MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
Selasa, 27 Oktober 2020
Renungan Pagi
KJ. 376 : 1, 2 – Berdoa
KERJAKAN IMAN KITA
Ibrani 11 : 29 – 34
“Dan apakah lagi yang harus aku sebut?… (ay. 32)
Penulis surat ini menceritakan pengalaman iman dari tokoh-tokoh Alkitab dalam rangka meneguhkan iman. Satu demi satu nama tokoh dan pengalamannya disebut secara singkat. Iman memang butuh dikuatkan, karena hidup orang beriman tidak bebas dari hambatan, penderitaan, ketakutan, dan kelemahan. Semua itu dapat menyurutkan iman. Bila kita cermati peristiwa-peristiwa keimanan para tokoh, salah satu hal yang mendasar dinyatakan, bahwa iman adalah sesuatu yang dikerjakan menurut ketaatan dan keyakinan akan kuasa serta kebaikan TUHAN. Dengan kata lain, iman menuntut keaktifan dan mensyaratkan inisiatif dari kita selaku orang percaya.
Kita harus mengerjakan apa yang diyakini, dan yakin dengan apa yang di kerjakan. Musa mengangkat tongkatnya dengan yakin dan taat. Orang-orang Israel patuh pada perintah, maka mereka mengelilingi tembok-tembok Yeriko selama tujuh hari. Rahab berinisiatif menyambut serta membantu pengintai-pengintai Israel karena percaya. Tuhan mengerjakan keselamatan, keajaiban, pembebasan atas hidup seseorang dalam dan melalui perbuatan-perbuatan serta inisiatif-inisiatif dari orang tersebut. Karena itu firman memerintahkan tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Flp 2:12).
Jadi iman bukan semata-mata kata benda tetapi ada karsa dan karya aktif di dalamnya. Iman membutuhkan daya juang dan kerja nyata yang dilaksanakan dalam kepatuhan, pujian hormat, keterbukaan hati untuk menerima secara total, bahwa kehendak juga rencana TUHAN yang harus terwujud. Apa yang kita kerjakan hanya partisipasi dalam pekerjaan Tuhan untuk mewujudkan rencana-Nya. Karena pada akhirnya, suka ataupun tidak kita paham atau belum, rencana Tuhan yang akan terwujud. TUHAN tahu yang terbaik bagi anak-anak-Nya.
KJ. 376 : 3, 4
Doa : (Tuhan Yesus, dengan patuh juga taat, aku kerjakan imanku, dan biarlah kehendak-Mu saja yang terjadi dalam kehidupanku)
MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
Selasa, 27 Oktober 2020
Renungan Malam
KJ. 375 – Berdoa
LEGAWA
Ibrani 11 : 35 – 40
“Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan…” (ay. 39)
Iman menyelamatkan orang percaya. Ini dibuktikan oleh penulis surat Ibrani dengan mengangkat berbagai kisah para tokoh yang dipaparkan dalam pasal 11:1-34. Namun demikian pada ayat 35-40 ini, ada yang patut kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, bahwa iman juga berbicara tentang keikhlasan menerima ketika kelepasan, kelegaan, dan lolos dari derita raga maupun batin yang diharapkan tidak terjadi. Nyatanya, itulah yang kebanyakan terjadi pada para rasul, nabi, dan orang beriman lainnya. Mereka menjadi para martir bagi Kristus.
Tidak semua kisah tentang pergulatan hidup kita sebagai orang percaya entah ekonomi, sakit penyakit, impian yang sirna, hubungan keluarga yang pecah, karir yang mandek, juga soal jodoh berujung pada akhir kisah yang menyenangkan. Kenyataan tersebut sering memang menimbulkan tarik-menarik dalam batin. Di satu sisi dengan jiwa besar percaya, bahwa Tuhan akan menolong, membebaskan, menghalau musuh, memulihkan. Di sisi lain, dengan jiwa besar kita juga harus terbuka pada realita, bahwa jawaban iman bisa bukan seperti yang dikehendaki. Kita harus yakin tanpa ragu. Namun demikian di saat yang sama kita juga harus bersikap legawa; tulus ikhlas menerima. “Jalan Tuhan bukan jalanku” begitu kata sepenggal syair lagu rohani yang sudah akrab di telinga kita. Tetapi jangan sampai melewatkan pesan yang cukup tegas yang ditulis pada ayat 40 “Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita…”.
Legawa bukan berarti ada nada putus asa di dalamnya, seperti “ya sudahlah, terima saja, memang begitu kehendak-Nya”. Legawa berarti, dalam kerelaan dan kebesaran jiwa berkata, “Aku terima segala yang Tuhan perkenankan terjadi, karena ada yang lebih baik yang sudah Engkau sediakan bagiku”. Milikilah iman seorang martir.
KJ. 370 : 1, 3
Doa : (Tuhan, apapun yang Engkau ijinkan terjadi dalam hidupku, tolong ajar aku menerima dengan rasa syukur)
