MINGGU III SESUDAH EPIFANI
Rabu, 27 Januari 2021
Renungan Pagi
KJ. 142 : 1, 2 – Berdoa
KETIKA TUHAN MEMBUATNYA BERBEDA
Matius 14 : 1 – 12
“Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya” (ay. 12)
Ada sebuah cerita nyata tentang seorang anak perempuan bernama Ochie. la mengidap leukemia (kanker darah). Bulan demi bulan ia melalui perjuangannya. Semangat hidupnya tergambar jelas dalam salah satu status di twitter-nya( media sosial). Ochie menulis:I have cancer, I hate cancer, and I’m killing cancer”. Setelah 10 bulan berjuang, akhirnya Ochie menghembuskan nafas terakhir. la sempat berpesan pada adiknya, supaya menjaga kesehatannya. la sempat memeluk erat papanya. la juga sempat mengucapkan terimakasih kepada mamanya yang tidak pernah lelah menemani dan merawatnya selama sakit. Banyak orang yang mengenalnya menangis dan bertanya “KENAPA TUHAN”. Di tengah-tengah pertanyaan tersebut, ternyata dua hari sebelum pulang ke rumah Bapa, Ochie berkata kepada mamanya: “Mama, rumah baruku sudah selesai. Tuhan Yesus sudah menyediakan rumah baru untuk Ochie. Jadi Ochie harus pulang, pertandingannya sudah selesai. Ochie sudah sampai di garis finish”.
Kita juga sering bertanya, “Kenapa Tuhan”, ketika mengalami kejadian-kejadian yang menyedihkan atau yang tidak diinginkan. Seperti dalam perikop bacaan ini. Seorang yang saleh, yaitu Yohanes Pembaptis, yang merintis kedatangan Tuhan Yesus, harus menghembuskan nyawanya dengan cara yang sadis. la dipenggal di dalam penjara. Kepalanya ditaruh di sebuah talam. Suatu peristiwa yang membuat kita bertanya, “Kenapa Tuhan”, bukankah ia seorang yang memberitakan Engkau?
Kadang kala Tuhan mengijinkan sesuatu yang berbeda dari yang kita harapkan, bahkan sulit dipahami dengan akal terjadi. Meskipun penderitaan selalu ada di dunia ini, namun sebagai murid Kristus kita dapat menjalaninya dengan cara yang berbeda. Ibaratnya ada 1000 orang yang menderita leukemia, Tuhan Yesus mengijinkan satu orang diantaranya adalah murid-Nya yang tabah dan setia, seperti Ochie. la menjalani penderitaannya dengan cara yang berbeda sebagai anak Tuhan dan akhirnya beroleh kebahagiaan kekal.
KJ. 416 : 1, 2
Doa : (Tuhan Yesus, meskipun berbeda dengan harapan pribadi, kami tetap yakin inl yang terbaik dari-Mu)
MINGGU III SESUDAH EPIFANI
Rabu, 27 Januari 2021
Renungan Malam
KJ. 144b : 1 – Berdoa
IMAN TANPA BATAS
Matius 15 : 21 – 28
“Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya” (ay. 27)
Di masa pandemi covid 19, segala sesuatu dalam kehidupan sosial dibatasi. Kita tidak boleh berkumpul. Semua dillakukan dirumah. Bekerja, sekolah dan beribadah dari rumah. Gereja-gereja pun terdampak, sehingga tidak bisa beribadah bersama dalam gedung Gereja, termasuk GPIB. Suka tidak suka Gereja harus menjalaninya, Gereja beradaptasi dengan keadaan tersebut, sehingga melaksanakan ibadah secara virtual daring (dalam jaringan). Dari sinilah kita mengenal istilah “Gereja borderless” atau “Gereja tanpa batas”. Gereja yang melaksanakan ibadahnya tanpa dibatasi dengan tembok-tembok atau bangunan Gereja.
Gereja yang tanpa batas ini tentu berawal dari iman kepada Tuhan Yesus yang punya kuasa tidak terbatas. Iman kepada Tuhan Yesus tidak dapat dibatasi oleh waktu, tempat, dan orang atau kelompok tertentu. Semua manusia di mana saja mempunyai kesempatan untuk menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, seperti perempuan Kanaan dalam perikop bacaan ini. Meskipun ia bukan orang Yahudi, namun mempunyai kesempatan mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan mendapat pertolongan-Nya. Tuhan Yesus juga melihat, bahwa perempuan Kanaan itu mempunyai iman yang besar, sehingga Dia mengabulkan permohonannya dengan menyembuhkan anaknya.
Kita masing-masing juga mempunyai pergumulan dan ingin dapat mengatasinya. Firman Tuhan mengajarkan kita tentang iman yang tanpa batas. Itulah iman kepada Tuhan Yesus Kristus yang dapat mengatasi segala pergumulan apapun. Kita hanya diminta untuk datang mendekat kepada-Nya, bukan makin menjauh. Mari semakin setia beribadah dan memohon dengan segala kerendahan hati, serta mengakui, bahwa Yesus adalah Tuhan yang dapat menolong kita. Perempuan Kanaan yang melakukan itu, dikabulkan permohonannya dan anaknya sembuh. Jadi ingatlah, bahwa Yesus Kristus itu Tuhan yang borderless. la sungguh Mahapengasih. Jika taat dan beriman kepada-Nya, maka keimanan kita adalah iman yang borderless. Artinya, IMAN YANG TANPA BATAS. Dengan demikian, kita juga akan dipulihkan dan mendapat pertolonganNya yang tanpa batas.
KJ. 144b : 2, 3
Doa : (Tuhan Yesus, kami percaya kuasa-Mu sungguh tak terbatas. Mohon tolonglah kami dalam segala pergumulan yang sedang dihadapi)
