MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
Kamis, 23 September 2021

Renungan Pagi

KJ. 256 : 1 – Berdoa

TEMAN SEPERJALANAN

Kisah Para Rasul 21 : 15 – 16

Bersama-sama dengan kami turut juga beberapa murid dari Kaisarea. Mereka membawa kami ke rumah seorang yang bernama Manason. Ia dari Siprus dan sudah lama menjadi murid, kami akan menumpang di rumahnya (ay. 16)

Pernahkah kita melakukan perjalanan jauh sendirian, tanpa teman? Bagaimana rasanya? Tidak enak bukan? Perjalanan terasa lama dan sepi, serta membosankan. Coba kalau ada teman seperjalanan, apalagi kalau perginya beramai-ramai, tentu akan beda rasanya. Dalam perjalanan akan ada banyak senda gurau, dan dapat bercakap-cakap tentang banyak hal. Perjalanan itu tidak akan terasa lama juga tak membosankan. Bila terjadi sesuatu dalam perjalanan tersebut, kita juga bisa saling membantu satu sama lain.

Itu seperti yang dilakukan Paulus dan para murid. Mereka berjalan bersama dari Kaisarea ke Yerusalem. Perjalanan pada waktu itu cukup melelahkan, karena belum ada kendaraan bermotor atau pun kereta api seperti sekarang. Jarak dari Kaisarea ke Yerusalem adalah 121,9 Km. Bila ditempuh dengan mobil pribadi waktu tempuhnya bisa mencapai 1 jam 21 menit. Bayangkan kalau kita berjalan kaki, maka waktu tempuhnya bisa berjam-jam, bahkan satu atau dua hari lamanya. Dengan waktu yang cukup lama ini, mereka diuntungkan pergi bersama-sama dan saling membantu. Seperti ketika mereka membawa Paulus ke rumah Manason untuk beristirahat, menginap di rumahnya.

Kita pun saat ini sedang melakukan perjalanan kehidupan dengan waktu tempuh yang tidak terhingga. Kita butuh teman seperjalanan, yaitu keluarga sendiri, seperti: suami, istri, anak-anak dan orangtua. Kita juga butuh sahabat sahabat, teman kerja, rekan sepelayanan di Gereja, tetangga dan siapa pun di lingkungan sekitar untuk menjadi kawan seperjalanan kehidupan yang bisa saling menolong satu sama lain. Selain itu yang terpenting adalah teman seperjalanan kita yang sejati, yaitu Tuhan Yesus. Mari, kita berjalan Bersama dan bergandengan bersama, seperjalanan dalam kehidupan ini.

KJ. 256 : 3

Doa : (Terimakasih ya Tuhan, Engkau telah memberi kami keluarga dan sahabat. Bahkan Engkau juga menjadi teman seperjalanan kehidupan kami. Mohon lindungilah kami selalu, ya Tuhan)

MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
Kamis, 23 September 2021

Renungan Malam

KJ. 50a : 1 – Berdoa

MENDENGAR DAN MEMULIAKAN TUHAN

Kisah Para Rasul 21 : 17 – 20a

Mendengar itu mereka memuliakan Allah (ay. 20a)

Ada sebuah Gereja yang berencana membuat sebuah Ibadah Penyegaran Iman yang meriah. Pendeta setempat segera mempersiapkan segala sesuatunya dan mengundang seorang Pende-ta terkenal untuk membawakan khotbah dalam Ibadah Penyegaran Iman tersebut. Seluruh jemaat pun antusias akan mengikuti Ibadah tersebut, apalagi mendengar bahwa yang khotbah adalah Pendeta terkenal. Segala sesuatu telah dipersiapkan dengan matang dan tiba waktunya, ternyata Pendeta terkenal itu tidak datang, padahal sudah saatnya berkhotbah. Akhirnya Pendeta setempat harus menggantikannya, dan menyadari bahwa pasti banyak jemaat yang kecewa hendak mendengar khotbah Pendeta terkenal yang tidak dapat datang itu. Lalu Pendeta setempat itu berjalan ke mimbar, mengucapkan permohonan maaf karena Pendeta terkenal itu tidak dapat datang dan ia yang akan meng-gantinya. Kemudian ia berkata kepada seluruh jemaat,” bagi sau-dara-saudara yang ingin mendengar suara manusia, saudara bo-leh meninggalkan Gereja ini, dan saudara-saudara yang ingin mendengar suara Tuhan, silakan tinggal untuk meneruskan iba-dah ini. Mendengar hal itu, tidak ada yang beranjak dari tempat duduk mereka dan terus mendengar khotbah Pendeta setempat, kemudian pulang dengan sukacita.

Sama halnya dengan Paulus di hadapan Yakobus dan semua Penatua yang hadir di Yerusalem, setelah mendengar ceritera tentang yang dilakukan Allah di antara bangsa-bangsa melalui pe-layanan Paulus, mereka bersukacita dan memuliakan Allah.

Kita sebagai umat Tuhan juga belajar seperti para murid yang senantiasa bersukacita memuliakan Allah di setiap ibadah yang kita lakukan dengan berpusat pada Allah yang diberitakan, bukan manusia yang memberitakan-Nya. Mari kita belajar mendengar-kan Tuhan yang bicara melalui siapa saja hamba Nya, sehingga damai sejahtera-Nya menjadi milik kita.

KJ. 50a : 4

Doa : (Ya Tuhan, mohon mampukan kami mendengar Firman-Mu yang disampaikan oleh hamba-hamba-Mu. Tolong ajarlah kami bersukacita memuliakan nama-Mu)

Scroll to Top