MINGGU II SESUDAH EPIFANI
Kamis, 21 Januari 2021

Renungan Pagi

GB. 224 : 1, 2 – Berdoa

MENGUBAH CARA PANDANG, MENAWARKAN PEMULIHAN

Yohanes 8 : 1 – 11

Lalu kata Yesus : “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ay. 11)

Rusalki adalah mitologi Rusia tentang sosok perempuan yang konon mati mengenaskan. Di balik mitos Rusalki ini adalah kisah ketidakadilan masyarakat terhadap seorang perempuan korban perkosaan yang akhirnya bunuh diri dengan cara menenggelamkan dirinya. Kisahnya mirip mitos Kuntilanak, Yurei di Jepang, Banshee di Irlandia, Phi Tai Hong di Thailand, Chonyeo Gwishin di Korea, La Llorona di Spanyol atau Pontianak di Malaysia. Kisah di balik mitos itu berbeda-beda, tapi ada satu kesamaan mereka, yaitu korban kejahatan yang menggugat keadilan. Sebagai sosok mitologi tanpa nama, mereka merepresentasikan pengalaman para korban yang meraung-raung dari alam kematian, karena dibuat tidak berdaya dan diam, mengalami kekerasan, lalu mati.
 
Perikop bacaan yang dramatik dan sangat horor hari ini mengarahkan plotnya pada perempuan tanpa nama yang dikenai pasal perzinahan. la dibawa paksa oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. la sengaja dijadikan objek untuk dipermalukan di depan rakyat yang sedang diajar Yesus di BaitAllah (ay. 4). Mereka hendak mencari kesalahan Yesus, yang memberitakan tentang pengampunan Allah. Ajaran-Nya itu hendak dibenturkan dengan Hukum Taurat tentang rajaman batu bagi pezinah (ay. 5-6). Yesus menggeser plot horor dari perempuan itu dengan mempertanyakan integritas para pendakwa. Satu persatu beranjak pergi, hingga Yesus memiliki momen pengampunan dan pemulihan bagi perempuan itu (ay. 10-11).
 
Saudaraku, Tuhan Yesus mempertanyakan integritas dan cara pandang kita terhadap suatu masalah. Maksudnya, agar kita tidak merasa paling benar, berkuasa dan semena-mena. Jangan-jangan sebagai pribadi berdosa ada yang lupa, bahwa Kristus yang mengampuni itu juga mempertanyakan sejauh mana pertobatan kita mengarah pada ucapan dan tindakan yang punya kekuatan untuk memulihkan, bukan menghancurkan.

GB. 225 : 1

Doa : (Tuhan Yesus, tolonglah kami menawarkan pengampunan dan pemulihan)

MINGGU II SESUDAH EPIFANI
Kamis, 21 Januari 2021

Renungan Malam

KJ. 150 : 1, 3 – Berdoa

BONGKAR STIGMA YANG MENGHANCURKAN MARTABAT SESAMA CIPTAAN!

Yohanes 9 : 1 – 7

Jawab Yesus : “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (ay. 3)

Dahulu, ada stigma populer di Jawa Timur, bahwa anak yang menyandang disabilitas mental, intelektual atau fisikal diklaim sebagai “tumbal pesugihan” (tumbal kekayaan) yang dikorbankan orang tuanya dengan berdoa di Gunung Kawi. Banyak orang menderita, karena stigma seperti “orang suku X pasti pemabuk”, “anak haram”, “bapak-ibu pintar, anaknya kok bodoh!?”, “orang miskin pasti malas”, dll..
 
Jawaban Yesus atas pertanyaan para murid mengugurkan stigma dan klaim tentang keberdosaan yang melahirkan trauma dan Iuka (ay 2). Hukum Taurat tentang dosa turunan, doktrin ketahiran dan kuasa kaum religius secara sosial juga spiritual berdampak pada peminggiran orang sakit maupun penyandang disabilitas. Karena diklaim sebagai pendosa atau pewaris dosa, mereka menanggung konsekuensi dijauhkan dari ruang sosial dan ruang ibadah. Yesus berpihak pada kaum pinggiran ini (ay. 3). Dia menggunakan tanah (simbol penciptaan manusia) dan air kolam Siloam (simbol penyucian/pemulihan) untuk menegaskan, bahwa karya kontroversiaI-Nya di hari Sabat itu dikerjakan oleh Sang Hidup yang membebaskan. Kristus tidak hanya melawan stigma dan tradisi yang memberangus martabat dan kemanusiaan. Karya transformatif-Nya adalah mengembalikan sang korban ke dalam masyarakat dan mengubahnya menjadi agen misional.
 
Saudara terkasih, stigma yang menghancurkan masa depan orang harus kita lawan dan tinggalkan. Para perawat stigma menjadi pribadi yang eksklusif, intoleran, tak peka dan tidak empatik. Tugas kita adalah membongkar stigma dan memulihkan martabat mereka yang selama ini dijauhkan dari persekutuan juga masyarakat. Berdayakanlah mereka kembali, sehingga kita melakukan apa yang Yesus katakan, “pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (ay. 3).

KJ. 150 : 4

Doa : (Tuhan Yesus, mohon mampukan kami melawan stigma yang meminggirkan kaum disabilitas demi memulihkan martabat mereka)

Scroll to Top