HARI MINGGU ADVEN I
Minggu, 28 November 2021

Renungan Pagi

KJ. 40 : 1,2 – Berdoa

KEBERSAMAAN YANG MEMBAWA DAMAI SEJAHTERA 

Lukas 5 : 17 – 26

Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. (ay. 25)

Adakalanya kita menyaksikan orang-orang dengan sikap aneh, yaitu, “susah melihat orang senang, dan senang melihat orang susah”. Artinya merasa senang, ketika orang Iain mengalami kerugian. Secara psikologis, kesenangan tersebut timbul dari rasa iri pada kehidupan orang Iain sebagai pesaingnya. Bahkan mengharapkan kesusahan pesaingnya. Bukan hal yang mudah menerima dengan lapang dada segala kelebihan dan kekurangan orang lain. Termasuk orang Farisi dan para ahli kitab yang merasa resah terhadap popularitas Yesus. dalam pelayanan.

Hal tersebut begitu berbeda dengan beberapa penolong, yang memiliki karakter menonjol terutama dalam hal kepedulian kepada orang lemah. Mereka itu adalah orang-orang yang berupaya dengan gigih membawa seseorang yang sakit lumpuh kepada Yesus. Mereka sangat percaya kepada kuasa Yesus yang dapat menyembuhkan. Orang sakit lumpuh itu tentu juga demikian, sehingga dia mau diusung dan diturunkan dari atap untuk bertemu Yesus. Sementara itu orang Farisi dan ahli kitab, hanya menonton dan berkomentar negatif terhadap tindakan Yesus yang mengampuni dosa. Yesus mem berikan bukti, bahwa dosa orang lumpuh itu telah diampuniAllah. Buktinya adalah ketika la berkata kepada si lumpuh, “Bangunlah”. Lalu orang lumpuh itupun bangun. Dalam hal ini Yesus sekaligus memberi solusi terhadap keberdosaan yang membuat hidupnya lumpuh.

Melalui perikop ini kita diingatkan, supaya gigih memperjuangkan apa yang diimani untuk membawa kebaikan dan sukacita bagi sesama. Kasih dan kuasa Tuhan di dalam Kristus memberi jawaban yang tepat terhadap persoalan hidup. Masalahnya adalah apakah kita mau datang meraih dengan gigih kasih karunia-Nya yang telah disediakan-Nya? Mari kita upayakan kebersamaan yang membawa damai sejahtera dalam iman kepada Kristus.

KJ. 40 : 3,4

Doa : (Roh Kudus mampukan kami menolong saudara kami yang lemah dan mengucap syukur sebab Tuhan mengasihinya)

HARI MINGGU ADVEN I
Minggu, 28 November 2021

Renungan Malam

GB. 3 : 1 – Berdoa

RITUAL YANG DARI HATI

Lukas 5 : 33 – 39

Jawab Yesus kepada mereka: “dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? (ay. 34)

Sikap iri terhadap orang Iain bukan hanya merusak relasi kita dengan orang tersebut, tetapijuga merusak kebahagiaan diri kita sendiri, karena tidak menerima kelebihan orang lain sehingga tidak ada ketenangan di dalam diri. lnilah yang kita lihat di dalam diri orang-orang Farisi, yang iri terhadap karya Yesus, sehingga berusaha menjatuhkan dan mencari kelemahan-Nya dengan mempertanyakan murid-murid-Nya yang tidak berpuasa seperti halnya murid Yohanes Pembaptis dan murid-murid Farisi.

Pertanyaan mereka tentang “puasa” secara tidak langsung berisi penghakiman. Yesus tahu alasan di balik kritikan orang-orang Farisi, sesungguhnya bukan persoalan puasa atau tidak puasa melainkan hanya mencari kesalahan sekecil apapun dari Yesus. Oleh karena itu Yesus menjawab kritikan mereka dengan tiga perumpamaan, yaitu tentang “pesta perkawinan”, “baju yang tua” dan “anggur yang baru”. Tiga perumpamaan ini sebenarnya memiliki pesan serupa. Keberadaan Yesus mau memperbaiki praktek-praktek keagamaan yang salah termasuk hal berpuasa. Sebab, tidak jarang orang menjalankannya sekadar ritual dan kewajiban, bukan berangkat dari hati yang terdalam. Yesus mau mengajak orang-orang pada waktu itu melihat, memahami dan menjalankan peraturan keagamaan dengan cara baru.

Ketika ibadah yang kita jalani sekadar memenuhi kewajiban agama jelas adalah suatu kesalahan, terlebih jika diikuti dengan sikap iri. Hal itu bukan saja merusak relasi kita dengan sesama tetapi juga dengan Tuhan, bahkan membuat ibadah-ibadah kita menjadi sia-sia. Yesus menegaskan bagi kita saat ini, bahwa dalam setiap ritual yang kita Iakukan bertolak dari hati yang mengasihi Tuhan, bukan sekadar menjalankan kewajiban. Cara baru yang ditekankan Yesus adalah nilai dan maknanya bagi kehidupan saat ini, yaitu terjadinya pembaharuan di dalam diri secara pribadi.

GB. 3 : 3

Doa : (Inilah kami ya Tuhan yang senantiasa mau bersyukur dan memuliakan nama-Mu dengan segenap hati)

Scroll to Top