MINGGU II SESUDAH EPIFANI
Kamis, 20 Januari 2022
Renungan Pagi
GB. 23 : 1 – Berdoa
HIDUP BERDAMAI DENGAN SESAMA
Matius 5 : 25 – 26
Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara (ay. 25)
Pada teks ini Tuhan Yesus memberi contoh tentang memelihara hubungan kasih dengan sesama. Tuhan Yesus menginginkan kita saling berdamai jika ada masalah. Saya mencoba menggambarkan perkataan Tuhan Yesus pada ayat 25 seperti ini: ada dua orang yang berperkara. Mereka sepakat pergi ke pengadilan untuk menyelesaikan perkara. Dalam perjalanan menuju pengadilan, tiba-tiba satu dari dua orang itu merasa bahwa perkara itu dapat diselesaikan dengan jalan damai. Akhirnya mereka saling mengakui kesalahan yang dibuatnya. Ketika keduanya menyadari kekeliruan mereka, maka mereka berdamai dan tidak ada dendam dihatinya.
Cerita itu menggambarkan hal yang sering kita jumpai seharihari. Ada sebagian orang mempunyai dan menyimpan perkara dalam hatinya. Penyebabnya antara Iain kata-kata yang tidak baik, fitnah, amarah, dan sebagainya. Contoh ayat 26 tentang hal berhutang dapat merusak hubungan kita dengan orang Iain. Itulah dosa. Dosa merusak hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Sem ua berawal dari dalam hati. Jadi jangan simpan yang tidak baik dalam hati kita.
Kasih adalah dasar pengajaran Yesus Kristus. Kita terlebih dulu menerima kasih Allah, maka kita akan meneruskan kasih kepada saudara kita. Kasih Allah menandakan kita telah dipulihkan dengan Allah. Hidup kita dipulihkan, kita diajar untuk merespon Kasih Allah itu. Kasih dan kebaikan Allah mengajarkan kita untuk mengisi hidup anugerahAllah ini dengan perbuatan baik, selalu mau mengampuni dan mengupayakan perdamaian. Semua itu adalah panggilan kita sebagai anak-anak Allah. Tanda-tanda kerajaan Allah dihadirkan di dunia ini dengan sikap hidup kita yang memuliakan nama Tuhan melalui tutur kata, tindakan dan pikiran. Roh Kudus memampukan kita menjadi pelaku atas Firman Allah.
GB. 284 : 1
Doa : (Tuhan Yesus, pagi ini kami mengucap syukur atas firman Allah yang mengingatkan kami untuk selalu hidup dalam kasih yang mengampuni, sehingga ada damai di hati kami)
MINGGU II SESUDAH EPIFANI
Kamis, 20 Januari 2022
Renungan Malam
KJ. 5 : 1 – Berdoa
HIDUP KUDUS DALAM PERKAWINAN
Matius 5 : 27 – 32
Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah (ay. 27)
Dalam teks ayat 27-32 Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk memahami teks bukan dari perbuatan zinah saja, tetapi lebih kepada hati. Maksudnya larangan itu tidak semata-mata melarang perbuatan zinah saja tetapi pada pandangan mata yang kotor, nafsu birahi terhadap perem puan yang bukan istri. Larangan “jangan berzinah” (band. Kel. 20:14) ditempatkan Tuhan Yesus dalam hubungan laki-Iaki dan perempuan dalam kehidupan rumah tangga. Bahwa nafsu birahi diperkenankan hanya bagi laki-Iaki dan perempuan yang telah dipersatukan Allah dalam ikatan perkawinan. Tuhan Yesus menghendaki agar setiap keluarga yang beriman menjaga kekudusan hidup perkawinan-nya. Jangan melakukan kecemaran dalam hati, dalam perilaku, dalam perkataan dan daIam pergaulan kita sehari-hari dengan sesama.
Hidup perkawinan kita adalah kehendak dan anugerah dari Tuhan. Tidak mudah memelihara anugerah itu karena kita diperhadapkan pada perjuangan untuk tetap setia dan mengasihi pasangan hidup dengan tidak melanggar perintah Tuhan. Dalam menjelaskan tentang “jangan berzinah” Tuhan Yesus menggunakan “masyaal” (Yunani = perumpamaan) sebagaimana tertulis pada ayat 29-30. Maksud perumpamaan Tuhan Yesus tersebut bukan berarti kita harus melukai diri kita, tetapi Tuhan Yesus menginginkan agar kita menolak dengan tegas segala sesuatu yang membuat diri kita sesat. Hindari perselingkuhan atau perzinahan karena perbuatan tersebut mengingkari kesetiaan dan janji perkawinan. lngatlah bahwa Allah menuntut diri kita dan perkawinan kita kudus dihadapan-Nya.
Hubungan kita dengan Kristus adalah rahasia perkawinan kita. Karena kasih dan kesetiaan kepada Kristus maka kesetiaan sam pai mati dalam perkawinan adalah mungkin terjadi. Karenanya senantiasa kita memohon Roh Kudus menuntun kita untuk tetap hidup dalam kekudusan diri dan perkawinan. Yesus Juruselamat kita dan hidup perkawinan kita.
KJ. 451 : 1,2
Doa : (Tuhan Yesus tolong kami memelihara anugerah pemberian-Mu dalam diri dan perkawinan kami ini dengan baik)
