MINGGU III SESUDAH EPIFANI
Rabu, 26 Januari 2022

Renungan Pagi

GB. 50 : 1 – Berdoa

YANG SEKARANG BUKAN LAGI YANG DULU

Kejadian 44 : 18 – 34

… baiklah hambamu ini tinggal menjadi budak tuanku menggantikan anak itu, dan biarlah anak itu pulang bersama-sama dengan saudara-saudaranya (ay. 33) 

Setiap orang mempunyai masa lalu. Ada yang menyakitkan, bahkan menimbulkan trauma. Kita tidak bisa mengubah masa lalu itu, tapi sebaliknya masa lalu dapat mengubah kita menjadi lebih baik atau lebih buruk. Karena manusia dapat belajar dari masa lalu, sehingga masa lalu sekalipun itu buruk dapat menjadi batu pijakan / Ioncatan seseorang menjadi lebih baik.

Yehuda mewakili saudara-saudaranya mengadakan pembela-an di hadapan Yusuf bagi Benyamin. Ia menceritakan perihal ayahnya yang sudah tua dan sangat mengasihi Benyamin. Yehuda telah berjanji untuk membawa pulang Benyamin dengan selamat, jika tidak, ayahnya akan mati. Oleh karena itu, Yehuda memohon untuk menggantikan Benyamin menjadi budak Yusuf dan membiarkan Benyamin dan saudara-saudaranya kem bali kepada ayah mereka. Apa yang dilakukan Yehuda ini, menunjukkan kebesaran jiwanya. Karena ketaatan dan kesetiaannya kepada ayahnya, ia rela mem pertaruhkan hidupnya. Yehuda sekarang bukan Yehuda yang dulu. Dulu ia seorang yang paling bersemangat menjual Yusuf ke Mesir, tapi sekarang ia rela berkorban untuk kesejahteraan ayah dan saudara-saudaranya. Dulu ia seorang yang egois dan pengecut, sekarang ia seorang yang bertanggungjawab dan berani. Meskipun ia bukan anak yang sulung, tapi ia berani mengambil tanggung jawab tersebut dan kelak Tuhan mem berkati keturunan Yehuda. Mungkin ia juga mau menebus kesalahannya di masa lalu, tapi yang jelas Yehuda telah mengalami pembaharuan hidup.

Tuhan mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik, asal kita mau membuka hati untuk diubah Tuhan. Tuhan mampu menjadikan kita sebagai pribadi yang peduli dan mengasihi orang lain. Oleh karena itu, jangan menghalangi kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita. Marilah memulai hari ini dengan bersyukur seraya membuka hati untuk semakin memberikan ruang bagi Tuhan bekerja melalui dan di dalam hidup kita.

GB. 50 : 2

Doa : (Ya, Tuhan ubahkan hidup kami agar sesuai dengan kehendak-Mu)

MINGGU III SESUDAH EPIFANI
Rabu, 26 Januari 2022

Renungan Malam

GB. 61 : 1 – Berdoa

MELANGKAH DENGAN IMAN

Kejadian 46 : 1 – 7

Lalu firman-Nya: “Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir…. (ay. 3,4) 

Satu hal yang sangat ironis dalam kehidupan kita, jika kita tidak mempunyai suatu tujuan sama sekali. Jika kita tidak mempunyai suatu tujuan, kita pun tidak akan pernah mencapai sesuatu yang berarti dalam hidup ini. Tujuan hidup orang Kristen sebenarnya ada dalam rencana Tuhan. Rencana Tuhan itulah yang memberikan kepada kita suatu tujuan hidup yang pasti dan akan kita dapatkan apabila kita melangkah dengan iman, percaya akan janji penyertaan Tuhan dalam hidup ini.

Yusuf sudah memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya bahwa ia penguasa Mesir itu. la menyuruh saudara-saudaranya pulang ke Kanaan untuk menjemput dan mengajak ayah serta saudara-saudaranya tinggal di Mesir dekat dengannya agar ia dapat memelihara kehidupan mereka. Namun bagi Yakub, pergi dan tinggal di Mesir bukanlah pilihan, apalagi terpaksa, mengingat Kanaan adalah tanah yang diberikan Tuhan kepada Yakub dan keturunannya berdasarkan janji Allah pada Abraham. Oleh karenanya, dalam perjalanan ke Mesir ketika tiba di Bersyeba, ia mempersembahkan kurban sembelihan kepada Allah. Suatu tindakan iman bahwa Yakub mau memercayakan rencana perjalanan pada Tuhan dan tinggal di Mesir. Tuhan berfirman agar jangan takut ke Mesir, sebab Ia akan memberkati dengan membuat Yakub menjadi bangsa yang besar di sana, menyertainya dan akan membawanya kembali ke Kanaan. Janji dan berkat Tuhan ini meneguhkan Yakub ke Mesir. Yakub tidak ragu Iagi, karena ada jaminan berkat penyertaan Tuhan bagi dia dan keturunannya.

Kita harus berani melangkah dengan iman yaitu memercayakan perjalanan hidup kita dalam penyertaan Tuhan. Tuhan sanggup mengarahkan, bahkan mengubah tujuan hidup kita sesuai rencana-Nya. Biarlah kita menyerahkan tujuan hidup kita dalam tuntunan-Nya agar menjadi bagian rencana Tuhan yang indah dan mendatangkan damai sejahtera bagi orang lain di mana Tuhan menghadirkan kita.

GB. 61 : 2,3

Doa : (Ya, Tuhan mampukan kami mengarahkan tujuan hidup kami sesuai rencana-Mu karena rencana-Mu indah bagi kami)

Scroll to Top