MINGGU IV SESUDAH EPIFANI
Sabtu, 5 Februari 2022

Renungan Pagi

GB. 50 : 1 – Berdoa

YANG HILANG TIDAK DIABAIKAN

Lukas 15 : 11 – 24 

Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, la telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria (ay. 24) 

Semua orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Sayangnya, tidak semua anak memanfaatkannya dengan baik. Apa yang diceritakan dalam bacaan kita merupakan gambaran konkrit kasih Allah kepada manusia. Ada anak bungsu yang manja. la meminta bagian harta milik yang menjadi bagiannya kepada ayahnya. Sayangnya, ia tidak memanfaatkan dan mengelolanya dengan baik. Ia malah berfoya-foya, sehingga habislah hartanya. la menjadi melarat dan kelaparan. la bekerja sebagai penjaga babi, bahkan harus makan dari sisa makanan babi. TimbulIah penyesalannya. Ia mengingat, bahwa di rumah ayahnya ada banyak orang upahan dan berlimpah makanannya.

Lalu anak manja ini kembali ke rumah ayahnya bukan sebagai anak, tetapi sebagai orang upahan. Ketika sang ayah melihat kepulangan anaknya, dia tergerak oleh belas kasihan. Lalu ia merangkulnya dan menciumnya. Sang anak menyadari segala kesalahannya, mengakui keberdosaannya. Ayahnya memberi pengampunan dengan limpahnya serta perhatian yang luar biasa. Diberi jubah simbol kehormatan, dipakaikan cincin simbol kekuasaan/wewenang, dikenakan sepatu simbol status baru, bahwa anaknya tidak sama dengan orang upahan. Lalu sang ayah bersyukur dengan membuat pesta penyambutan bagi anaknya. Allah mengasihi semua anak-anak yang terhilang. Yang mau kembali kepada Bapa, tidak akan tidak diabaikan.

Jadi jangan sia-siakan segala kasih dan kebaikan Bapa di surga atas setiap kita. Tidak terbayangkan kalau kita menjauh dari-Nya, sebab pintu pengampunan-Nya selalu tersedia bagi setiap orang yang mau bertobat, yang mau kembali dalam tuntunan kasih-Nya, Sebab sesenang-senangnya di luar pasti berbeda bila ada di rumah sendiri. Sebebas bebasnya di luar sana, tetap lebih aman dan nyaman di tempat kita bersama orang tua yang mengasihi dan memperhatikan. Bapa yang Mahabaik itu menanti anak-anak yang terhilang untuk kembali kepada-Nya. Percayalah, yang hilang tidak diabaikan-Nya.

GB. 50 : 2

Doa : (Tolonglah kami mampu mengasihi mereka yang terhilang)

MINGGU IV SESUDAH EPIFANI
Sabtu, 5 Februari 2022

Renungan Malam

GB. 69 : 1 – Berdoa

PEMULIHAN YANG MENJADI BERKAT

Lukas 15 : 25 – 32 

Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali (ay. 32) 

Rupanya kepulangan adik bungsu tidak membuat anak sulung bahagia. la terusik dan marah, ketika mendengar, bahwa ayahnya menyambut kepulangan sang adik bungsu secara luar biasa. Anak sulung tidak mau masuk, malah memprotes ayahnya dengan segala kebaikan dan jasanya bertahun-tahun bersama ayahnya, tetapi tidak pernah dibuat pesta seperti itu (potong kambing serta makan bersama sahabat-sahabatnya). Sang ayah memberi pemahaman, bahwa selaku anak, si sulung selalu bersama dengannya. Segala kepunyaan sang ayah, adalah juga kepunyaan si sulung. Karena itu, mereka patut bersukacita dan bergembira, bila akhirnya Si bungsu telah kembali.

Allah Bapa yang penuh kasih, berlimpah pengampunan. lni berbeda dengan manusia yang sering memperhitungkan untung rugi, bahkan membatasi kasih Allah bagi dirinya sendiri. Sesungguhnya keselamatan yang Allah berikan adalah untuk pemulihan. Karena semua orang berdosa butuh pemulihan. Sambutlah pemulihan itu dan berikan kesempatan orang lain juga untuk menikmati kasih Allah.

Bukankah kita sering berlaku egois, seolah-olah kasih Allah hanya untuk diri sendiri maupun golongan dan kelompok tertentu. Padahal Allah Bapa yang penuh kasih dan pengampun itu memberikan peluang bagi siapa saja yang mau datang kembali kepada-Nya. Harusnya kita gelisah kalau ada saudara-saudara Yang tidak bersama-sama menerima rahmat dan kebaikan AIIah. Jangan juga kita memperhitungkan jasa-jasa kita pada Allah. Karena kalau seperti itu, maka kita tidak tulus.

Mari biarlah kita sadar, bahwa Allah dalam Yesus Kristus menghendaki terjadinya pemulihan yang menjadi berkat bagi siapapun. Sikap anak sulung, mewakili mereka yang mengangkap kasih AIIah tidak untuk orang Iain, tetapi hanya bagi mereka. Adalah sikap yang keliru dan aneh, kalau kita menghalangi berkat keselamatan yang Allah mau berikan bagi siapa saja.

GB. 69 : 2 

Doa : (Biarlah kami memiliki ketulusan hati melakukan kehendak-Mu)

Scroll to Top