MINGGU XXII SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 2 November 2020

Renungan Pagi

KJ. 25 : 1 – Berdoa

PERLUKAH CARA-CARA YANG TAK PANTAS

2 Samuel 12 : 1 – 13

“Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya?” (ay. 9a)

Seorang hakim agung terjerat dalam kasus korupsi. la tertangkap tangan melakukan tindakan korupsi. la langsung ditahan dan dipenjarakan. Sebelum itu, ia menjalani persidangan dan terbukti bersalah. Sebagai hakim, ia menggunakan kewenangannya untuk mendapatkan banyak uang. Hal ini merupakan cara yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Akibatnya, hakim ini mendapatkan hukuman.
 
Daud adalah seorang raja. Kebudayaan masyarakat saat itu memungkinkan seorang raja mempunyai istri yang banyak. Daud memiliki lebih dari satu istri. Dalam 1 Tawarikh 3 : 1 – 5, Daud memiliki tujuh istri. Selama Daud menjadi raja di Yehuda sampai Daud merebut Yerusalem, ia memiliki tujuh istri. Salah satu istri Daud adalah Batsyeba. Nabi Nathan memperingatkan Daud mengenai Batsyeba. Peringatan ini berhubungan dengan cara Daud untuk mendapatkan Batsyeba sebagai istrinya. Daud menggunakan cara yang tidak pantas yaitu membunuh Uria, suami Batsyeba.
 
GPIB adalah salah satu gereja yang berusia tua di Indonesia. GPIB memasuki usia 72 tahun. Berdasarkan pemetaan wilayah, GPIB mempunyai tanggung jawab dan panggilan yang besar GPIB terpanggil untuk melaksanakan pelayanan sesuai dengan cara yang berkenan bagi Tuhan. Tuhan adalah kepala gereja. GPIB dituntut untuk melaksanakan panggilan dengan setia dan tulus. Tujuannya adalah agar dunia mendapatkan buah-buah kesaksian yang baik untuk membangun kehidupan bersama di Indonesia. Persoalannya, pemetaan wilayah GPIB juga meliputi gereja-gereja lokal yang mempunyai sejarah sendiri. Untuk itu, GPIB perlu cara yang baik untuk meningkatkan pelayanan dalam wilayahnya masing-masing. Ini merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan dari GPIB menjawab panggilannya.

KJ. 25 : 2

Doa : (Tuhan Yesus, mohon ampuni kami atas semua tindakan terhadap sesama yang tidak berkenan kepada-Mu)

MINGGU XXII SESUDAH PENTAKOSTA
Senin, 2 November 2020

Renungan Malam

KJ. 454 : 1 – Berdoa

MEMANDANG KE DEPAN

2 Samuel 12 : 14 – 25

“Apakah artinya hal yang kauperbuat ini?” (ay. 21)

Jepang adalah contoh yang relevan untuk manusia yang bekerja keras. Masa lalu Jepang tidak begitu baik. Mereka bekerja keras untuk memperbaiki masa Ialu. Mereka tidak terperangkap dalam masa Ialu. Mereka tidak begitu lama terjebak dalam kesedihan. Mereka mempunyai keberanian untuk maju. Dasarnya adalah tekad yang kuat. Tekad yang kuat mengubah hal buruk di masa lalu menjadi indah di masa depan. Dengan kata Iain, manusia yang terjebak dengan meratapi masa lalu tidak akan melihat peluang di masa depan.
 
Daud menyadari bahwa hukuman Tuhan sudah final dan tidak dapat diubah. Namun demikian, Daud tetap bangkit dan menatap masa depan dengan pengharapan. Dasarnya adalah Daud tidak dapat membangkitkan anaknya dengan meratapi masa lalu. Bagi Daud, ia akan bertemu dengan anaknya. Itu merupakan pengharapan Daud. Sikap itu yang membuat Daud mampu bangkit dari perkabungannya dan pergi beribadah ke rumah Tuhan. Hukuman Tuhan memang nyata untuk Daud, tapi dia tidak kehilangan imannya. Iman yang percaya, bahwa Tuhan menerima setiap manusia dengan segala kekurangannya.
 
GPIB adalah gereja yang lahir dari badan penginjilan Belanda. ltu adalah bagian dari masa lalu GPIB. Masa lalu tidak boleh menghambat GPIB. GPIB harus bisa melihat peluang di masa depan. Apa yang GPIB mampu lakukan tidak boleh tertahan oleh masa lalu. GPIB adalah milik Tuhan. Artinya, GPIB adalah gereja Tuhan. Ini adalah dasar bagi keberadaan GPIB. GPIB harus menyongsong masa depan dengan pengharapan. Pengharapan bahwa GPIB mampu melakukan hal yang besar karena Tuhan yang memanggilnya. Panggilan itu tidak terarah pada masa lalu. Panggilan itu terarah ke masa depan yang lebih baik.

KJ. 454 : 2, 3

Doa : (Tuhan Yesus, mohon ajar kami tetap berharap ke depan hanya kepada-Mu saja dan bukan manusia)

Scroll to Top