HARI NATAL II
Sabtu, 26 Desember 2020
BAPTISAN KUDUS
Renungan Pagi
GB. 150 : 1, 2 – Berdoa
MENJAGA ANAK HADAPI TANTANGAN
Matius 2 : 13 – 15
Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir (ay. 14)
Cinta seorang ibu itu menenangkan. Cinta seorang ayah itu menguatkan. Ungkapan ini merupakan gambaran pentingnya peran orang tua dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua yang taat akan telaten menjaga dan memelihara kehidupan anak dengan segala daya juang yang harus dilakoni.
Ungkapan di atas menggambarkan masa kanak-kanak Yesus yang diawali dengan berbagai tantangan dan kesulitan hidup. Yusuf melalui mimpinya diperintahkan oleh malaikat Allah untuk lari ke Mesir. Mengapa Allah mengarahkan Yusuf untuk membawa keluarganya (bayi Yesus dan ibu-Nya) ke Mesir? Pertama, Mesir bukan wilayah kekuasaan Herodes, karena itu mereka terhindar dari niat jahatnya. ltu berarti, bayi Yesus mengawali hidup-Nya sebagai seorang asing dan pengungsi di negeri orang. Kedua, ayat 15 sejajar dengan ungkapan Hosea 11:1. Yang dimaksud dengan “Anak-Ku” adalah Israel. Dalam sejarah Israel, Mesir adalah tempat penyembahan berhala, kejahatan yang merajalela, perbudakan dan pembunuhan bayi-bayi Israel. Meskipun tempat itu dipandang buruk bagi manusia, namun Allah dapat menggunakannya untuk tujuan yang baik.
Dalam pandangan Allah, Mesir adalah tempat yang aman bagi bayi Yesus. Selama di Mesir, Allah tetap memelihara dengan anugerah damai sampai Dia memberitahukan kepada mereka saatnya untuk kernbali. Yesus adalah intisari dari bangsa Israel. Ketika bangsa Israel gagal menjalankan misi Allah, maka Yesus satu-satunya pribadi sempurna yang sanggup melaksanakannya.
Kehadiran anak dalam keluarga mendatangkan sukacita sekaligus tantangan. Setiap anak di dalam kehidupan keluarga ada dalam rancangan dan misi Allah. Ketaatan orang tua kepada Allah di tengah gejolak dan gelombang tantangan zaman merupakan bentuk kesetiaan untuk menjalankan misi-Nya bagi anak.
GB. 150 : 3, 4
Doa : (Tuhan Yesus, tolong mampukan kami menjadi orang tua yang siap menjaga anak-anak dalam hadapi tantangan jaman)
HARI NATAL II
Sabtu, 26 Desember 2020
Renungan Malam
GB. 145 : 1, 4 – Berdoa
KENDALIKAN MARAH DENGAN BIJAK
MATIUS 2 : 16 – 18
Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah (ay. 16a)
Marah adalah salah satu bentuk emosi yang sama seperti seseorang tertawa atau menangis. Penyebab kemarahan banyak faktornya. Pada umumnya orang marah, karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang diinginkan. Itu membuatnya merasa tidak senang. Marah juga bisa disebabkan, karena penyakit yang sedang dirasakan dalam tubuh manusia dan memengaruhi emosinya.
Kemarahan Herodes dalam bacaan ini disebabkan keinginannya yang terusik. Herodes marah terhadap seorang Bayi bernama Yesus yang dipandang mengancam kekuasaannya. Apalagi tiga orang majus dari Timur, secara khusus datang menemui Bayi Yesus untuk menyembah dan mempersembahkan hal-hal yang sangat berharga dalam budaya mereka sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan diri, bahwa Dia (Yesus) adalah Raja. Iri hati merasuki perasaan Herodes dan berakibat pada tindakan kejam terhadap bayi-bayi di usia dua tahun ke bawah. Herodes membunuh bayi-bayi itu sebagai bentuk kemarahannya terhadap sikap para majus dan rasa takut kehilangan kekuasaan – kedudukan sebagai raja. Peristiwa ini menjadi catatan sejarah Kristen guna mengingatkan kita, bahwa Yesus hadir untuk mendatangkan damai sejahtera bukan kebencian. Kebencian Herodes terhadap Yesus merupakan gambaran tantangan yang akan dihadapi-Nya di masa akan datang. Pembunuhan massal yang dilakukan oleh Herodes berakibat pada ratapan ibu-ibu yang kehilangan anak-anak mereka.
Gambaran pribadi Herodes mengingatkan kita, agar tidak mengambil keputusan di saat sedang marah. Keputusan yang diambil dalam keadaan marah kadang menimbulkan tindakan yang fatal dan merugikan diri sendiri. Akibatnya penyesalan seumur hidup. Kendalikanlah amarah dengan bijak dalam menghadapi persoalan. Sebelum mengambil keputusan hendaknya memerhatikan dan memertimbangkan manfaat sekaligus risikonya, serta meminta orang lain yang dapat membantu untuk melihat dengan lebih bijaksana.
GB. 145 : 5, 6
Doa : (Tuhan Yesus, tolong aku, agar dapat mengendalikan diri dengan baik, sehingga tidak mudah marah terhadap orang Iain)
