebut. Sebagai pembaca kita bertanya-tanya, “Mengapa Yesus melarangnya?” Setidaknya ada dua sisi penjelasan. Pertama, ada pekerjaan besar yang akan dilakukan Yesus. Bisa jadi, popularitas yang disebabkan peristiwa mujizat dapat merepotkan Yesus. Padahal la sedang mempersiapkan apa yang menjadi fokus tugas utama-Nya. Kedua, di sisi kedua orang tersebut, bahwa apa yang mereka alami memunculkan kegirangan besar yang tidak dapat dibendung. Mereka sulit untuk bungkam. Lantas bagaimana kita memandang sikap mereka? Apakah ini sebagai sebuah bentuk ketidaktaatan pada perintah Yesus dan dapat dianggap dosa?
Perhatikan, ayat selanjutnya, setelah kedua orang buta tersebut dapat melihat, menyusullah pencari kesembuhan lainnya (ay. 32), kekaguman orang banyak (ay. 33), serta reaksi Farisi (ay. 34). Kita jadi mengerti, bahwa larangan itu bukan soal dosa atau tidak patuh, namun lebih menyangkut munculnya situasi yang dapat menguras energi, waktu dan fokus. Yesus melarang mereka untuk menyampaikan apa yang dilakukan-Nya semata-mata sebagai antisipasi (manajemen pelayanan).
Seorang pemimpin perlu belajar berfokus pada pekerjaan utama dan belajar menangani berbagai aktivitas dan respons yang dapat memunculkan akibat dalam pelayanannya. Pemimpin memiliki waktu dan energi terbatas. Dibutuhkan strategi melakukan sesuatu secara terukur dan terhindar dari pertentangan yang tidak perlu. Jangan ceritakan keberhasilan pelayanan pada mereka yang “berjiwa Farisi”.
KJ. 54 : 3, 4
Doa : (Mohon ajari kami ya Tuhan menerapkan strategi terbaik dalam pelayanan bagi kemuliaan Nama-Mu)
