MINGGU III SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 26 Juni 2020

Renungan Pagi

HARI ANTI MADAT/NARKOBA

KJ. 367 : 1 – Berdoa

CARA MENGUNDANG BERKAT TUHAN

Mazmur 133 : 1 – 7

Sungguh, alangkah baiknya dan Indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! (ay. 1)

   Dalam tradisi Israel, ziarah biasanya dilakukan ke Kemah suci atau Kaabah yang berada di sebuah bukit di kota Yerusalem. Sementara Yerusalem itu adanya di atas bukit. Karena itu, ziarah adalah perjalanan yang pasti melelahkan. Dengan menyanyikan nyanyian Ziarah sambil mendaki, kelelahan terlupakan karena makin dekat ke kemah suci. Nyanyian ziarah membuat perjalanan ziarah yang sedang dilakukan sungguh-sungguh dihayati justru karena temanya adalah persaudaraan yang rukun. Persaudaraan yang rukun itu menyejukkan dan melegakan hati di tengah kehidupan yang panas karena persaingan dan gesekan antar individu. Ke dalam persaudaraan yang rukun itulah Tuhan memerintahkan berkat kehidupan untuk selama-Iamanya, bukan ke dalam perkumpulan yang saling berseteru, egois dan kacau balau. Ke dalam persekutuan persaudaraan yang rukunlah Tuhan bukan sekedar menuangkan berkat melainkan memerintahkan berkat. Ini pasti, bukan mudah-mudahan!

   Millenium kita ditandai karakter egoisme dan individualisme. Persekutuan dan persaudaraan dipandang sebagai ketinggalan zaman. Padahal nyatanya kita tetap membutuhkan sesama, karena itu harus mempertimbangkan kehadiran dan kepentingan mereka. Tanpa itu kita akan berubah menjadi robot. Sementara kita sadari bahwa robot sungguhan tidak pernah merupakan karya satu orang. Robot selalu menjadi karya banyak orang, bahkan yang berbeda disiplin pengetahuan. Tuhan bersetuju dengan persaudaraan yang rukun, bukan individualisme yang hanya mau menang sendiri dan merasa sukses setelah mampu memanipuIasi orang lain. itu bukan persaudaraan. Itu kelicikan. Kita semua bisa hidup dalam persaudaraan dan kerukunan. Bersaudara secara rukun menjadi cara untuk kita mengundang berkat Tuhan ke dalam kehidupan manusia di atas dunia ini. Sekarang kita sadar. Berkat Tuhan dapat kita undang ke dalam kehidupan ini. Jadi kita sesungguhnya bisa, hanya sering tidak mau.

KJ. 367 : 2

Doa : (Ya Bapa, tolong berikanlah hati yang mendambakan kerukunan dan angkatlah dari kami semua sikap perseteruan. Amin)

MINGGU III SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 26 Juni 2020

Renungan Malam

HARI ANTI MADAT/NARKOBA

KJ. 453 : 1 – Berdoa

TUHAN YESUS SAHABAT TERCINTA DAN ERAT

Amsal 18 : 24

Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara. (ay. 24)

   Sorotan filosofis Salomo tentang sesama kita, menarik untuk disimak. Sesama kita yang pertama adalah saudara. Gradasinya dari saudara kandung, sampai yang satu kampung. Sesama kita yang kedua adalah teman. Gradasinya dari teman satu kampung, sampai rekan kerja. Teman yang sangat akrab adalah sahabat karib. Memang tidak semua saudara dan sahabat memiliki motivasi yang jujur dan tulus. Persaudaraan bisa menjadi longgar, karena berbagai alasan, tapi sahabat karib adalah teman yang hatinya selalu dekat dengan kita. Orang pertama yang menolong, jauh sebelum saudara kita sendiri sempat mengulurkan tangan.

   Istilah yang sering digunakan untuk melukiskan hubungan kita dengan Yesus adalah ‘sahabat’. Dia begitu dekat dengan kita. Ia tahu dan pernah mengalami semua bentuk kesedihan yang kita alami. Ia pun mengalami semua bentuk ketidakadilan dan malu yang pernah melanda diri kita. Dia dekat dan memberi kekuatan pada saat-saat sulit, agar kita memandang pergumulan sebagai tantangan yang harus dimenangkan. Dia dekat pada saat-saat sukses, agar kita memandang keberhasilan dalam sukacita sebagai sesuatu yang kudus yang harus dipersembahkan sebagai syukur, bukan hura-hura yang bisa mendatangkan huru-hara.

   Jangan takut datang kepada Yesus Kristus, dan menjadikan Dia sebagai sahabat. Sebab Dia selalu menunggu kita. Kepada setiap kita yang menceritakan derita hati, Dia berucap lembut,“Anak-Ku… Aku mengerti deritamu. Bukan karena engkau sudah mengungkapkannya kepadaKu, tetapi karena Aku sudah jauh lebih dahulu mengalaminya”. Untuk Sahabat yang seperti ini, bagi Tuhan yang mengerti semua keluh dan gumul, kita hanya dapat menjawab-Nya dengan syukur dari kedalaman jiwa. “Terima kasih Tuhan, aku tidak dibiarkan sendiri”.

KJ. 453 : 2

Doa : (Ya Bapa, mohon berikanlah hati dan pikiran yang tulus dan jujur supaya mampu menampilkan Yesus Kristus sebagai sahabat karib kami melalui perilaku kehidupan hari lepas hari. Amin)

Scroll to Top