MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 2 Oktober 2020
Renungan Pagi
KJ. 462 : 1, 2 – Berdoa
MENJADI PROFESIONAL DI TENGAH KELUARGA
1 Samuel 17 : 28 – 36
“…..hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya….” (ay. 34)
Menurut KBBI online, profesional bersangkutan dengan profesi. Sedangkan profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tettentu. Orang yang profesional selalu dipercaya dan diandalkan karena mereka ahli, terampil, bertanggungjawab, disiplin serta bersungguh-sungguh dalam mengemban tugasnya. Jawaban Daud kepada Saul menampakan dia adalah orang yang profesional dengan pekerjaannya sebagai gembala kambing domba. Ketika Saul meragukan Daud karena usia mudanya, dia menjelaskan tentang tanggungjawab yang dilakukan dengan penuh komitmen dalam menjaga kawanan kambing domba milik ayahnya. Ketika ada kambing domba yang diterkam oleh Singa atau beruang, maka dengan terampil ia akan mengejar, menghajar, melepaskan dan membinasakan Singa atau beruang tersebut. Kemudian Daud meyakinkan Saul bahwa dengan keahliannya, Goliat yang telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup akan sama dengan binatang yang dikalahkannya. Daud terbentuk menjadi orang yang profesional lewat tugas yang dipercayakan oleh orang tua yang harus dia kerjakan setiap hari. Tugas-tugas yang ia kerjakan di lingkungan keluarga membentuknya menjadi pribadi yang bertanggungjawab, disiplin, ahli, terampil serta berkomitmen dalam hidup. Tugas-tugas ditengah keluarga yang dikerjakan anak-anak tidak menyiksa mereka. Sebaliknya hal itu akan membentuk mereka menjadi pribadi yang berkomitmen, disiplin, terampil, rajin, dan bertanggung-jawab.
Bacaan kita juga berbicara tentang peran komunikasi antara generasi tua dan muda dalam menghadapi persoalan. Saul yang mendengar tentang Daud, memanggilnya Ialu membangun komunikasi tentang persoalan bersama. Anak muda ini menyatakan tekadnya, lalu Saul menyampaikan keraguannya. Kemudian Daud meyakinkan tentang potensi diri yang dapat dipercaya dan diandalkan. Generasi muda di tengah keluarga memiliki potensi dirinya yang dapat diandalkan. Bangunlah komunikasi dan berikan mereka kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya tentang persoalan bersama, dan dukunglah dalam membuktikan potensi dirinya.
KJ. 462 : 3, 4
Doa : (Tuhan Yesus yang mengajarkan untuk berkarya, tolonglah kami memaknai kesempatan yang ada sebagai orang yang protesional di manapun)
MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
Jumat, 2 Oktober 2020
Renungan Malam
HARI BATIK
KJ. 392 : 1, 2 – Berdoa
IMAN, WARISAN INTANGIBLE
1 Samuel 17 : 37 – 39
“TUHAN yang telah molepaskan aku dari cakar Singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu” (ay. 37)
UNESCO merupakan organisasi di bawah PBB yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta bertujuan meningkatkan rasa saling menghormati berlandaskan keadilan, hukum dan HAM. Pada tahun 2009 organisasi internasional ini menetapkan batik sebagai Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity (Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi). Sejak penetapan itu, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari batik sedunia. Layaklah jika kita bangga, karena batik diakui dunia sebagai warisan budaya yang lisan dan intangible. Intangible adalah aset yang tidak berwujud atau tidak dapat dihitung secara fisik. Batik ada tampilan fisiknya, tetapi nilainya jauh lebih berharga dari yang nampak. Nilai intangible batik terletak pada filosofi, simbol-simbolnya, dan nilai-nilai Iuhur yang diteruskan secara turun temurun.
Salah satu bentuk warisan intangible adalah iman. Secara fisik iman tidak kelihatan tetapi pengaruhnya terlihat dalam sikap hidup. Iman sebagai warisan intangible dari Isai nampak dalam keyakinan Daud, bahwa Tuhan yang melepaskannya dari cakar Singa dan cakar beruang, akan melepaskan dia juga dari tangan orang Filistin. Pernyataan iman Daud membuat Saul menjadi percaya lalu memberi restu dengan berkata “pergilah Tuhan menyertai engkau”. Selain merestui, Saul juga membekali anak muda itu dengan baju perang miliknya. Daud menghargai niat baik sang raja. la mengenakan baju yang diberi serta mencoba berjalan. Narnun demikian, ia kemudian melepaskannya dan secara terbuka menyampaikan, bahwa dia merasa lebih nyaman menggunakan apa yang ada pada dirinya.
Iman Daud sebagai warisan intangible membuatnya berani menghadapi persoalan, memberikan ketenangan bagi sesama, menghargai pendapat orang lain. la pun berani berkata jujur, termasuk dalam hal menyatakan pendapat yang berbeda. Bagaimana dengan iman yang kita miliki?
KJ. 392 : 3
Doa : (Tuhan Yesus, sebelum beristirahat kami memohon ampun untuk semua bentuk kegagalan diri sebagai orang yang beriman kepada-Mu)
