MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
Kamis, 21 Oktober 2021

Renungan Pagi

KJ. 15 : 1 – Berdoa

PEMIMPIN YANG DIHORMATI

Kejadian 45 : 16

Ketika dalam istana Firaun terdengar kabar, bahwa saudara saudara Yusuf datang, hal itu diterima dengan baik oleh Firaun dan pegawai-pegawainya (ay. 16)

Martin Luther King (lahir: 15 Januari 1929), dikenal sebagai pemimpin dan aktivis gerakan hak-hak sipil Amerika. Ia sangat dihormati karena mem perjuangkan kesetaraan ras yang menunjukkan bahwa semua orang adalah sama. Ia menerima banyak penghargaan serta memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1964.

Firaun adalah penguasa Mesir pada masa Yusuf di sana. Ketika Firaun men dengar bahwa saudara-saudara Yusuf datang, ia dan pegawai-pegawainya menerima mereka dengan senang hati. Sikap Ini menandakan bahwa Yusuf sangat dihormati bahkan oleh raja Mesir. Hal ini disebabkan karena (1) Firaun mengetahui kemampuan Yusuf dalam menafsirkan mimpinya dengan tepat, dan (2) Yusuf adalah seorang yang bijaksana, berakal budi dan memiliki Roh Allah. Secara keseluruhan, Yusuf dihormati karena ia mampu menerjemahkan semua kemauan Firaun sehingga Firaun menganggapnya sebagai aset yang tidak boleh di sia-siakan. Karena itu, Yusuf harus dihormati dalam segala yang dikerjakannya di Mesir.

Menghormati dan menyenangkan hati Yusuf sudah selayaknya diperlihatkan oleh Firaun bahkan seluruh rakyat Mesir karena Yusuf telah menyelamatkan rakyat Mesir dari bencana kelaparan. Selain itu, Yusuf dihormati karena ia memberi dirinya untuk mengasihi orang lain yang dipercayakan Tuhan kepa danya, setia mengabdi serta melayani Tuhan dengan baik.

Menjadi seorang pemimpin bukanlah pencapaian tetapi tanggung jawab yang dipercayakan. Kenry Pratt dalam “Dictionary Of Sociologi and Related Sciences” mengatakan bahwa pemimpin patut dihormati di saat ia mampu mengambil inisiatif untuk mengarahkan dan mengorganisir orang lain atas dasar prestasi serta mampu meyakinkan orang lain untuk mengikutinya. Artinya, ketika seorang pemimpin melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya dengan pengabdian yang tinggi dan mampu menjadi teladan dalam apa yang dikatakannya maka ia patut dihormati.

KJ. 15 : 2,3

Doa : (Mohon berilah kami kesadaran, ya Tuhan, untuk menghormati pemimpin pada saat mereka sedang bekerja sesuai kehendak-Mu)

MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
Kamis, 21 Oktober 2021

Renungan Malam

KJ. 309 : 1,2 – Berdoa

PEMIMPIN : BUAH PENGABDIAN

Kejadian 45 : 17 – 20

jemputlah ayahmu dan seisi rumahmu dan datanglah mendapatkan aku, maka aku akan memberikan kepadamu apa yang paling baik di tanah Mesir, sehingga kamu akan mengecap kesuburan tanah ini. (ay. 18)

Adakah seorang pemimpin yang tidak memikirkan hasil dari pengabdiannya? Pastinya, setiap pengabdian apabila dilakukan dengan ketulusan, motivasi yang benar dan untuk kepentingan banyak orang, pada saatnya, akan mendapatkan buah yang tidak terduga dari Tuhan. Pengabdian sekecil apapun akan selalu berharga di mata Tuhan.

Firaun sangat menghargai dan menghormati Yusuf sebagai orang kepercayaannya. Bentuk kepercayaannya adalah ketika ia berkata: ”… Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir (41:44).” Bentuk kepercayaan yang lain lagi terlihat ketika Firaun menyuruh Yusuf menjemput ayahnya dan seisi rumah dengan kereta serta memberi tempat yang subur di tanah Gosyen, di sekitar Mesir. Bagi Yusuf, ini merupakan “buah atau hadiah” yang luar biasa dari Firaun. Firaun menghargai Yusuf karena Yusuf, sebagai pemimpin, ia mengabdi dengan setia, bekerja keras dan tidak kenal lelah dalam menangani bencana kelaparan. Sudah selayaknya Yusuf mendapatkan pengakuan dari Firaun. Tuhan pun turut memberi ‘buah’ yaitu dengan mengumpulkan kembali Yusuf dan keluarga besarnya.

Tuhan sudah menggenapi janji-Nya untuk memelihara umat perjanjian sehingga mereka mendapatkan tempat yang subur. Tuhan menyediakan segala keperluan yang dibutuhkan umat-Nya melalui Yusuf. Pengabdian Yusuf di tanah Mesir adalah bagian dari rancangan Allah bagi Yakub dan keturunannya.

Pengabdian merupakan sikap yang benar di hadapan Tuhan. Mengabdi adalah menghamba bagi kepentingan orang lain. Mengabdi itu bekerja bukan hanya (pandai) bersilat lidah. Karena itu, sebagai orang percaya, abdikanlah hidupmu kepada Tuhan di tengah-tengah masyarakat, negara dan gereja. Mengabdilah bukan supaya terkenal melainkan supaya nama Tuhan yang dimuliakan. Percayalah bahwa Tuhan akan menyiapkan buah yang terindah bagi kita.

KJ. 309 : 3,4

Doa : (Mohon berilah kami kemampuan, ya Tuhan, untuk menjadi abdi yang berbuah baik dan lebat demi nama-Mu)

Scroll to Top