MINGGU XXV SESUDAH PENTAKOSTA
Kamis, 26 November 2020

Renungan Pagi

KJ. 467 : 1 – Berdoa

TAK MENGHITUNG PELANGGARANMU

2 Korintus 5 : 16 – 20

“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. la telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami” (ay. 19)

Perbedaan pendapat yang berujung pada mengeluarkan kata-kata yang saling menyakitkan membuat si Ani menyimpan rasa sakit hati terhadap si Uli yang adalah saudaranya sendiri dari pihak suami. Sebenarnya peristiwa itu sudah lama namun tetap saja diingat. ltu membuat acara “kumpul keluarga” sering tak berjalan dengan baik. Bila menyimpan rasa sakit hati, maka akan sulit mengampuni apalagi mendamaikan orang lain.
 
Paulus sadar, bahwa dia ditugaskan untuk mengajak semua orang menerima persahabatan dari Tuhan yang tidak memperhitungkan pelanggaran yang dilakukan. Karena itu ia berjuang menjangkau dan menceritakan agar semua orang mendengar bahwa Tuhan telah turun ke dunia di dalam diri Yesus Kristus, untuk dapat bertemu dengan manusia. Memang ada halangan, karena pelanggaran kepada perintah Tuhan telah membuat manusia tak dapat bertemu dengan-Nya. Namun demikian, Tuhan telah mengalahkan penghalang-penghalang itu, sehingga kita dapat dilayakkan menjadi rekan sekerja-Nya.
 
Membenarkan diri apalagi menganggap tidak pernah bersalah, membuat kita menutup kesempatan mengampuni kesalahan orang lain. Padahal tak mungkin kita selalu benar. Karena itu, adalah perlu menerima orang lain yang bersalah kepada kita. Tuhan sendiri telah mengajarkan kepada kita, agar mengampuni orang lain bila kita mau menerima pengampunan dari-Nya. Sebagai pengikut-Nya, kita juga harus berusaha meyakinkan orang lain untuk berani datang memohon pengampunan Tuhan. Sebab Tuhan mau memanggil semua orang datang kepada-Nya. Kita juga bertugas mengajak orang lain untuk saling berdamai satu dengan yang lain. Karena kita sendiri telah didamaikan oleh-Nya.

KJ. 467 : 2

Doa : (Syukur pada-Mu Tuhan, karena kasih-Mu menyadarkanku mau mengampuni orang lain)

MINGGU XXV SESUDAH PENTAKOSTA
Kamis, 26 November 2020

Renungan Malam

KJ. 277 : 1, 2 – Berdoa

WAKTU TUHAN DAN WAKTU KITA MEMANG BEDA

2 Petrus 3 : 1 – 9

“Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari” (ay. 8)

Kadang-kadang merasa jengkel juga menyaksikan orang yang sudah lama berbuat jahat dan hingga kini tetap melakukan kejahatan namun nampak sehat, bahkan hidup senang. Mengapa Tuhan membiarkannya? Bukankah lebih baik dia segera dibinasakan, agar kejahatannya tidak terulang dan tak ditiru yang lain? Mengapa Tuhan seolah-olah membiarkan kejahatan merajalela?
 
Ada pendapat yang mengatakan, bahwa Tuhan tidak peduli dengan kehidupan umat manusia di dunia ini. Kita dibiarkan saja melakukan apapun sekehendak hati dan tak akan dihukum. Keadaan dunia sejak dulu hingga sekarang pun demikian juga. Jadi, lakukan saja yang kita kehendaki. Tuhan Yesus tidak akan datang kembali untuk memperbarui bumi. la tidak akan menghukum orang yang jahat. Padahal sebenarnya, Tuhan pasti datang kembali sesuai janji-Nya. Bila seolah-olah tertunda, itu karena la tak mau seorangpun binasa. la memberi kesempatan, agar manusia bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Waktu Tuhan berbeda dengan saat yang kita kehendaki. la yang tahu kapan saatnya bertindak.
 
Sesungguhnya hidup ini ‘kesempatan emas’ untuk berbuat baik dan meninggalkan yang jahat sebelum kedatangan Tuhan. Kita harus berjuang melakukan Firman Tuhan, sebab tak ada yang tahu kapan waktu-Nya. Jangan sampai kita ditemukan bercacat dan bercela. Jadi, jangan biarkan waktu terbuang percuma, sebab seringkali tak ada kesempatan kedua. Kedatangan Tuhan itu seperti pencuri pada waktu malam. Tak ada yang tahu kapan. Dia setia dan adil, maka pasti menepati janji-Nya. Yang jahat akan dihukum-Nya.

KJ. 277 : 3, 4

Doa : (Mohon bimbinglah kami ya Tuhan, agar tetap berada di jalan-Mu dan tak salah melangkah)

Scroll to Top