HARI MINGGU ADVEN IV
Minggu, 20 Desember 2020

Renungan Pagi

GB. 6 : 1, 2 – Berdoa

DOA DAN NYANYIAN HIDUP

1 Tawarikh 16 : 7 – 13

Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib (ay. 9)

Qui bene cantat, bis orat secara harafiah berarti “la yang bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali”. Kalimat ini diucapkan oleh Santo Augustinus, uskup dan pujangga Gereja dari Hippo. Ungkapan tersebut nampak dalam bacaan kita hari ini yang berisi nyanyian ucapan syukur dan sukacita Daud, para imam, suku Lewi serta masyarakat Israel setelah mereka memindahkan tabut TUHAN dari Kiryat-Yearim ke Yerusalem. Dalam proses pemindahan tabut TUHAN, ada ketentuan yang ditetapkan Daud sesuai dengan jaman Musa, bahwa yang mengangkut itu adalah suku Lewi. Alasannya, sebab mereka yang dipilih TUHAN (15:2). Saat proses pengangkutan, Daud, orang Lewi dan para penyanyi mengenakan jubah dari kain lenan. Pengangkutan tabut menuju Yerusalem diiringi oleh sorak dan bunyi sangkakala, nafiri serta ceracap sambil memperdengarkan permainan gambus juga kecapi (15:27-28).

Nyanyian itu disampaikan oleh Asaf dan saudara-saudara semuanya kepada TUHAN atas permintaan Daud (16:7). Israel diundang untuk memuji nama TUHAN dengan cara memperkenalkan perbuatan-perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa. Bangsa Israel diminta untuk mempercakapkan segala perbuatan-Nya yang ajaib. Mereka yang berdoa dan beribadat disebut sebagai orang-orang yang mencari TUHAN. Maksudnya, ialah orang-orang yang percaya dan berharap kepada-Nya untuk bermegah di dalam nama-Nya.

Nyanyian ini mendorong seluruh umat Israel untuk mencari TUHAN dan terutama mengingat perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Tanpa perenungan yang berulang-ulang melalui proses mengingat tersebut, maka umat Israel tidak akan sanggup memenuhi undangan untuk memperkenalkan dan mempercakapkan perbuatan- perbuatan TUHAN yang ajaib. Israel adalah orang-orang pilihan anak-anak Yakub. Gelar ini mengungkapkan kesadaran akan hubungan mereka yang khusus dengan TUHAN.

Saudara, kita pun dipanggil untuk memiliki sikap yang sama sepert Daud. Mari hadir di tengah masyarakat untuk menyanyikan perbuatan TUHAN melalui tutur kata, perilaku, dan karya hidup kita setiap hari. Itulah doa.

GB. 6 : 3, 4

Doa : (Ya Tuhan, tolong aku untuk menjadikan hidupku sebagai doa)

HARI MINGGU ADVEN IV
Minggu, 20 Desember 2020

Renungan Malam

KJ. 291 : 1, 2 – Berdoa

IKATAN PERJANJIAN

1 Tawarikh 16 : 14 – 18

Firman-Nya: “Kepadamu akan Kuberi tanah Kanaan sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu” (ay. 18)

Memorandum of understanding (MOU) sangat penting dalam sebuah ikatan perjanjian kerja antara pemberi kerja dan pekerja. Isinya, hak dan kewajiban dari kedua belah pihak yang menyepakati perjanjian tersebut. Setelah keduanya setuju dan menandatangani, maka isinya dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan bersama. Nyanyian ini berisi pengakuan iman Daud tentang TUHAN sebagai Penguasa seluruh bumi dan yang setia pada janji-Nya. TUHAN menentukan sebuah daerah bagi umat-Nya, yaitu Kanaan. TUHAN telah mengikat perjanjian dengan Abraham. Perjanjian itu bersifat kekal dan diperintahkan untuk disampaikan kepada “seribu angkatan” — generasi penerus. Perjanjian TUHAN dimulai dari pemanggilan Abraham untuk keluar dari Ur Kasdim, juga pengutusannya menuju tanah berlimpah susu dan madu. Perjanjian itu berlanjut pada Yakub dan keturunannya yang kemudian disebut sebagai Israel. Ikatan perjanjian itu ditandai dengan pemberian tanah sebagai milik pusaka bagi keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. Tanah adalah anugerah TUHAN yang memberikan identitas kepada Israel sebagai: pertama, sebuah bangsa; kedua, umat kepunyaan- Nya; ketiga, pribadi yang memiliki hubungan khusus dengan Dia.

Ikatan perjanjian antara TUHAN dan orang percaya saat ini membawa kita pada sebuah identitas sebagai umat milik-Nya yang memiliki hubungan khusus dengan Dia. Ikatan perjanjian itu terwujud dalam iman kepada Kristus yang telah memberikan keselamatan dan anugerah pengampunan. Ikatan perjanjian tidak berlaku sepihak, apalagi hanya menuntut hak dan melalaikan kewajiban. Umat milik TUHAN perlu memiliki sikap hormat kepada-Nya, bukan menuntut Dia. Sikap hormat pada-Nya harus dinyatakan melalui tutur kata dan perilaku hidup yang menceritakan tentang perbuatan-perbuatan TUHAN yang ajaib. Pertama, memiliki kemampuan untuk membaca peristiwa hidup. Kedua, bersikap bijak dalam setiap persoalan yang dihadapi dan tidak mudah untuk menghakimi orang lain. Ketiga, tetap menjaga kekudusan hidup di tengah dunia, agar kehadiran kita mendatangkan damai sejahtera dan keadilan bagi sesama.

KJ. 291 : 3, 4

Doa : (Ya Tuhan, tolong jadikan kami pribadi yang setia pada ikatan perjanjian-Mu)

Scroll to Top