MINGGU TRANSFIGURASI
Senin, 28 Februari 2022

Renungan Pagi

KJ. 424 : 1,2 – Berdoa

CAHAYA DI HATI MANUSIA

2 Korintus 4 : 5 – 9 

Sebab Allah yang telah berfirman : “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. (ay.6) 

Seorang pelukis berusaha melukiskan figur orang kudus (setengah badan) tanpa tulisan atau penjelasan. Namun, setiap orang yang melihatnya langsung mengenali orang kudus itu karena di bagian kepalanya ada lingkaran bercahaya. Lingkaran bercahaya di bagian kepala akhirnya dijadikan sebagai simbol kekudusan pada suatu lukisan.

Judul renungan kita, Cahaya di Hati Manusia. Bagaimanakah kita dapat menggambarkan judul tersebut dalam realitas? Allah-lah yang telah menerbitkan terang itu bercahaya di dalam hati manusia (ay.6) sehingga kita disebut anak-anak terang. Pertanyaannya, Apakah setiap orang dapat melihat terang dan merasakan kehangatan cahaya yang terpancar dari diri kita? Firman Tuhan berkata “Dari dalam gelap akan terbit terang”. Roh Allah-lah yang terbit dan bersinar di kegelapan hidup manusia, bagaikan hana rohani yang tersimpan di dalam bejana tanah. Karena itu Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Ams.4:23). Artinya, hati adalah sumber kehidupan manusia. Hati yang baik melahirkan pikiran, perkataan, perbuatan yang baik. Hati yang jahat, melahirkan kejahatan.

Allah adalah terang yang sesungguhnya. Suatu terang yang tak terhampiri, hanya terjangkau di dalam anaknya Yesus Kristus. Manusia tidak perlu mendatangi terang itu, karena Yesus sendiri akan datang untuk menerangi hati manusia yang hidup di kegelapan. Jika hati manusia diterangi cahaya kasih Allah, maka teranglah juga perjalanan hidupnya. Terang kasih Kristus akan terus bercahaya bagi mereka yang hidup di kegelapan.

Hidup kita adalah gambaran cahaya kasih Allah di tengah kegelapan dunia untuk menerangi kehidupan setiap orang yang hidup di dalamnya. Bagaikan Mercu Suar yg dapat membantu para nakhoda membawa keluar-masuk kapal mereka dari dan menuju dermaga dengan selamat.

KJ. 424 : 3,4 

Doa : (Mampukanlah kami ya Tuhan untuk menjaga terang kasih yang telah Engkau percayakan di dalam hidup kami)

MINGGU TRANSFIGURASI
Senin, 28 Februari 2022

Renungan Malam

GB. 40 : 1,2 – Berdoa

MEMAKNAI KEMATIAN DAN KEHIDUPAN KRISTUS

2 Korintus 4 : 10 – 15 

Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, …. (ay.15a) 

Mengartikan sesuatu mungkin lebih mudah dari pada memaknainya, benarkah? Rasul Paulus berkata, ia akan membawa kematian Yesus ke dalam dirinya sehingga kehidupan-Nya menjadi nyata dalam dirinya. Apakah rasul Paulus sedang mengartikan atau memaknai kematian dan kehidupan Yesus ?

Dia tahu pasti, kematian Yesus Kristus memberikan pengampunan dan penebusan dosa serta keselamatan bagi dunia. lnilah bentuk nyata Kasih Allah di dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya kepada-Nya sehingga manusia tidak mengalami kematian kekal melainkan hidup yang kekal. Jika kematian Yesus mengandung makna yang mendalam bagi kehidupan manusia, sudah seharusnya kehidupan Yesuspun mengandung makna yang mendalam bagi manusia seutuhnya.

Satu bentuk keteladanan hidup yang Yesus lakukan khususnya di tengah penderitaan dan kematian-Nya tampak dalam ketaatan dan kesetiaan. IA melakukannya untuk kepentingan manusia (ay.15), dengan penuh kasih IA tetap melaksanakan Kehendak Bapa-Nya atas manusia dan dunia ini agar setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa (Yoh 3:16). Renungkanlah.

Pertanyaannya, sudahkah hidup dan kematian Kristus kita maknai secara mendalam di dalam hidup ini sehingga kitapun akan dimampukan untuk berkata seperti yang rasul Paulus katakan? “..bagiku hidup itu adalah Kristus… jika aku harus hidup didunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang aku harus pilih…” (Flp.1:21-22)

Sekalipun Rasul Paulus diperhadapkan pada pilihan, dia tetap berpijak pada prinsip hidupnya, yaitu hidup dan kehidupannya berasal dari Kristus. Karena itu rasul Paulus hanya mau hidup di dalam dan hanya untuk Kristus saja. Bersediakah kita selaku Gereja Tuhan di dunia ini memaknai kehidupan maupun kematian Kristus secara mendalam di setiap pelayanan, kesaksian serta persekutuan kapanpun dan di manapun?

GB. 40 : 3

Doa : (Mampukanlah kami ya Tuhan untuk meneladani hidup dan kematian-Mu bagi kepentingan kami manusia)

Scroll to Top