MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
Selasa, 21 September 2021
Renungan Pagi
KJ. 300 : 1 – Berdoa
KETURUNAN ALLAH
Kisah Para Rasul 17 : 29 – 34
Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia (ay. 29)
Kita pernah mendengar istilah “keturunan darah biru” yang ditujukan pada mereka yang dianggap sebagai bangsawan, kelu-arga kerajaan, dan kaum terhormat. Namun, mengapa dipakai is-tilah “darah biru”? Konon di masa lalu, memiliki kulit gelap menan-dakan kaum kelas bawah yang bekerja keras di bawah sinar ma-tahari. Orang kaya atau kaum bangsawan tidak harus kerja di luar, sehingga kulit mereka pucat dan tampak jelas pembuluh darah-nya yang berwarna biru. Nah, sekarang apakah keturunan Allah juga dapat disebut sebagai keturunan darah biru?
Rasul Paulus mengatakan bahwa kita berasal dari keturunan Allah, lalu Ia menggambarkan bahwa kita tidak boleh berpikir ten-tang keadaan ilahi seperti emas dan perak yang begitu berharga, atau seperti batu, serta ciptaan dan keahlian manusia. Rasul Pau-lus hendak memberi pengertian kepada orang orang Atena yang menyembah patung-patung berhala dari emas, perak dan batu, yang merupakan ciptaan kesenian serta keahlian manusia. Kei-lahian tidak sama dengan apa yang ada di dunia, apalagi buatan manusia.
Kita yang percaya kepada Allah, tentu disebut keturunan Allah yang sudah menerima keselamatan-Nya, bahkan dikuduskan-Nya sebagai umat atau anak anak-Nya. Tidak peduli apakah kita berkulit gelap atau terang, sehingga pembuluh darah kita terlihat jelas berwarna biru, lalu disebut darah biru. Pemahaman tentang keturunan Allah jangan dipahami seperti “darah biru”, tetapi mari kita memahaminya sebagai umat yang telah diselamatkan Allah. Sebagai keturunan Allah, kita bukan buatan manusia dan tidak dapat disetarakan dengan emas atau perak, bahkan batu. Kita le-bih berharga dari itu, karena kita sudah diselamatkan oleh Darah Kristus yang tidak dapat dibeli dengan emas dan perak. Darah Kristus yang warnanya merah sama seperti darah kita juga seba-gai keturunan Allah.
KJ. 300 : 5
Doa : (Terimakasih Tuhan Yesus atas anugerah keselamatan yang telah Engkau berikan melalui Darah-Mu yang tercurah menebus dosa, sehingga kami dilayakkan menjadi keturunan Allah)
MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
Selasa, 21 September 2021
Renungan Malam
KJ. 451 : 1 – Berdoa
KELUARGA BESAR ALLAH
Kisah Para Rasul 21 : 1 – 6
Murid-murid semua dengan isteri dan anak-anak mereka mengantar kami sampai ke luar kota dan di tepi pantai kami berlutut dan berdoa (ay. 5b)
Keluarga (ayah, ibu, anak-anak, orangtua) merupakan komunitas terkecil dalam masyarakat yang mempunyai hubungan khusus yaitu hubungan darah. Karena itu, biasanya bila ada hubungan keluarga, pasti punya hubungan yang akrab secara psikologis. Bila salah satu keluarga merasa bahagia, maka yang lain ikut bahagia dan bila ada yang bersedih, maka yang lain sama-sama menangis. Dalam keluarga ada saling peduli, memperhatikan, mengasihi dan melayani.
Suasana keluarga juga diperlihatkan dalam kisah perjalanan pekabaran Injil oleh Paulus saat di Tirus. Di situ, Paulus tinggal selama tujuh hari untuk mengunjungi murid-murid. Begitu peduli-nya mereka dengan Paulus sehingga oleh bisikan Roh, murid-murid menasihati Paulus supaya jangan ke Yerusalem. Ketika Paulus hendak melanjutkan perjalanannya, murid-murid dan isteri serta anak-anak mereka mengantarnya sampai ke luar kota dan di tepi pantai mereka berlutut berdoa, layaknya satu keluarga.
Seperti yang dilakukan para murid dan Paulus, kita pun seba-gai murid murid Tuhan adalah bagian dari keluarga Allah, karena kita punya hubungan darah yang sama yaitu darah Kristus yang telah menyelamatkan kita. Oleh sebab itu, sikap kita sebagai kelu-arga besar Allah adalah saling peduli, saling membantu, saling mengasihi, saling menasihati dan saling mendoakan satu sama lain. Janganlah berlaku tidak adil, iri hati dan dengki terhadap se-sama sebagai satu keluarga besar. Hal ini berlaku juga dalam hu-bungan kita dengan suami, dengan istri, dengan anak-anak, de-ngan orangtua dan dengan mertua. Kita lebih saling memperhati-kan satu sama lain. Jikalau hubungan kita tidak baik dengan ke-luarga kita sendiri, tentu saja kita tidak akan mampu punya hu bungan yang baik dengan sesama murid Tuhan sebagai keluarga besar Allah. Jadi, karena kita satu keluarga besar Allah, marilah kita saling mengasihi satu sama lain.
KJ. 451 : 2
Doa : (Ya Kristus terimakasih, Engkau telah memilih kami menjadi keluarga besar Allah. Mohon mampukan kami untuk saling mengasihi)
