MINGGU XXIV SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 20 November 2020
Renungan Pagi
KJ. 450 : 1 – Berdoa
MENGGUNAKAN UPAH DENGAN BIJAKSANA
Imamat 10 : 12 – 15
“karena semuanya diberikan sebagai ketetapan bagimu dan anak-anakmu…” (ay. 14b)
Saudaraku, berdasarkan Peraturan Pemerintah R.I., nomor 78 Tahun 2015 Bab I Pasal I memberikan definisi upah yakni hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan atau jasa yang telah dilakukan. Jadi jelas, bahwa upah merupakan hak setiap orang yang bekerja. Upah harus diberikan, agar pekerja dapat meningkatkan kesejahteraan hidup keluarga.
Saudaraku, Harun serta anak-anaknya, Eleazar dan Itamar adalah golongan Lewi, yang bertugas untuk mengatur Kemah Pertemuan yang merupakan simbol kehadiran Tuhan di tengah kehidupan bangsa Israel. Hidup suku Lewi sangat bergantung kepada suku-suku lain karena mereka tidak mendapatkan bagian dari tanah yang dijanjikan. Mereka dapat hidup melalui persepuluhan dan kurban-kurban bakaran yang diberikan oleh suku-suku lain.
Saudaraku, Musa yang adalah pemimpin umat juga merespon tugas yang telah dilakukan oleh Harun dan anak-anaknya. Musa berkata kepada mereka agar mengambil kurban sajian dan memakannya (ay. 12) sebagai upah kerja. Musa juga mengingatkan agar mereka makan di tempat yang kudus (ay. 13). Artinya, mereka harus menikmati dan menempatkan makanan tersebut dengan baik sesuai dengan perintah dari Tuhan (ay. 14-15). Dengan kata lain, Musa ingin mengingatkan agar kurban umat tersebut tidak digunakan untuk maksud yang salah, yakni memenuhi hawa nafsu.
Saudaraku, kita yang sudah bekerja tentu mendapatkan upah. Sebagai orang yang beriman kepada Kristus, kita harus mengelola upah itu dengan bijaksana. Jangan sampai kita berfoya-foya demi memuaskan hawa nafsu. Sebaliknya, gunakan upah kerja kita untuk memuliakan nama Tuhan melalui kegiatan yang bermanfaat dan dalam kebenaran. Sebagai pemimpin di tengah jemaat, marilah mengelola keuangan gereja secara benar dan tepat guna.
KJ. 450 : 2
Doa : (Tuhan Yesus, tolong kami untuk mengelola maupun mempergunakan upah kerja dengan baik dan benar seturut kehendak-Mu)
MINGGU XXIV SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 20 November 2020
Renungan Malam
GB. 270 : 1 – Berdoa
PEMIMPIN YANG TEGAS DAN RENDAH HATI
Imamat 10 : 16 – 20
“Kemudian Musa mencari dengan teliti kambing jantan korban penghapus dosa itu. tetapi ternyata kambing itu sudah habis dibakar. Sebab itu dimarahinyalah Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun yang tinggal itu…” (ay. 16)
Saudaraku, ketegasan harus dimiliki oleh setiap orang. Tanpa ketegasan, kita pasti kesulitan dalam membuat suatu keputusan etis. Tanpa ketegasan, kita juga mengalami kesulitan untuk menegur orang Iain yang melakukan suatu kesalahan. Akibatnya, kita akan diremehkan oleh orang-orang di sekitar.
Saudaraku, Musa adalah sosok pemimpin yang tegas. la menegur Eleazar dan Itamar karena mereka tidak melakukan apa yang telah diperintahkannya yakni, memakan kurban penghapus dosa di tempat yang kudus (ay.17). Ketegasan Musa sangat nampak pada saat menegur Eleazar dan Itamar. Namun demikian, suasana berubah ketika Harun, ayah dari Eleazar dan Itamar berbicara kepada Musa (ay. 19). Melalui pembicaraan tersebut, Musa menunjukkan sikap rendah hati yakni bersedia mendengarkan perkataan Harun dan memberikan respon atas tindakannya (ay.20).
Saudaraku, banyak orang yang memiliki ketegasan, namun tidak memiliki sikap rendah hati. Banyak pemimpin tidak mau mendengarkan perkataan orang Iain sebagai respons atas ketegasannya dan berujung pada suatu konflik. Sebagai seorang pemimpin, kita harus memiliki ketegasan dan kerendahan hati agar organisasi yang dibangun dan dipimpin tetap mengalami situasi damai sejahtera. Jika tidak memiliki dua hal tersebut, maka kita akan kehilangan wibawa, bahkan tidak dihormati dan dihargai oleh orang-orang yang dipimpin. Hal tersebut bahkan dapat menjadi hambatan ketika kita akan melakukan suatu perubahan untuk kemajuan dalam lingkungan keluarga, perusahaan, gereja dan masyarakat. Tanpa ketegasan dan rendah hati, persoalan yang sama akan terus terjadi berulang-ulang, sehingga membuang energi, waktu dan merugikan dalam banyak aspek. Karena itu mari menjadi pemimpin ataupun orang yang tegas dan rendah hati.
GB. 270 : 2, 3
Doa : (Tuhan Yesus, tolong bantu kami untuk memiliki ketegasan dan kerendahan hati)
