MINGGU IV SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 23 Juni 2021
Renungan Pagi
GB. 169 : 1,2 – Berdoa
MERESPON CERCAAN DAN HINAAN
Nehemia 4 : 1 – 5
Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan. (ay. 4)
Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih. Tapi bagaimanapun tetaplah berbaik hatilah. Bila engkau jujur, mungkin saja orang lain akan menipumu, tapi bagaimanapun berbuat jujurlah. Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang, tapi bagaimanapun, berbuat baiklah. Bagaimanapun berikanlah yang terbaik dari dirimu. Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu. Ini bukan urusan antara engkau dan mereka (Bunda Teresa).
Nehemia beserta orang-orang Yahudi yang baru saja memulai pembangunan tembok Yerusalem menerima cemoohan dan ejekan yang pedas dari Sanbalat dan Tobia. Nehemia memandang serangan tersebut bukan sekadar hinaan terhadap mereka, melainkan terhadap Allah sendiri. Inisiatif pekerjaan tersebut berasal dari Allah. Itu sebabnya, penghinaan mereka pun tertuju kepada Allah. Nehemia tidak membalas hinaan dengan cercaan. Ia menyampaikannya kepada Allah. Dalam doanya, Nehemia menyerahkan para pengejeknya kepada Allah.
Sebagai umat yang telah ditebus oleh darah Kristus Yesus, kita dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah (Ef. 2:10). Setiap hari kita perlu meminta bimbingan Roh-Nya agar memampukan kita mengerjakan perkara-perkara yang memuliakan Allah Bapa di surga. Setia mengerjakannya, mulai dari perkara kecil, seperti berbicara jujur, berkata sopan, menghargai pekerjaan orang lain, menolong mereka yang berkekurangan, dsb.
Ada saja orang yang tidak menyukai perbuatan baik yang kita lakukan. Mereka dapat kita pandang sebagai alat yang Tuhan pakai untuk menguji ketulusan hati kita. Respon yang paling tepat terhadap sindiran, bahkan, terhadap ejekan dan cemoohan adalah dengan tetap berbuat baik. Urusan membalas kejahatan mereka serahkan kepada tindakan keadilan Allah.
GB. 169 : 3,4
Doa : (Roh Kudus nyatakanlah satu pekerjaan baik yang Allah sukai di dalam hati kami pada hari ini. Mampukanlah kami mengerjakannya dengan segenap hati sebagai ungkapan kasih kami kepada Bapa di surga)
MINGGU IV SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 23 Juni 2021
Renungan Malam
GB. 252 : 1,3 – Berdoa
BEKERJA DENGAN SEGENAP HATI
Nehemia 4 : 6
Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati (ay. 6)
‘Ya dengan segenap hatiku’. Itulah ikrar sekaligus komitmen pribadi yang diucapkan seorang anggota sidi menjadi pengikut Tuhan Yesus; atau ketika para presbiter dan pengurus pelayanan kategorial diteguhkan di hadapan Allah dan disaksikan jemaat. Ikrar pada momen yang sakral. Pemenuhan atas janji tersebut menuntut perhatian di semua kehidupan kita. Setiap saat. Di saat untung atau malang. Di saat senang, maupun susah. Di saat tenang, juga di saat tegang.
Nehemia dan orang Yahudi menanggapi hinaan dan cercaan masyarakat non-Yahudi yang tinggal di sekitar mereka dengan bekerja lebih giat. Mereka bekerja bersama dengan segenap hati. Mereka semula dipandang remeh, ternyata mampu mengerjakan pekerjaan yang luar biasa. Puing-puing tembok sekeliling kota Yerusalem yang hancur dan berserakan mampu dirikan kembali. Mereka bekerja bahu membahu membangun kembali kota suci mereka. Kondisi mengenaskan itu telah berlangsung lebih dari 150 tahun. Informasi itulah yang kemudian menggerakkan Nehemia meninggalkan semua kenyamanannya di istana Raja Artahsasta. Ia memimpin umat Yahudi yang sudah lebih dahulu tiba di Yerusalem.
Kehidupan orang beriman semestinya berbeda dengan orang yang hidup di luar iman. Perbedaannya terutama karena Allah hadir di dalam diri kita. Roh Kudus tinggal di dalam pusat kehidupan kita. Tubuh kita menjadi bait suci-Nya (1 Kor. 6:19-20). Roh Kudus terus menerus mengajarkan teladan Yesus dan pengajaran Yesus. Teladan Yesus terutama dalam penyangkalan diri-Nya dan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa. Kasih dan pengorbanan-Nya kepada semua ciptaan menjadi motivasi utama yang membedakannya dengan semangat dan cita-cita yang muncul dari kepentingan diri. Komitmen kolektif seluruh umat percaya dengan sepenuh hatilah yang mampu menjalankan kehidupan beriman semacam itu.
GB. 252 : 4,5
Doa : (Roh Kudus tautkanlah hati kami agar tetap berpegang pada janji penyertaan-Mu di dalam setiap keadaan. Perteguh iman kami dalam menunaikan peran yang telah Engkau tentukan bagi kami. Satukan hati kami agar pekerjaan baik yang dari-Mu kami wujudkan bersama)
