MINGGU II SESUDAH EPIFANI
Sabtu, 23 Januari 2021
Renungan Pagi
KJ. 149 : 1, 2 – Berdoa
DIAMLAH! DENGARKANLAH! PERJUANGKANLAH!
Yohanes 9 : 24 – 34
Jawabnya : “Apakah orang itu, orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat” (ay. 25)
Belasan tahun yang lalu, saya melakukan pendampingan khusus tertutup bagi saudara warga jemaat yang diduga kerasukan setan. Setelah tiga jam, keluarga yang cemas bertanya, “Apakah setannya sudah keluar, Bu?” “Sudah! Namanya lapar”, jawab saya. Mereka tertawa, padahal saya serius. Sembari makan siang saya sampaikan tugas keluarga, hanya satu, yaitu mendengar. Saudara mereka tidak kerasukan, tetapi tidak pernah didengar, selalu dibantah, dipojokkan dan dibuat diam. Perempuan korban kekerasan ini tidak punya ruang bicara, sehingga dia terganggu secara mental dan fisik. Saya teringat sebuah film Indonesia berjudul 27 Steps of May (2018), tentang korban perkosaan tahun 1998 bernama May. Trauma dan Iuka yang May alami berdampak buruk baginya, juga ayahnya.
Saudaraku, perikop pagi ini mengisahkan keberanian Celidonius bersuara dan menyanggah kaum Farisi. Meskipun dibujuk dan ditekan kelompok penguasa untuk menyangkal pengalaman kesembuhan dan kebaikan Yesus (ay. 24-25), Celidonius tidak surut keberanian. la tetap bersaksi. Pengenalan orang tentang dia berubah, dari seorang pengemis buta menjadi pengikut Yesus (ay.28). Interaksi dengan Kristus dan orang Farisi memberi dampak yang berbeda bagi si celik mata. Pengalaman dan penderitaannya, justru menjadi daya juang untuk berani berargumentasi dengan ahli-ahli hukum Taurat tentang dosa (ay. 30-33). Kegagalan orang-orang Farisi mengintimidasi berakhir dengan pengusiran Celidonius dari sinagoge (ay. 34).
Saudaraku, pengalaman beberapa orang di atas menjadi refleksi bagi kita. Pengalaman dan perjuangan Saudara bisa menjadi kekuatan dan inspirasi bagi yang lain. Nama Kristus dimuliakan lewat kesaksian kita. Seberapa besar kemampuan kita menahan diri untuk mendengar pengalaman mereka yang menderita? Diamlah! Dengarkanlah! Perjuangkanlah!
KJ. 149 : 3, 4
Doa : (Tuhan Yesus, mohon ajarlah kami lebih banyak mendengar daripada berbicara)
MINGGU II SESUDAH EPIFANI
Sabtu, 23 Januari 2021
Renungan Malam
KJ. 40 : 1, 2 – Berdoa
CELIKKANLAH KAMI YANG BUTA INI, YA KRISTUS!
Yohanes 9 : 35 – 41
Kata Yesus : “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta” (ay. 39)
Amazing grace how sweet the sound that save a wretch like me. I once was lost but now I’m found, was blind but now I see (John Newton, pedagang budak yang bertobat). Ajaib benar anugerah pembaru hidupku, ‘ku hilang, buta, bercela, oleh-Nya ‘ku sembuh (versi Kidung Jemaat). Hanya apabila kita menyadari, bahwa diri ini orang berdosa yang membutuhkan kebaikan Allah, maka celiklah mata itu. Karena kita menerima pembelaan dan pengasihan Kristus. Namun demikian, mereka yang merasa benar dan tidak perlu mengakui kesalahan adalah orang yang dibutakan oleh kebenaran versi dirinya sendiri.
Penulis Injil Yohanes secara implisit atau eksplisit berusaha menekankan identitas Yesus (lih ay. 17), sebagai Mesias (ay. 22), dan Anak Manusia (ay. 35), serta hakim yang memutuskan tentang nasib maupun dosa (ay. 39-40). Tidak mudah bagi orang-orang Yahudi menerima gempuran penjelasan yang mengungkap identitas Yesus dalam satu kasus (seluruh pasal 9). Yesus secara radikal mengubah pandangan umum tentang doktrin, relasi sosial, dan identitas mesianik yang dinantikan bangsa Israel. Yesus membarui konsep ketahiran, mendobrak hukum tentang hari Sabat, dan menggugat otoritas para pemimpin agama, serta menimbulkan keresahan.
Saudaraku, pengenalan kita tentang Kristus semestinya membuat diri resah. la menggugat pemahaman, cara pandang dan hidup kita. Dia menggempur kita dengan ajaran dan penjelasan untuk mempertanyakan, “Percayakah engkau pada Tuhan Yesus?” Jangan-jangan sebenarnya kita belum benar-benar mengenal dan percaya kepada Dia yang selalu menuntut untuk mengerjakan kehendak-Nya. Kiranya Kristus, Sang PenceIik Agung itu memulihkan dan memampukan kita menjadi pemberita kasih-Nya dengan terus bersaksi dan berkarya dalam masa perjuangan ini.
KJ. 40 : 3, 4
Doa : (Tuhan Yesus, mohon celikkan mata iman kami untuk makin melihat mujizat-Mu dalam hidup orang kecil)
