HARI MINGGU IX SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 2 Agustus 2020
Renungan Pagi
GB. 107 : 1,2 – Berdoa
ALLAH BERTINDAK
Ulangan 9 : 1 – 3
Maka ketahuilah pada hari ini, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan didepanmu laksana api yang menghanguskan; Dia akan memusnahkan mereka … (ay. 3)
Kitab Ulangan, berisi kisah perpisahan Musa dengan orang-orang Israel yang sedang bersiap memasuki negeri perjanjian. Mayoritas mereka adalah generasi baru yang tidak mengalami secara Iangsung peristiwa keluarnya Israel dari Mesir. Sebelum memasuki negeri perjanjian, Musa menyampaikan ‘pidato perpisahannya’ dengan menceritakan tentang TUHAN yang telah melakukan banyak perkara besar dalam kehidupan dan perjalanan Israel : mulai dari Israel berada di Mesir, sampai tiba di dataran Moab. Musa mengarahkan agar orang-orang Israel berkenan membarui janji mereka kepada TUHAN. TUHAN dengan kasih-Nya tidak hanya hadir menyertai perjalanan Israel, tetapi Dia dengan kuasa-Nya bertindak melakukan berbagai perkara besar dalam sejarah umat-Nya baik di masa lalu, kini dan akan datang.
Musa berkata, ‘dengarlah, hai orang lsrael’. Kata dengar di sini menunjuk kepada sesuatu yang akan mereka alami. Israel akan memasuki kehidupan baru yaitu hidup di negeri yang dijanjikan. Kehidupan baru itu ditandai dengan menyeberangi sungai Yordan. Bukan sesuatu yang mudah untuk menyeberangi sungai Yordan namun semua menjadi mungkin karena TUHAN yang Mahakuasa berjalan bersama umat-Nya. Sebelum Israel tahu apa yang akan mereka alami, TUHAN melalui Musa berfirman bahwa Israel akan berhadapan dengan bangsa yang besar dan kuat yaitu orang-orang Enak (band. Bilangan 13:33). Tidak ada yang dapat bertahan melawan orang-orang Enak. Sekalipun demikian, Musa berdasarkan pengalaman imannya percaya betul bahwa TUHAN itu Mahakuasa dan setia pada janji-Nya. TUHAN yang berjalan di depan umat-Nya menjamin kehidupan umatNya dengan kemenangan. Sebesar apa pun kekuatan yang akan ‘menghalangi’ perjalanan dan kehidupan umat-Nya, maka akan berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dan kekal yaitu TUHAN Allah.
Firman Tuhan hari ini, mau mengingatkan Israel bahwa TUHAN yang berkenan berjalan bersama itu adalah TUHAN yang Mahakuasa yang setia pada janji-Nya. Karena itu Israel dan semua orang yang percaya dipanggil untuk hidup tetap setia kepada TUHAN. Kesetiaan itu kita wujudkan dengan kesediaan memberi diri dipimpin oleh-Nya dan percaya bahwa TUHAN yang telah berkarya di dalam Yesus Kristus itu adalah TUHAN yang senantiasa bertindak dalam sejarah untuk mewujudkan damai sejahtera-Nya.
GB. 107 : 3
Doa : (Kami bersyukur atas semua karya-Mu dalam hidup kami yang sempurna)
HARI MINGGU IX SESUDAH PENTAKOSTA
Minggu, 2 Agustus 2020
Renungan Malam
KJ. 16 : 1,2 – Berdoa
JANGAN SOMBONG TAPI BERSYUKURLAH
Ulangan 9 : 4 – 6
Karena jasa-jasakulah TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini … (ay. 4)
“Kalau bukan saya ……..”, pernyataan seperti ini seringkali kita dengar dalam berbagai kegiatan khususnya dalam konteks bergereja. Terlepas dari besarnya peranan seseorang dalam kegiatan tersebut, pertanyaannya adalah pantaskah pernyataan tersebut disampaikan?
Kepada orang-orang Israel dan juga kepada setiap orang yang senang membanggakan jasa-jasanya, Tuhan mengingatkan mereka. Tuhan tahu siapa Israel yaitu bangsa yang ‘tegar tengkuk’ (ay. 6; 13). Bangsa yang susah diatur dan seringkali melawan atau memberontak terhadap Tuhan. Karena itu sebelum memasuki negeri perjanjian, Tuhan dengan keras mengingatkan agar Israel jangan pernah membanggakan diri dengan berpikir bahwa keberhasilan memasuki dan menduduki negeri perjanjian karena jasa-jasa mereka sendiri. ltu bentuk kesombongan dan hidup yang mengingkari fakta kebenaran.
Hidup seperti itu rapuh dan pasti tidak ada ‘damai sejahtera’. Mereka dapat memasuki negeri perjanjian bukan karena jasa Israel tetapi karena (a) kefasikan (kejahatan) bangsa Kanaan (ay. 4c, 5); (b) janji Tuhan kepada nenek moyang mereka (ay. 5) dan (c) anugerah Allah (ay. 6). Jelas bahwa tanah perjanjian diberikan bukan sebagai wujud penghargaan atas kebenaran dan jasa-jasa Israel tetapi karena Allah setia pada janji-Nya dan karena anugerah-Nya.
Tuhan menghendaki semua yang percaya menyadari siapa diri mereka dan dengan penuh sukacita selalu hidup bersyukur serta mengasihi Tuhan. Kesombongan itu menyesatkan dan merusak. Sebaliknya damai sejahtera dialami bagi kita yang hidup bersyukur dan mengasihi-Nya dengan sepenuh hati.
KJ. 443 : 1,2
Doa : (Tuhan, kami ingin hidup bersyukur dan mengasihi-Mu senantiasa)
