MINGGU II SESUDAH PENTAKOSTA
Kamis, 18 Juni 2020

Renungan Pagi

KJ. 318 : 1 – Berdoa

BAKTI KEPADA ORANG TUA

Kejadian 50 : 1 – 14

“Anak-anak Yakub melakukan kepadanya, seperti yang dlpesankannya kepada mereka.” (ay. 12)

   Orangtua adalah sosok yang sangat berjasa dalam hidup kita. Orangtua yang membesarkan, mengasuh dan mendidik sejak kecil. Karena itu tidak salah ungkapan yang menyatakan bahwa “Kasih orangtua sepanjang masa”. Orangtua tidak mengharapkan balas budi dari kita selaku anak-anaknya. Selaku anak, bagaimana kita menjaga hubungan baik dengan orangtua? Bagaimanapun juga tidak dapat disangkal bahwa kita memiliki status sebagai anak dari orangtua sendiri. Keberhasilan, kekayaan, jabatan dan kedudukan tidak melenyapkan status diri kita tersebut. Sudahkah yang terbaik diberikan untuk orangtua? 

   Yusuf sangat mengasihi Yakub, ayahnya. Hal ini terbukti ketika Yakub meninggal. Segala yang terbaik diberikan Yusuf bagi ayahnya. Namun demikian tindakan baik Yusuf tidak hanya pada saat Yakub meninggal. Yusuf sudah melakukan yang terbaik bagi Yakub saat masih hidup. Yusuf membawa Yakub untuk tinggal bersamanya di Mesir (Kej. 46) 

   Mengasihi orangtua merupakan hal penting bagi kita. Perintah Tuhan untuk mengasihi orangtua menjadi titah ke-Iima dari 10 Hukum Taurat. Bagi Amsal mendengar dan menerima didikan orangtua adalah jalan menuju hidup dalam menjalani kehidupan. Anak disebut berhasil, bukan karena banyak prestasi yang diraih. Anak yang berhasil adalah mereka yang mengabdi dan menghormati orangtua. Orangtua tidak akan melakukan yang buruk bagi anak-anaknya atau mencelakakan mereka. Pertanyaan yang harus direnungkan adalah apakah bakti seorang anak terhadap orangtua? Dalam konteks saat ini, penghormatan terhadap orangtua dirasa semakin menurun. Sikap dan perkataan seorang anak tidak menunjukkan karakter hormat kepada orangtua. Oleh karena itu, pagi ini mari kita menyapa dan menyatakan cinta kasih kepada orangtua. Bersyukurlah jika kita masih diberi waktu bersama orangtua. Marilah kita memberikan yang terbaik dalam hidup mereka. Tidak ada artinya jika bakti dinyatakan jika orangtua sudah tiada. 

KJ. 318 : 2

Doa : (Ya Tuhan, aku bersyukur atas orangtua yang telah mendidik, mengasuh dan membesarkan kami. Amin)

MINGGU II SESUDAH PENTAKOSTA
Kamis, 18 Juni 2020

Renungan Malam

GB. 47 : 1 – Berdoa

KASIH ANTAR SAUDARA

Kejadian 50 : 15 – 21

“Tetapi Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makananmu, dan makan anak-anakmu juga.”… (ay. 21) 

   Komunitas terdekat dalam hidup adalah keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama kali kita hadir, dibentuk, dicintai dan ditopang. Keluargalah yang menjadi penolong pertama jika kita mempunyai masaiah. Keluarga menjadikan kita hidup mandiri. Intinya, keluarga menjadi penting dalam kehidupan kita. Namun demikian, sangat disayangkan ada pribadi yang merasa tidak dicintai dan diterima oleh keluarga. Banyak penyebab hal ini terjadi. 

   Setelah kematian Yakub, para saudara Yusuf merasa takut dan kuatir. Mengapa? Mereka merasa bersalah atas perbuatan yang telah dilakukan terhadap Yusuf, “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”(ay.15). Mereka datang bersujud dan siap menerima segala konsekuensi atas tindakan yang dahulu dilakukan terhadap Yusuf. Mereka siap menjadi budak Yusuf. Namun Yusuf demikian, tidak seperti yang dibayangkan oleh saudara-saudaranya. Yusuf tidak mendendam dan. membalas perbuatan saudaranya. Yusuf menyakini bahwa Tuhan memakai dirinya untuk memelihara hidup bagi keluarga dan bangsanya (ay.20-21 ). 

   Sangat menarik atas sikap dan pemikiran Yusuf. Jika kita berada pada pihak Yusuf, pasti inilah kesempatan untuk membalas. Dengan kedudukan dan kekuasaan yang dimiliki, tidak mustahil bagi Yusuf untuk menghukum saudaranya. Berdamai dengan masa lalu yang pahit dan keyakinan bahwa Tuhan memakai dirinya untuk menyelamatkan keluarga dan bangsanya membentuk jiwa mengampuni untuk mengasihi dalam diri Yusuf. Jika mungkin kita mempunyai masa lalu yang tidak menyenangkan dalam keluarga, inilah saat tepat untuk belajar dari sikap Yusuf yang mengampuni untuk mengasihi anggota keluarga lainnya. Dengan mengampuni untuk mengasihi, rasa damai dan sukacita dalam keluarga pasti terjalin. Malam ini menjadi tekad agar esok kita menyatakan diri untuk menyelesaikan semua persoalan dalam keluarga, juga orang lain yang pernah dilukai dan melukai kita untuk saling mengampuni dan mengasihi.

GB. 47 : 2

Doa : (Bapa, syukur dan terimakasih atas saudara yang hadir dalam hidupku. Amin)

Scroll to Top