MINGGU III SESUDAH EPIFANI
Senin, 24 Januari 2022
Renungan Pagi
GB. 240 : 1 – Berdoa
MAKAN BERSAMA SEBAGAI REKONSILIASI
Kejadian 43 : 24 – 34
Lalu disajikan kepada mereka hidangan dari meja Yusuf, tetapi yang diterima Benyamin adalah lima kali lebih banyak dari pada setiap orang yang lain. Lalu minumlah mereka dan bersukaria bersama-sama dengan dia (ay. 34)
Perjumpaan Yusuf dengan saudara-saudaranya menimbulkan ketegangan meski saat itu Yusuf belum memperkenalkan dirinya. Pertemuan dengan Yusuf membuat mereka takut, tapi juga terheran-heran, sebab siapakah mereka sehingga bisa makan sehidangan dengan pembesar Mesir itu. Bagi Yusuf sendiri, pertemuannya dengan Benyamin membuatnya tidak bisa menahan emosi, sehingga ia menyingkir dan menangis.
Kemudian suasana mulai mencair saat Yusuf mengajak mereka makan bersama. Hal ini memperlihatkan bahwa Yusuf rendah hati dengan membuka diri menerima saudara-saudaranya. Dalam jabatannya di Mesir, bisa saja ia menunjukkan kekuasaannya dan membalas apa yang telah dilakukan saudara-saudaranya itu. Namun, itu tidak dilakukannya. Ia memilih merangkul mereka dalam kasih persaudaraan. Dalam makan bersama, Yusuf menguji saudara-saudaranya dengan mem berikan makanan lebih banyak kepada Benyamin. la ingin tahu apakah saudara-saudaranya masih memiliki sifat iri hati saat melihat Benyamin diperlakukan istimewa; mereka dahulu iri hati pada Yusuf, tapi pada akhirnya kini mereka makan, minum. dan bersukaria bersama Yusuf.
Allah bisa memakai cara apa saja untuk sebuah rekonsiliasi yaitu melalui makan bersama. Hubungan yang retak, tidak harmonis dipulihkan, prasangka dan kecurigaan berganti dengan kasih persaudaraan. Ketegangan diubah menjadi suasana yang menyenangkan. Jujur saja, pandemic covid-19 yang melanda kehidupan kita ada juga sisi baiknya yaitu memberikan kesempatan untuk banyak mengalami kebersamaan dengan anggota keIuarga di rumah. Mari, kita bangun kebiasaan-kebiasaan yang positif di tengah keIuarga kita. Allah akan bekerja melalui semuanya itu untuk mendatangkan kebaikan dan pembaharuan bagi kita umat-Nya.
GB. 240 : 1,3
Doa : (Mampukan kami ya Tuhan untuk membangun kebiasaan hidup yang positif dan menjadi berkat)
MINGGU III SESUDAH EPIFANI
Senin, 24 Januari 2022
Renungan Malam
GB. 254 : 1 – Berdoa
UJIAN HIDUP, PERLU
Kejadian 44 : 1 – 5
Dan pialaku, piala perak itu, taruhlah di dalam mulut karung anak yang bungsu serta uang pembayar gandumnya juga”. Maka diperbuatnyalah seperti yang dikatakan Yusuf (ay. 2)
Kedekatan dalam hubungan keluarga tidak bisa dilupakan begitu saja, apalagi terpisah jarak dan waktu. Namun, ketika ada kesempatan bertemu, pasti dicari cara bagaimana agar pertemuan tersebut dapat terjadi. Yusuf dan Benyamin telah lama berpisah. Keinginan Yusuf yang sangat besar untuk bertemu Benyamin mendorong ia membuat semacam trik atau cara yang tidak diketahui saudara-saudaranya. Puncaknya, ketika Yusuf menyuruh pelayannya untuk menaruh piala perak di dalam mulut karung Benyamin menjadi alasan kuat agar saudara-saudaranya dapat meninggalkan Benyamin di Mesir. Yusuf bukan bermaksud membohongi saudara-saudaranya, tapi ia menguji apakah mereka telah berubah dan bertobat. Jika membaca kisah Yusuf ini kita melihat bahwa Yusuf berkaIi-kali menguji saudara-saudaranya. Yusuf hanya ingin memastikan apakah saudara-saudaranya telah memiliki sikap hidup dan perilaku yang baik. Yusuf ingin mereka mengalami pembaharuan hidup.
Demikian juga Tuhan dalam memulihkan kehidupan kita yang terpuruk, karena dosa atau berbagai tantangan dan persoalan, la juga berkali-kali menguji kita, umat-Nya. lni bukan Tuhan tidak mengasihi, tapi la menghendaki agar umat-Nya mengalami pembaharuan hidup, lebih bijak dan mawas diri, dan lebih mengandalkan Tuhan. Oleh karena itu, tidak selamanya tantangan atau masalah itu negatif, tapi bisa menjadi positif sebagai ujian hidup, karena melalui semua itu Tuhan turut bekerja mendatangkan kebaikan dalam hidup kita, karena Tuhan mengasihi kita.
Malam ini, mari kita melihat kembali diri kita, apakah selama ini kita bersikap bijak dalam menghadapi segala tantangan dan persoalan serta membiarkan Allah melalui semua itu memulihkan dan membaharui hidup kita.
GB. 254 : 2
Doa : (Tuhan, ajarlah aku untuk melihat secara positif pergumulan yang terjadi agar semua itu mendewasakanku)
