MINGGU VII SESUDAH EPIFANI
Kamis, 24 Februari 2022
Renungan Pagi
GB. 321 : 1,2 – Berdoa
JANGAN MUDAH TERTIPU
Yosua 9 : 1 – 15
Lalu orang-orang Israel mengambil bekal orang-orang itu, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN (ay.14)
Kemenangan perang bangsa Israel atas Yerikho dan Ai terdengar oleh orang-orang Gibeon. Kemenangan yang memberi efek takut Iuar biasa. Jika kedua bangsa yang kuat itu kalah, mungkinkah mereka menang? Memaksa berperang sama dengan menyongsong kematian. Mereka juga tidak tertarik bergabung dengan aliansi raja-raja orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus yang sepakat memerangi bangsa Israel. Orang-orang Gibeon memutar otak.
Strategi jitu didapatkan. Orang-orang Gibeon Iebih memilih takluk ketimbang berperang. Mereka mengelabui bangsa Israel dengan berpura-pura sebagai hamba-hamba yang memohon perlindungan bangsa Israel. Penam pilan buruk dan permintaan hidup berdamai, menyebabkan bangsa Israel jatuh kasihan serta menerima permintaan mereka. Bangsa Israel menjadi pongah. Mereka tidak berdoa mohon petunjuk Tuhan sebelum mengambil keputusan penting.
Tertipu menjadi pengalaman buruk yang menyakitkan. Jika menyangkut urusan mati hidup, orang bisa Iakukan apa saja. Beragam aksi penipuan seperti tawaran menjadi Aparat Sipil Negara, anggota TNI/POLRI atau Iayanan pesan pendek (SMS) berhadiah, masih kerap terjadi sampai hari ini. Aksi ini adalah aksi kejahatan yang melanggar KUHP pasal 378 dengan ancaman pidana penjara paling lama 4 tahun. Aturan yang ada bukan berarti kita menjadi lengah dan jumawa.
Di masa pandemi ini, kita diingatkan untuk waspada dan berhatihati menghadapi orang-orang yang mengaku punya niat baik, padahal tidak dikenal riwayat hidupnya. Jangan mudah terpesona dan termakan bujuk rayu. Perlu kita gali Iebih banyak informasi tentang hal yang ditawarkan. Sebelum mengambil keputusan berdoa terlebih dahulu kepada Tuhan. Dengan pertolongan Tuhan, kita diberi hikmat untuk berbuat yang terbaik. Tuhan mempunyai banyak cara menyelamatkan hidup kita.
KJ. 321 : 3,4
Doa : (Ya Tuhan, tolong kami berhati-hati menyikapi kebaikan orang dengan tujuan jahat. Mohon berilah hikmat, agar kami tidak hidup dengan cara yang merugikan sesama)
MINGGU VII SESUDAH EPIFANI
Kamis, 24 Februari 2022
Renungan Malam
KJ. 436 : 1,2 – Berdoa
JANGAN MEMBALAS KEJAHATAN
Yosua 9 : 16 – 27
Maka sekarang, kami ini dalam tanganmu; perlakukanlah kami seperti yang kaupandang baik dan benar untuk dilakukan kepada kami (ay.25)
Orang Gibeon kedoknya terbuka. Demi mempertahankan nyawa, mereka menipu bangsa Israel dengan aksi drama yang menyentuh. Bangsa Israel tidak berkutik dengan perjanjian damai yang sudah disepakati dengan orang Gibeon. Melanggar kesepakatan hanya membawa malapetaka bagi bangsa Israel. Yosua juga menanyakan alasan utama mereka menipu. Orang Gibeon berbicara terus terang tentang rasa takut mereka. Mereka hanya berharap bisa tetap hidup.
Pengakuan jujur disampaikan orang Gibeon kepada Yosua. Mereka mustahil dapat menang berperang dengan bangsa Israel. Orang Gibeon percaya juga, bahwa bangsa Israel dapat menyelamatkan mereka dari kematian. Kepercayaan yang luar biasa kepada bangsa Israel dipertaruhkan. ltu karena Israel adalah bangsa yang diberkati Tuhan. Orang Gibeon akhirnya dapat menerima keputusan, bahwa mereka menjadi tukang belah kayu dan tukang timba air untuk rumah Tuhan.
Sebagai umat Tuhan, kita diajarkan mengampuni dan mengasihi. Kadang orang bisa berbuat jahat, karena alasan ekonomi keluarga. Kebaikan kita bisa disalahgunakan, saat berbaik hati meminjamkan sesuatu. Apakah kita terus menghakimi saudara yang sudah mengakui kesalahannya dan mau menyelesaikan kewajibannya? Di sinilah kasih Tuhan dapat diterapkan. Kita terbuka menerima pengakuan jujur dari yang bersalah dan bersedia bertanggung jawab. Membalas kejahatan dengan kejahatan bukan pola hidup orang kristiani.
Pengalaman selalu jadi guru terbaik. Jika hari ini saudara dalam masalah keluarga atau soal pekerjaan, mari berserah diri pada pengasihan Tuhan. Boleh jadi ada keputusan buruk yang kita ambil, karena minimnya pengetahuan. Mari mengoreksi cara berpikir kita yang tergesa-gesa. Perbaikilah, agar tidak terulang di kemudian hari. Tetaplah berbuat baik dan menjadi berkat bagi sesama.
KJ. 436 : 3,4
Doa : (Mohon ampunilah kami, jika masih suka menghakimi saudara yang sudah mengakui salahnya. Tolong ajarlah kami kembali mengasihi saudara tersebut dengan tulus)
