SESUDAH RABU ABU
Jumat, 19 Februari 2021

Renungan Pagi

KJ. 395 : 1,3 – Berdoa

HIDUP YANG KEKAL

1 Yohanes 5 : 13 – 15

“… bahwa Kamu memiliki hidup yang kekal.” (ay. 13)

Beberapa kali rasul Yohanes menulis dalam suratnya tentang hal penting bagi umat binaannya agar percaya kepada Anak Allah, Dengan jalan demikian mereka mampu memahami manfaat hidup beriman kepada-Nya dan mengarah pada perbaikan hidup. Pada kesempatan ini Yohanes menulis kepada umat untuk menyatakan bahwa manfaat percaya kepada Anak Allah, yakni pencapaian hidup yang kekal (ay.13).

Bagi mereka yang percaya kepada Anak Allah, baginya disediakan hidup yang kekal. Karena itu umat Tuhan wajib memiliki keberanian dalam mempersiapkan hidup kekal di dalam kasih Anak Allah. Mereka tidak boleh kendor dalam doa, sebab doa merupakan tanda hubungan percaya dari umat Tuhan dalam waktu tidak berkesudahan. Hidupnya boleh berakhir singkat, karena berbagai kesulitan dan penderitaan, namun kematian lahiriah tidak mengakhiri kehidupan kekal yang dijanjikan.

Itulah sebabnya umat didorong untuk memahami doa dalam konteks hidup kekal. Mereka yang percaya kepada Allah Anak yang melakukan titah-titah-Nya dan menyediakan tempat yang tetap di sorga bagi mereka. Kondisi percaya demikian ini yang mewarnai kehidupan umat di dunia ini. Hidup di dunia sekarang ini dianggap sebagai persiapan memasuki hidup yang kekal, dan sebaliknya hidup yang kekal bersama Anak Allah. Sukacita itu menjiwai kehidupan selama berada didunia ini. Kita yang hidup dewasa ini ditengah-tengah ancaman covid-19 banyak yang menderita sakit, susah ditinggalkan kekasih keluarga, keprihatinan ekonomi sehari-hari dan lainnya. Namun hidup kekal yang disediakan Tuhan bagi umat-Nya yang percaya senantiasa memberi semua anak-anak-Nya sukacita dan damai sejahtera.

KJ. 395 : 5

Doa : (Tuhan, berikan kami keyakinan akan hidup kekal, dan mendorong kami ikut bertanggungjawab dalam hidup kini)

SESUDAH RABU ABU
Jumat, 19 Februari 2021

Renungan Malam

KJ. 26 : 1,2 – Berdoa

DOSA DAN DOA

1 Yohanes 5 : 16

“Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang …” (ay. 16)

Dalam sebuah komunitas seperti jemaat lokal, lazimnya perhatian terfokus pada pertemanan dalam lingkungan kelompok seperti kelompok kategorial (umur), fungsional (ketenagaan) dan profesional (para ahli). Dengan demikian biasa yang menonjol keluar adalah sifat-sifat konvensional dan patriarkat. Hasilnya berkembang makin terasa perbedaan dan kesenjangan antar generasi, kebiasaan dan kesenjangan yang makin terasa. Seringkali yang muncul terhadap perorangan, unit keluarga maupun kepada kelompok kategori, fungsional dan professional serta saling terhubung.

Untuk suatu jemaat yang jumlah anggotanya banyak, tentu perlu koordinasi dan penataan yang baik, agar keluarga dan perorangan yang ikut dalam pertumbuhan kelompok ini mampu melayani dan dilayani berimbang tanpa ada yang dikorbankan. Namun pengaturan jemaat besar maupun kecil tergantung daripada organisasi dan kelembagaan. Sementara itu komunitas yang bertujuan untuk memanfaatkan sumberdaya insani, justru akhir-akhir ini nampak memperkuat identitas kelompok yang birokrasi diatas unit-unit kecil yang lebih cepat sifat pencairannya dalam bertindak. Tentu saja disini dibutuhkan kecepatan bertindak pendukung sifat kekeluargaan, saling menghormati dan menghargai sebagaimana nampak dalam jemaat perdana yang kental dengan sifat saling hormat-menghormati dalam ibadah.

Yohanes mengutamakan pembenahan moral dan dalam kekeluargaan daripada masalah organisasi, apalagi yang bersifat birokratis. Maka pesan yang diteruskan kepada umatnya adalah: penting menghindari dosa. Agar kepada umat yang mulai tergoda berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut, yaitu dosa yang tidak disadari secara cepat mengalami perubahan kearah perbaikannya.

KJ. 26 : 3

Doa : (Kami mohon Tuhan menolong kami. Tunjukkan jalan-jalan-Mu yang mengantar kami melihat jalan-jalan-Mu yang patut kami jalani)

Scroll to Top