HARI MINGGU ADVEN I
Minggu, 29 November 2020
Renungan Pagi
GB. 22 – Berdoa
PEMIMPIN YANG KREATIF DAN INOVATIF
2 Korintus 8 : 1 – 9
Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.. (ay. 4)
Sebagian orang berpandangan, Majelis Jemaat -yang adalah pimpinan di jemaat- harus mengutamakan pelayanan ke dalam semaksimal mungkin. Hal itu agar terjadi pertumbuhan dan pembangunan jemaat. Beberapa jemaat ada yang berpandangan, bahwa pelayanan cukup dilakukan dengan kegiatan rutin saja. Yang penting pelayanan dapat berjalan dengan baik. Tepatkah pandangan itu?
Jika kita bercermin dari jemaat di Makedonia, ternyata mereka dalam segala keterbatasan mampu memberikan persembahan terbaik. Persembahan itu diberikan untuk membantu jemaat induk di Yerusalem yang dalam kesulitan besar. Padahal tidak ada alasan bagi jemaat Makedonia untuk memberikan persembahan terbaik, yang menurut Rasul Paulus melebihi kemampuan mereka. Karena itu Rasul Paulus mendorong umat di Korintus sebagai jemaat yang jauh lebih mapan dengan berbagai sumberdaya insani untuk meneladani jemaat Makedonia. Berbagai keterbatasan, terlebih dari segi materi, jika dimaknai dalam iman akan menimbulkan keikhlasan untuk memberikan segala sesuatu yang terbaik walau melebihi kemampuan yang dimiliki.
Iman seperti itu bersumber dari hati yang ikhlas bersyukur atas karya keselamatan Tuhan Yesus yang mengalahkan kuasa dosa dan maut. Semua hal mungkin dapat diukur dan dibeli, tetapi keselamatan Tuhan Yesus tidak dapat dinilai oleh apapun, la sudah memberikan persembahan diri-Nya untuk kemuliaan Allah Bapa dan penyelamatan bagi umat manusia dengan kasih yang besar.
Hal ini seharusnya menjadi dasar bagi setiap pemimpin gereja, baik di lingkup sinodal maupun jemaat, agar selalu ikhlas memberi yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan. Yakinlah bahwa setiap pemimpin gereja dimampukan untuk berbuat yang terbaik melebihi kemampuannya. Mari menjadi pemimpin yang kreatif dan inovatif, sehingga tercipta pertumbuhan dan pembangunan jemaat karena Tuhan yang memampukan kita.
GB. 79 : 1, 2
Doa : (Tolong kami ya Tuhan menjadi persekutuan yang peduli dengan membantu sesama yang dalam kesulitan)
HARI MINGGU ADVEN I
Minggu, 29 November 2020
Renungan Malam
KJ. 434 : 1 – Berdoa
BUKAN SEKADAR TUNTAS, TAPI…?
2 Korintus 8 : 10 – 15
Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu!… (ay. 11)
Tidak semua orang memegang jabatan manajer. Namun demikian, semua orang adalah pemimpin. Seorang pemimpin tidak membutuhkan jabatan untuk memberi pengaruh pada orang-orang di sekitarnya. la hanya membutuhkan penguasaan tertentu, apakah itu pengetahuan atau kecakapan teknis. Melalui kepemilikan hal tersebut, dan tentu prinsip “kebenaran”, seseorang dapat menjalankan fungsi kepemimpinan.
Salah satu tugas kepemimpinan yang disorot oleh Paulus adalah penyelesaian tugas dan tanggungjawab dalam pelayanan kasih. Setelah ia memberikan role model atas keteladanan jemaat di Makedonia, Paulus juga memalingkan perhatiannya pada apa yang telah dilakukan jemaat Korintus yang juga menetapkan dan mengerjakan pelayanan kasih dalam hal saling menanggung beban penderitaan sesama saudara rohani. Melalui proyek pelayanan kasih yang ditujukan untuk Yerusalem, Paulus telah menyampaikan kesaksian tentang kesiapan jemaat Korintus setahun lalu di hadapan jemaat Makedonia, sehingga memberikan motivasi kepada mereka untuk mengambil bagian (9:2).
Paulus kembali memotivasi jemaat Korintus untuk menyelesaikan proyek pelayanan kasih berupa sumbangan diakonia bagi jemaat-jemaat yang membutuhkan. Mereka dimotivasi untuk belajar dari apa yang Kristus lakukan dengan semua “kekayaan” yang dimiliki-Nya (8:9). Paulus menekankan bahwa bukan saja proyek pelayanan kasih tersebut perlu dituntaskan, namun harus dilakukan dengan semangat dan jiwa kerelaan. Jadi bukan sekadar tuntas! Pelayanan kasih ini perlu dimotivasi bukan dilakukan dengan semangat mengurangi beban yang lain dan menambah beban sendiri. Semuanya dilakukan demi prinsip keseimbangan yang bermanfaat bagi kesehatan mental jemaat dalam mengelola anugerah kekayaan yang dimiliki (8:14).
Mungkin saat ini, kita sekalian sedang mengerjakan pelayanan kasih “berbagi keseimbangan hidup” dengan yang lain. ltu baik, dan akan menjadi kesaksian kita bersama. Melalui perenungan ini kita didorong untuk meneruskan dan menuntaskannya dengan prinsip “kerelaan” dan keyakinan iman, bahwa “si pemberi” tidak berkekurangan, dan “si penerima” tidak berkelebihan (8:15).
KJ. 434 : 3
Doa : (Ya Bapa, kami menyadari bahwa seringkali kami terampil untuk memulai sesuatu, namun bermasalah dalam proses penyelesaiannya. Mohon karuniakan kami kekuatan untuk menyelesaikan semua kerja pelayanan secara tuntas)
