MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 28 Oktober 2020
Renungan Pagi
KJ. 169 : 1, 2 – Berdoa
ARAH PANDANGAN
Ibrani 12 : 1 – 11
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. (ay. 2)
Dengan mata kita melihat apa yang ada di sekeliling, mengetahui posisi, dan bisa menetapkan arah saat akan melangkah. Saat berada dijalan yang bercabang dan kebingungan hendak ke mana, maka dengan mata kita dapat mengamati secara seksama sambil berpikir. Lalu pada akhirnya, kita memutuskan jalan mana yang akan dipilih.
Hidup ini diciptakan Tuhan bukan hanya untuk menyusuri jalan yang kita inginkan. Karena kalau menuruti kemauan sendiri kita pasti memilih jalan yang lurus, mulus, datar, selalu ada pemandangan indah serta dapat dengan cepat sampai tujuan. Sayangnya, hidup tidak demikian adanya. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan, demikian kata sebuah peribahasa. Dalam menyusuri perjalanan kehidupan, terkadang kita juga memilih jalan yang salah. Seharusnya belok kiri, kita malah ke kanan. Seharusnya mengambil jalan yang lurus kita memilih memutar.
Kehidupan merupakan keputusan-keputusan untuk melangkah di jalan yang tepat, termasuk di dalamnya memutuskan untuk meninggalkan jalan yang keliru. Inilah yang dimaksud penulis dalam ayat 1, “tanggalkan semua beban dosa yang merintangi.” Maksudnya, tinggalkan jalan yang tidak membawa kemana-mana atau berdampak buruk dan milikilah semangat seorang sprinter. Seorang sprinter berlari dengan fokus yang optimal pada garis finish di depan. Segala teknik, energi dan pandangan tertuju ke sana. Sebagai seorang beriman, fokus energi, pandangan, teknik hidup kita adalah Tuhan Yesus Kristus, agar tidak salah arah. Beban tiada lagi karena telah kita letakkan di tangan-Nya. Energipun tiada terbuang untuk hal-hal yang tidak efektif. Karena itu jangan biarkan hal apapun mengalihkan pandangan kita dari kasih, kebaikan, dan kebenaran Kristus.
KJ. 169 : 3, 5
Doa : (Tuhan Yesus, hanya kepada-Mu saja kuarahkan segenap pikiran, pandangan, perasaan, dan perbuatanku)
MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 28 Oktober 2020
Renungan Malam
KJ. 29 : 1, 3 – Berdoa
SINGKIRKANLAH AKAR PAHIT ITU
Ibrani 12 : 12 – 16
“Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang” (ay. 15)
Kepahitan itu bagai tanaman, ia berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah. Kitalah yang membiarkannya tumbuh dan berakar semakin jauh ke dalam. Bahkan mungkin entah sengaja atau tidak, kita memupuknya hingga makin subur. Buahnya terlihat dalam relasi kita dengan sesama yang digambarkan oleh penulis sebagai “menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang”. Akar pahit dalam batin tidak hanya menggerus kasih, kegembiraan dan ketentraman hidup kita, tetapi juga orang-orang di sekeliling kita.
Penulis surat Ibrani mengindikasikan, bahwa akar pahit tumbuh dalam hidup yang jauh dari kasih karunia Allah. Kasih karunia Allah itu senantiasa ada bagi kita. Anugerah dan penyertaan-Nya tidak pernah jeda sesaatpun. Namun demikian, manusia dalam relasi dengan sesama terkadang sadar ataupun tidak telah terseret jauh dari kasih karunia Allah, sehingga jiwanya menjadi lahan subur bagi tersemainya kepahitan.
Carl Jung, salah seorang legenda psikoanalis psikiatris pernah berkata, “Diriku bukanlah apa yang terjadi padaku, tetapi pilihanku untuk menjadi siapa aku”. Hidup bisa saja bahkan sering memberi kita alasan untuk menjadi pahit. Kita menyimpan amarah, kebencian, dendam, putus asa, selalu mengeluh, menyalahkan orang Iain, egosentris, iri hati, menyakiti hati orang lain, membenci diri sendiri, dan Iain sebagainya. Namun demikian, diri kita bukanlah akar pahit kita, diri kita adalah serangkaian karya kasih karunia ALLAH setiap hari, setiap waktu. Jiwa yang bening, subur, tanpa akar pahit, itulah diri kita sesungguhnya. Karena itu pilihlah menjadi diri kita yang merdeka dari semua kepahitan. Cabutlah kepahitan itu hingga ke akarnya dengan mendekat dan merangkul kasih karunia ALLAH, Bapa kita.
KJ. 434 : 3, 4
Doa : (Ya Allah, mohon tiliklah hidupku. Jika ada akar pahit yang tak kusadari tumbuh dan kupelihara, aku mau mencabutnya dan hanya ingin hidup dalam kasih karunia-Mu saja)
