MINGGU PASKAH
Kamis, 21 April 2022
Renungan Pagi
KJ. 443 : 1 – Berdoa
SUKACITA DALAM KRISTUS
Yohanes 14 : 27 – 31
Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku (ay. 28)
Perpisahan oleh karena kematian menyisakan duka yang mendalam. Perpisahan semacam ini bukan perpisahan biasa sebab kematian menyebabkan keterputusan total secara ragawi. Kita tidak bisa Iagi bercakap-cakap, berjabat tangan atau tertawa bersama. Kematian menandai berakhirnya kehidupan yang fana. Suka atau tidak, kita berdukacita atas setiap peristiwa kematian yang terjadi. Saat waktunya tiba, kita pun akan menghadap Bapa Mahakuasa.
Tuhan Yesus menyatakanbahwa kepergian-Nya adalah bagian dari misi yang ditetapkan Bapa. Murid-murid harus mengerti mengapa Yesus pergi meninggalkan mereka. Mereka tidak boleh menjadi gelisah dan gentar hati dengan kepergianNya dan menghadapi penolakan dunia. Bapa di dalam Yesus mengutus Roh Kudus untuk memberikan damai sejahtera (EIRENE: suatu keadaan tenang, damai, sentosa, tidak ada perang, keharmonisan antarindividu, keamanan, keselamatan, kemakmuran) bagi murid-murid-Nya. Kepergian Yesus tidak untuk selama-lamanya. Maut tidak berkuasa atas Yesus yang bangkit. Kematian dikalahkan. Tuhan Yesus akan datang kembali kepada mereka yang mengasihi-Nya. Dalam kasih, kita bersukacita sebab Yesus pergi kepada Bapa-Nya. Kita bersukacita sebab misi Yesus menyelamatkan manusia sudah terlaksana. Kita bersukacita sebab Yesus menghendaki-Nya. Tuhan Yesus berjanji untuk datang kembali pada waktu yang ditetapkan-Nya
Dalam hidup berkeluarga, kepemimpinan Kristus harus dinyatakan oleh orang tua baik ayah maupun ibu. Seorang ayah bersama ibu menjadi pemimpin rohani yang mengarahkan seluruh anggota keluarga menempatkan Yesus sebagai yang utama. Hanya Dia yang patut dipuji dan disembah. Firman Tuhan dibaca, diberitakan dan dilakukan. Orang tua mengajarkan agar semua anggota keluarga bersukacita karena janji Tuhan bahwa Ia akan datang kembali. Di tengah kemajuan zaman, kita pegang erat janji Tuhan yang membuat kita bersukacita dan berpengharapan.
KJ. 443 : 2
Doa : (Kami bersukacita untuk janji Tuhan yang indah. Bentuk keluarga kami selalu memuji dan menyembah Tuhan Yesus yang menghalau ketakutan dalam hidup kami)
MINGGU PASKAH
Kamis, 21 April 2022
Renungan Malam
KJ. 309 : 1,2 – Berdoa
HIDUP YANG BERBUAH
Yohanes 15 : 1 – 8
Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku (ay. 8)
Tuhan Yesus menggunakan gambaran pohon anggur untuk menjelaskan kepada murid-murid-Nya nasihat agar hidup mereka diberkati dan benar-benar mempermuliakan Bapa surgawi. Yesus dengan lugas menyebut diri-Nya sebagai pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya (ay. 1). Tuhan Yesus berbicara kesatuan Bapa dan Anak yang menjadi dasar dari hubungan para murid dengan diri-Nya. Ranting-ranting yang mengalami proses pembersihan menjadi produktif. Dalam persekutuan dengan Yesus, hidup para murid akan berbuah banyak.
Hidup bersama, bukan sekadar hidup melainkan hidup yang memberi buah. Hidup kita berbuah banyak sebab kuasa Yesus mengendalikan, memimpin dan mengubah karakter, pikiran, perasaan dan perbuatan kita sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Rasul Paulus mengatakan bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Galatia 2:20). Persekutuan dengan Yesus adalah persekutuan yang organis. Hidup tanpa Yesus, berarti hidup tidak berbuah dan tidak dapat berbuat apa-apa (ayat 4-5). Yesus tidak memberi opsi atau pilihan lain. Pilihannya jelas: hidup yang berbuah banyak atau sebaliknya. Pengajaran Yesus tidak hanya soal relasi pokok anggur yang benar dengan ranting tetapi juga dengan pengusaha kebun anggur itu sendiri. Hidup murid-murid akan memberikan buah yang banyak, jika mereka ada di dalam Yesus. Ketika hidup berbuah banyak, maka pada saat itu Bapa surgawi dipermuliakan.
Sudahkah hidup kita berbuah? Rindukah saudara berbuah banyak seperti yang Tuhan Yesus katakan? Mari renungkan renungkan ulang arti dan tujuan hidup kita selama ini. Selayaknya hidup kita yang adalah buatan tangan Allah terarah sepenuhnya untuk mempermuliakan Allah. Dalam persekutuan dengan Yesus, kita mengenal karya Allah yang menyelamatkan. Jadi jangan sia-siakan hidup di luar Yesus.
KJ. 309 : 3,4
Doa : (Bimbing kami Roh Kudus untuk makin melekat pada pokok anggur yang benar supaya hidup kami menjadi berkat dan memuliakan Bapa surgawi)
