MINGGU XX SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 21 Oktober 2020
Renungan Pagi
GB. 273 : 1, 2 – Berdoa
HARI PERHENTIAN
Ibrani 4 : 1 – 13
“Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ke tujuh, bagi umat Allah” (ay. 9)
Kata kerja ‘syabat’ dalam bahasa Ibrani artinya berhenti (4, 10). Dari kata itu muncul kata ‘perhentian’ (1 , 11) yang digabung dengan tempat (3, 5, 6, 8, 10) dan hari (9). Begitulah umat PL (Perjanjian Lama) tidak diperkenankan melakukan pekerjaan apapun pada waktu sabat (hari ketujuh). ltu sesuai Firman keempat dari Ke-sepuluh Firman (Kel. 20:8-11) di mana dinyatakan, bahwa ‘pada hari ke tujuh TUHAN berhenti dalam karya menjadikan langit dan bumi, laut serta segala isinya’.
Di manakah ‘tempat perhentian’ ltu? (3). Ayat itu merupakan kutipan dari Mzm. 95: 11 yang tertulis ‘tempat perhentian-Ku’. Sesuai kisah keluarnya umat Israel dari Mesir, maka ‘tempat perhentian’ adalah Tanah Perjanjian di Kanaan. Di sana umat dapat hidup aman dan tenteram, suatu negeri yang berlimpah susu dan madunya (Kel.13:5). Sebagian dari umat yang tidak taat, tak diperkenankan masuk ke tempat perhentian-Nya (Mzm.95: 10-11).
31 Oktober mendatang GPIB merayakan kemandiriannya. Kita mensyukurinya sebagai ‘tempat perhentian’ yang dikaruniakan Tuhan. Patutlah kita bersyukur atas perbuatan Tuhan yang besar selama ini. Seyogianya juga sebagai Pimpinan, kita merenungkan pencapaian apa yang sudah terjadi dalam kurun waktu yang panjang itu. Ketua Majelis Sinode pertama, Ds. J.A. de Klerk dalam sambutannya di hari pendirian GPIB pada tanggal 31 Oktober 1948 menyatakan, bahwa Gereja ini sudah berusia 300 tahun. Maksudnya tentu terkait ‘de Indische Kerk’ (Gereja Protestan di Indonesia). Pdt. B.A. Supit (Wakil Ketua Majelis Sinode saat itu) menyatakan, bahwa ‘Gereja ini bagaikan sebuah kapal lengkap dengan peralatannya yang ditumpangi kurang lebih 200.000 penumpang dari pelbagai suku bangsa’. Catatan sejarah itu mengajak kita untuk menghayati kembali apa visi gereja kini tentang ‘perhentian’ itu?
GB. 273 : 3-5
Doa : (Ya Yesus Kristus, Engkaulah satu-satunya jalan untuk memperoleh perhentian, hidup kekal, bagi orang yang percaya dan taat)
MINGGU XX SESUDAH PENTAKOSTA
Rabu, 21 Oktober 2020
Renungan Malam
KJ. 242 : 1, 2 – Berdoa
YESUS, IMAM BESAR AGUNG
Ibrani 4 : 14 – 16
“Karena kita sekarang mompunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita” (ay. 14)
Peribadahan di zaman Musa bermula di Kemah Pertemuan. Di zaman Salomo peribadahan beralih ke Bait Suci di Yerusalem. Di dua tempat suci itu peranan imam sangat sentral. Hanya imam yang boleh masuk ke ruang mahakudus di Bait Suci. Sebagai ‘perantara’ antara TUHAN dan umat, imam mempersembahkan kurban pendamaian untuk menebus dosa bagi umat maupun dirinya. Sekalipun derajat rohaninya tinggi, namun imam tidak bebas dari kelemahan dan dosa.
Pada masa berikutnya Bait Suci itu dihancurkan. Pertama oleh Nebukadnezar pada tahun 586 SM. Umat Israel kemudian diangkut ke pembuangan bersama seluruh perlengkapan Bait Suci. Tahun 525 SM Bait Suci dibangun kembali. Namun demikian, pada tahun 70 M dihancurkan untuk ke dua kalinya oleh tentara Romawi di bawah pimpinan Titus. Sejak itu sampai sekarang tidak dibangun kembali.
Harun menjadi besar di zaman Musa, sedangkan Kayafas pada zaman Yesus. Sekalipun perannya penting dalam peribadahan di Bait Suci, mereka hanya manusia yang terpilih dan diurapi untuk jabatan itu. Harun pernah membuat patung lembu emas untuk disembah. Kayafas menyebut hujatan kepada Yesus. Hukuman Tuhan tidak terelakkan.
Yesus Kristus sebagai Imam Besar Agung tidak berbuat dosa. Dirinya dipersembahkan sebagai kurban pendamaian sekali untuk selama-lamanya. la duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar dan datang di atas awan-awan di langit (Mat.26:64). la lebih tinggi dari imam besar biasa. la berkenan ‘dihampiri’ di takhta kasih karunia, untuk umat memohon rahmat dan memperoleh pertolongan pada waktunya (16). la adalah TUHAN yang telah datang ke dalam dunia dan Bait-Nya ialah umat-Nya! (1 Kor.3:16-17).
KJ. 242 : 3, 4
Doa : (Ya Yesus Kristus, Engkaulah Anak Allah, tertinggi di atas malaikat dan manusia! Teguhkanlah iman kami pada karya keselamatan-Mu!)
